Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Januari 2022 | 22.35 WIB

Warganya yang Terpencar Kumpul Setahun Sekali saat Idul Fitri

AKSES SULIT: Salah satu rumah yang masih tersisa di Dukuh Sumbulan, Desa Plalangan, Ponorogo. (PUGUH SUJATMIKO/JAWA POS) - Image

AKSES SULIT: Salah satu rumah yang masih tersisa di Dukuh Sumbulan, Desa Plalangan, Ponorogo. (PUGUH SUJATMIKO/JAWA POS)

Sumbulan; Lahan Fertil, Pesantren yang Dulu Ramai, dan Kampung Mati Kini


Padi tumbuh subur, tapi sulitnya akses yang membuat mereka jauh dari layanan pendidikan, kesehatan, dan kependudukan memaksa satu per satu warga Sumbulan, Ponorogo, hengkang. Tersisa masjid lawas yang masih terawat.

EKO HENDRI SAIFUL, Ponorogo

---

SEJAK 2009, KTP tak lagi mencatat Salamun sebagai warga Sumbulan. Namun, dukuh di Desa Plalangan, Ponorogo, Jawa Timur, itu terus lekat dalam benaknya.

”Meski pindah, atiku sik pancet nang kono (hati saya masih di sana, Red),” kata pria 80 tahun tersebut kepada Jawa Pos.

Salamun dan keluarga termasuk rombongan terakhir yang meninggalkan Sumbulan.

Di Ponorogo, ironi menempel pada Sumbulan: tanahnya fertil (subur), tapi dikenal sebagai ”kampung mati”. Satu per satu warganya hengkang hingga kini tak bersisa lagi.

Berdasar cerita bekas warganya, kisah pedukuhan di desa yang berjarak sekitar 9 kilometer dari Ponorogo itu erat berkaitan dengan tokoh bernama Kiai Murtadho. Konon, ulama tersebut masih keturunan raja Demak. Semasa hidup, sesepuh Sumbulan itu sempat membangun pesantren yang terbuka bagi siapa saja.

Dulu ada lebih dari 30 rumah yang berdiri di Sumbulan, salah satu dukuh di Dusun Krajan. Suasananya ramai. Banyak hunian yang berdiri di sekitar masjid yang dipakai Kiai Murtadho untuk mengajarkan ilmu agama.

Namun, perlahan, jumlah rumah dan penghuni terus berkurang. Hingga akhirnya, hanya tersisa empat griya tanpa penghuni yang masih berdiri di Sumbulan.

Itu pun kondisinya rusak parah. Rumah-rumah yang terbuat dari bambu tak bisa lagi diperbaiki dan ditinggali. ”Rasane pengen nangis ndelok omah-omah iku (Rasanya ingin menangis melihat rumah-rumah itu),” ungkap Salamun.

*

Lalu, apa alasan yang mendasari warga Sumbulan untuk pergi? Mengajak Salamun, Jawa Pos berusaha menemukan jawaban dengan menelusurinya.

Perjalanan ke kampung mati tersebut memang tak mudah. Lokasinya jauh dari jalan desa yang masuk wilayah Kecamatan Jenangan itu. Dibutuhkan waktu sekitar sejam untuk mencapainya.

Akses yang dilalui juga sukar. Harus melewati pematang sawah yang ukurannya sempit dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Jalannya licin dan tak rata.

Selain itu, untuk sampai ke kampung mati tersebut, kita mesti menyeberangi sungai selebar 5 meter. Jembatannya masih terbuat dari bambu. Sewaktu-waktu jembatan bisa roboh karena usianya sudah uzur.

Tak bisa bersamaan. Harus satu-satu melewati jembatan sepanjang 30 meter. Pegangan harus kuat. Jika salah, bisa jatuh dan kehilangan nyawa.

”Dukuh Sumbulan memang terisolasi sungai. Akses sulit itu yang membuat warga tak kerasan,” ungkap Salamun.

Zaman bergerak, tuntutan kebutuhan hidup bertambah atau berubah. Sejak 2005, satu per satu warga Sumbulan pun akhirnya pindah. Keputusan tak gampang itu harus diambil dengan mempertimbangkan sulitnya akses ke sekolah bagi anak-anak, begitu jauhnya fasilitas kesehatan, dan harus susah payah menjangkau layanan administratif desa.

