
AKSES SULIT: Salah satu rumah yang masih tersisa di Dukuh Sumbulan, Desa Plalangan, Ponorogo. (PUGUH SUJATMIKO/JAWA POS)
Photo
AKSES SULIT: Masjid lawas yang masih terawat tempat warga mengaso setelah beraktivitas di sawah. (PUGUH SUJATMIKO/JAWA POS)
Setiap pagi, siang, dan sore saat cuaca cerah, Salamun selalu menyempatkan diri menengok Sumbulan. Aktivitas yang dilakoninya beragam. Mulai membersihkan rumah, salat di masjid, sampai mengunjungi makam keluarga.
”Kalau bukan saya, lalu siapa lagi yang akan merawatnya? Orang-orang juga tak peduli dan pergi begitu saja,” kata Salamun sedih.
Saat ini seluruh warga Dukuh Sumbulan memang telah berpencar. Sebagian bahkan sudah pergi ke luar kota.
Salamun bersama keluarga memilih untuk tetap tinggal di Desa Plalangan. Mereka membangun rumah di pekarangan yang aksesnya lebih mudah. Jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari Sumbulan.
”Kami (bekas warga Sumbulan) bertemu saat Idul Fitri. Silaturahmi dilakukan setahun sekali,” ungkap Khoirul Mutakin yang juga tercatat sebagai eks warga Sumbulan.
Seperti Salamun, sama sekali tak ada keinginan Mutakin untuk pindah jauh. Dia terpaksa tak lagi tinggal di Sumbulan karena tetangga dan keluarga kanan kiri juga telah hengkang. Tak mungkin dia dan keluarga hidup sendiri di sana.
Banyak bukti yang menunjukkan betapa dulu begitu berpengaruhnya lembaga pendidikan agama di Sumbulan. Tak sekadar berupa masjid lawas yang masih kukuh berdiri di tengah pedukuhan. Namun, ada juga sejumlah kitab kuno berbahasa Arab.
Salamun sempat memperlihatkan barang-barang lawas itu. Tulisan Arabnya sulit dimaknai. Huruf juga ditulis di kertas yang kondisinya sudah usang.
Keberadaan kitab itu yang dulu sempat menarik perhatian tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan untuk turun gunung. Mereka sempat melakukan penelitian. ”Saya tidak tahu kapan kitab dibuat. Namun, saya percaya buku itu berisi ajaran-ajaran Kiai Murtadho,” jelas bapak enam anak yang tercatat sebagai cucu sang kiai tersebut.
Menurut dia, kakeknya merupakan orang yang disegani. Banyak warga yang datang ke Sumbulan untuk belajar agama. Sebagian santri yang enggan berpindah lantas memutuskan untuk membangun rumah di sekitar pesantren.
Semua kini tinggal kenangan. Namun, kenangan itu pula yang terus mengikat orang-orang seperti Salamun dan Mutakin. ”Saya sudah pesan ke keluarga, kelak kalau meninggal, saya ingin dimakamkan di Sumbulan,” kata Salamun.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
