Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 17 Februari 2023 | 21.02 WIB

Di Sini Sapi Tak Perlu Tetenger, Cukup Dihafal Wajahnya

HIDUP BERDAMPINGAN: Indri, warga Lempuyang, mengecek sapi miliknya di Pantai Lempuyang, Dusun Merak, Situbondo (4/2). Merak yang berada dalam kawasan Taman Nasional Baluran sebagai kampung sapi. (ROBERTUS RISKY/JAWA POS) - Image

HIDUP BERDAMPINGAN: Indri, warga Lempuyang, mengecek sapi miliknya di Pantai Lempuyang, Dusun Merak, Situbondo (4/2). Merak yang berada dalam kawasan Taman Nasional Baluran sebagai kampung sapi. (ROBERTUS RISKY/JAWA POS)

Di Merak, Kampung Berisi Ratusan Kepala Keluarga nun di Dalam ’’Africa van Java’’


Di dalam kompleks Taman Nasional Baluran, warga Dusun Merak, Situbondo, tinggal dan menggantungkan hidup dari beternak sapi. Akses khusus ke Merak sudah mudah, tapi tidak dengan dua wilayah lain.

EKO HENDRI, Situbondo

---

’’HUS... hus.. Ayo lari. Lurus-lurus!’’ Teriakan Raminem itu menggema di sela-sela kesunyian Taman Nasional Baluran yang kawasannya terletak di perbatasan Situbondo-Banyuwangi, Jawa Timur.

Satu sapi yang digembalakan Raminem ndablek. Bukannya mengikuti rombongan, hewan berkulit putih itu justru lari berlawanan arah dan bersembunyi di balik hutan lebat seakan memancing kemarahan.

’’Kebetulan lagi giliran jaga, Mas. Susah jika ada yang hilang,” katanya kepada Jawa Pos yang mengikutinya pada Sabtu (4/2) dua pekan lalu itu.

Raminem satu di antara warga Dusun Merak, Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo.

Dusun tersebut berada di kawasan pantai di Taman Nasional (TN) Baluran.

TN Baluran dikenal luas sebagai ’’Africa van Java”. Julukan itu tersemat menyusul kondisi geografis dan flora-fauna yang ada di dalamnya. Banteng bisa dibilang maskot taman nasional yang awalnya ditetapkan sebagai hutan lindung pada 1930 tersebut.

Masuk wilayah Dusun Merak, ada pula Lempuyang yang lebih ’’terisolasi”. Keduanya terpisah jarak 7 kilometer. Satu lagi Sirondo yang jaraknya dari Lempuyang masih 3 kilometer lagi.

Pada Sabtu dua pekan lalu itu, Jawa Pos mendatangi tiga wilayah tersebut. Di Lempuyang, ada 22 rumah penghuninya. Sedangkan di Sirondo cuma terdapat tiga kediaman yang kebetulan ketika itu para penghuninya tengah ke hutan.

Dulu tidak ada akses roda empat ke Merak. Hanya kendaraan roda dua yang bisa keluar-masuk. Itu pun jalannya tak mudah dilewati.

Namun kini, situasinya berbeda. Pembangunan jalan masuk ke Kampung Merak yang melewati Taman Nasional Baluran sudah rampung. Akses itu diresmikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa pada awal tahun ini.

Kalau Baluran yang berstatus taman nasional sejak 6 Maret 1980 itu identik dengan banteng, Merak luas dikenal sebagai kampung sapi. Tercatat ada 3.500 ekor sapi yang hidup di dusun tersebut, berdampingan dengan 360 KK (kepala keluarga) yang menghuninya.

Sapi-sapi itu tidak dibuatkan kandang tertutup dan kokoh seperti lazimnya di desa-desa. Namun, ditempatkan dalam kandang yang berada di pinggir pantai.

Karena berdampingan dengan taman nasional dengan hutan yang luas, kejadian sapi hilang atau tersesat pun beberapa kali terjadi. Raminem juga pernah mengalaminya. ’’Ada sapi hilang di hutan seminggu. Saya dimarahi pemiliknya,” kenang Raminem.

Bersama empat penggembala lain, mereka angon sekitar 300 ekor ke hutan. Sapi-sapi tersebut berangkat pagi dan pulang sore hari.

Saat pergi dan pulang sapi inilah biasanya terjadi suasana menegangkan laksana film koboi. Tak semua hewan menurut dan langsung masuk kandang. Ada yang masih ingin bermain-main.

Warga Merak memang menerapkan sistem beternak secara tradisional. Sapi diumbar ke hutan dan dimasukkan kandang menjelang senja. Masyarakat secara bergantian ditugaskan jadi penggembala.

’’Sengaja tidak saya kasih tetenger. Tapi, saya hafal wajahnya,” kata Mohammad Nurul, peternak lainnya, saat diminta Jawa Pos menunjukkan sapi miliknya.

Nurul mengaku punya 40 ekor. Sebagian sapi itu merupakan titipan orang luar.

’’Yang susah saat PMK (penyakit mulut dan kuku) ramai beberapa waktu lalu. Kami nangis bareng,” tutur Nurul.

Merak, apalagi Lempuyang dan Sirondo, jauh dari pusat pemerintahan desa. Untuk memasukinya, pengunjung harus melalui Pos Waturumpuk, Dusun Karangtekok, yang berlokasi di pinggir TN Baluran.

Informasi yang didapat Jawa Pos, wilayah Dusun Merak sebelumnya merupakan tanah kosong. Yang mendirikan rumah di sana kebanyakan pendatang. Selain warga Desa Sumberwaru, ada pula warga asal Banyuwangi yang sengaja membuat rumah di pinggir pantai.

Secara pengelolaan, dusun tersebut berada dalam zona pemanfaatan wilayah TN Baluran yang memiliki luas 25 ribu hektare. Tapi, warga tak pernah diusir karena sudah lama menetap di sana.

Kalau akses ke Merak sudah lebih lancar, tak demikian halnya ke Lempuyang. Belum ada jalan memadai. Bahkan kalau hujan turun tak bisa dilewati.

Selama naik motor dari Merak ke Lempuyang, Jawa Pos hampir tiga kali terjatuh. Sebab, kontur tanahnya tak merata dan terkadang harus melewati batu-batu besar.

"Warga lebih sering naik perahu untuk keluar-masuk Lempuyang,” ungkap Kusnadi, sesepuh Lempuyang.

Pria 57 tahun itu menyebut warga Lempuyang –seperti juga warga Merak secara keseluruhan– menggantungkan hidup dari angon sapi. Jadi, bisa dibayangkan kepanikan yang mereka hadapi saat PMK mendera. ’’Saat itu belum ada vaksin,” kenang Nurul.

Sapi-sapi diberi obat pilek dengan dosis ditambah tiga kali lipat. Untuk meningkatkan kekebalan, Nurul dan warga lain membuat jamu tradisional dari bahan beras kencur dan kunyit.

Bahkan, ketika tak ada wabah sekalipun, meski berada dalam kompleks taman nasional yang terkenal, menjual sapi pun juga bukan perkara mudah. Terutama mereka yang tinggal di Lempuyang dan Sirondo.

"Kalau yang kecil, kami naikkan perahu kami bawa ke Ketapang, Banyuwangi,” kata Kusnadi.

Untuk sapi-sapi yang lebih besar otomatis harus dibawa dengan berjalan kaki berkilo-kilometer. Tapi, mereka sudah melakukan itu berpuluh-puluh tahun tanpa mengeluh. Seperti juga Raminem pada Sabtu siang dua pekan lalu itu. Toh, alam Baluran juga sudah banyak memberi mereka berkah.
Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore