Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 30 Januari 2022 | 22.25 WIB

Merawat Simbol Sekaligus Mengabadikan Kenangan lewat Joglo dan Limasan

SPOT FOTO: Toni Prasetyo di depan fasad unik yang berhias puluhan jendela jadul. (MUHAMAD ALI/JAWA POS) - Image

SPOT FOTO: Toni Prasetyo di depan fasad unik yang berhias puluhan jendela jadul. (MUHAMAD ALI/JAWA POS)

Khusus untuk Hunian, Tukang Harus Terlibat dari Awal


Tinggal di rumah joglo yang terbuat dari kayu itu adem sekaligus praktis. Bosan dengan tata ruang, geser saja gebyoknya. Secara visual, rumah tradisional dengan kesan omah lawas juga selalu menarik. Klasik.

---

”SAYA dulu kalau bosen kamarnya di sini, bisa pindah. Kan tinggal geser gebyok (dinding kayu, Red),” ucap Aryo saat ditemui Jawa Pos di Bantul pada Rabu (19/1) pekan lalu. Kenangannya sebagai penghuni rumah joglo tak pernah lekang. Bahkan, dia lantas bertekad untuk menjadikan rumah tradisional sebagai huniannya kelak.

Pria 45 tahun itu mengatakan bahwa rumah joglo yang dulu ditinggali tidaklah luas. Rumah di sekitar UGM itu juga bukan milik keluarganya. Mereka hanya diminta tinggal di sana. Karena itu, Aryo selalu memimpikan rumah tradisional sebagai tempat tinggalnya bersama keluarga.

Kerja berpindah-pindah kota membuat bapak dua putri itu harus memendam dulu mimpinya. Tapi, ada saja yang selalu membuatnya mengingat kembali omah lawas. ”Saya sering ditugaskan ke Jogja saat kerja di Jakarta,” ungkapnya. Kolega yang dia temui di Kota Pelajar itu ndilalah kok ya tinggal di rumah tradisional.

”Saya percaya kalau memiliki rumah itu jodoh-jodohan,” kata suami Ery Martha tersebut. Karena bekerja di Jakarta, dia pun membeli rumah di pinggiran ibu kota. Namun, rumah impiannya tak bisa diwujudkan di sana. Selain terkendala luas tanah, biaya angkut rumah tradisional yang notabene dari kayu itu tak murah.

Photo

Salah satu sudut kafe Setasiyun Kawak menjelang petang. (MUHAMAD ALI/JAWA POS)

Rumah tradisional, menurut Aryo, butuh lahan yang luas. Sebab, joglo maupun limasan hanya terdiri atas pendapa, pringgitan, dan rumah bagian dalam. Tidak ada dapur dan kamar mandi dalam tatanan joglo atau limasan. Sebab, orang Jawa menganggap dapur dan kamar mandi sebagai pakiwan. Letaknya terpisah dari joglo atau limasan yang merupakan bangunan utama.

Aryo baru bisa merakit mimpi setelah mengusung keluarganya ke Jogja pada Juni 2019. Sebelumnya, dia dan Ery membeli lahan di kawasan Bantul. Mereka lantas membeli limasan sinoman dari Gunungkidul yang kemudian dimodifikasi dulu di workshop. Juni ini, rencananya, mereka mulai menempati rumah impian.

”Karena kami menginginkan bentuk yang berbeda dari rumah asli, limasan itu dipreteli di lokasi. Tiang-tiangnya diusung ke Bantul untuk dipasang di lahan kami yang sebelumnya sudah dibikinkan fondasi. Sementara itu, dinding-dinding kayunya dibawa ke workshop,” terang Ery tadi malam (29/1).

Banyak proses yang harus dilewati sampai rumah siap dihuni. Aryo menegaskan bahwa tukangnya pun harus khusus. Tukang itu harus melihat sebelum rumah dibongkar. Dihitung setiap kayunya, lalu ditandai. Tujuannya adalah tidak susah saat dipasang. ”Karena rata-rata tidak menggunakan paku. Setiap kayunya punya pasangan, maka harus pas susunannya,” terangnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore