
LEGENDA KULINER: Djuhariah alias Yu Djum semasa hidupnya (kiri) dan gudeg khasnya buatannya.
Gudeg Yu Djum menjadi salah satu kuliner yang paling dicari wisatawan ketika mereka datang di Jogja. Kelezatannya tidak terlepas dari resep sang empunya, Djuhariah. Legenda kuliner Jogja tersebut telah berpulang pada usia 85 tahun di Rumah Sakit Bethesda Jogjakarta pukul 18.00 Senin (14/11) karena kondisi kesehatan yang menurun.
--
MESKI terkenal dengan kelezatan masakannya, tidak banyak yang tahu bagaimana kehidupan sang empu gudeg Jogja Djuhariah di balik kesuksesannya selama ini. Nenek yang mempunyai 12 cucu dari empat orang anak tersebut menjual gudeg sejak berusia 17 tahun.
Kediamannya di CT 3 No 22, Karangasem, Mbarek, Caturtunggal, Sleman, menjadi tempat untuk memasak masakan berbahan baku nangka muda tersebut hingga saat ini.
Sebelum usahanya sesukses sekarang, Yu Djum berjualan dengan berjalan kaki dari rumahnya tersebut sampai Plengkung Wijilan, Jogja. Masakannya yang enak membuat dagangannya laris dan menerima banyak pesanan. Kegigihan dan kerja kerasnya membawa Yu Djum sukses membesarkan usaha gudegnya tersebut.
Menurut Tri Widodo, salah seorang menantu almarhumah, Yu Djum adalah sosok ibu yang tegas dan pekerja keras. Walaupun tubuhnya sudah renta dan tidak sekuat dulu, Yu Djum terus membantu aktivitas di dapur.
’’Ibu itu susah kalau disuruh istirahat. Katanya, badannya malah sakit kalau diam saja di rumah,’’ ungkapnya kemarin.
Dalam mendidik anak-anaknya, Yu Djum juga sangat tegas dan keras. Namun, ketika bersosialisasi dengan pembeli atau dengan warga sekitar, sosoknya terkenal sangat ramah dan penyayang. Kesuksesannya pun tidak membuat Yu Djum lupa diri dan hidup bermewah-mewah. Rumah yang ditempatinya hingga saat ini sangatlah sederhana.
Salah seorang tetangganya, Kusnanto, mengatakan bahwa Yu Djum sangat baik dengan tetangga sekitar. ’’Beliau sangat rendah hati, tidak sombong dengan apa yang dia miliki sekarang,’’ tuturnya.
Jauh sebelum meninggal, Yu Djum sudah mewariskan resep rahasia gudegnya kepada anak dan cucu. Termasuk rahasia memilih bahan baku yang berkualitas.
Anak dan cucu-cucunya juga membantu mengelola beberapa cabang Gudeg Yu Djum di Jogjakarta. Karena banyaknya pembeli dan pesanan di semua cabang rumah makannya, sehari mereka bisa memesan satu kuintal nangka muda (gori) yang akan dijadikan gudeg. Terlebih pada musim liburan, pasti persediaannya dua kali lipat daripada hari biasa.
Kepergian Yu Djum membuat sanak saudaranya sangat kehilangan. Kerja keras dan kegigihannya menjalani hidup serta membesarkan anak-anaknya akan tetap diingat oleh publik Jogja. (cr1/ila/c4/ami)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