Sebenarnya ada tiga akses yang bisa ditempuh untuk sampai di permukiman Sumbulan. Namun, dari ketiganya, tak ada yang mudah. Tetap harus menyeberangi sungai dan melintasi jembatan bambu.

”Itu harapan warga yang tak pernah terwujud. Kami sudah telanjur kecewa,” ujar Salamun saat ditanya alasan pemerintah tak membangun jalan yang apik menuju Sumbulan.

Sumbulan berada di atas Bukit Plalangan. Luasnya sekitar 10 hektare. Sudah banyak bekas kehidupan yang menghilang. Yang mendominasi hanya pohon jati dan rerumputan.

Hanya satu bangunan yang masih terawat di tengah pedukuhan yang kini sunyi itu: masjid peninggalan Kiai Murtadho yang dulu dijadikan pesantren.

Di belakang masjid, ada makam yang menjadi tempat peristirahatan terakhir sang ulama dan keturunannya. Namun, hanya ada satu makam yang di nisannya tertera keterangan. Itu pun cuma secuplik angka tahun: 1940.

”Yang meninggal pada 1940 merupakan anak Kiai Murtadho, paman saya,” jelas Salamun, kakek 10 cucu.

Di masjid itu pula biasanya warga yang masih punya lahan garapan di Sumbulan mengaso pada siang hari. Padi tumbuh subur di lahan pedukuhan yang dikenal fertil tersebut.

Yang menumpang untuk membersihkan diri di kamar mandi masjid juga banyak. Pada siang hari, kehidupan memang masih berdenyut di kampung perbukitan tersebut.

Namun, begitu malam jatuh, Sumbulan sebenar-benarnya kampung mati. Seluruh kehidupan menghilang. Kalaupun ada yang masih datang, itu hanya mereka yang oleh warga sekitar disebut orang-orang yang mencari pesugihan. Sumbulan, kampung yang dulu dikenal berkat pesantrennya, kini seperti hanya menjadi jujukan wisata misteri.

*

Photo

AKSES SULIT: Masjid lawas yang masih terawat tempat warga mengaso setelah beraktivitas di sawah. (PUGUH SUJATMIKO/JAWA POS)

Setiap pagi, siang, dan sore saat cuaca cerah, Salamun selalu menyempatkan diri menengok Sumbulan. Aktivitas yang dilakoninya beragam. Mulai membersihkan rumah, salat di masjid, sampai mengunjungi makam keluarga.

”Kalau bukan saya, lalu siapa lagi yang akan merawatnya? Orang-orang juga tak peduli dan pergi begitu saja,” kata Salamun sedih.

Saat ini seluruh warga Dukuh Sumbulan memang telah berpencar. Sebagian bahkan sudah pergi ke luar kota.

Salamun bersama keluarga memilih untuk tetap tinggal di Desa Plalangan. Mereka membangun rumah di pekarangan yang aksesnya lebih mudah. Jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari Sumbulan.

”Kami (bekas warga Sumbulan) bertemu saat Idul Fitri. Silaturahmi dilakukan setahun sekali,” ungkap Khoirul Mutakin yang juga tercatat sebagai eks warga Sumbulan.

Seperti Salamun, sama sekali tak ada keinginan Mutakin untuk pindah jauh. Dia terpaksa tak lagi tinggal di Sumbulan karena tetangga dan keluarga kanan kiri juga telah hengkang. Tak mungkin dia dan keluarga hidup sendiri di sana.

Banyak bukti yang menunjukkan betapa dulu begitu berpengaruhnya lembaga pendidikan agama di Sumbulan. Tak sekadar berupa masjid lawas yang masih kukuh berdiri di tengah pedukuhan. Namun, ada juga sejumlah kitab kuno berbahasa Arab.

Salamun sempat memperlihatkan barang-barang lawas itu. Tulisan Arabnya sulit dimaknai. Huruf juga ditulis di kertas yang kondisinya sudah usang.

Keberadaan kitab itu yang dulu sempat menarik perhatian tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan untuk turun gunung. Mereka sempat melakukan penelitian. ”Saya tidak tahu kapan kitab dibuat. Namun, saya percaya buku itu berisi ajaran-ajaran Kiai Murtadho,” jelas bapak enam anak yang tercatat sebagai cucu sang kiai tersebut.

Menurut dia, kakeknya merupakan orang yang disegani. Banyak warga yang datang ke Sumbulan untuk belajar agama. Sebagian santri yang enggan berpindah lantas memutuskan untuk membangun rumah di sekitar pesantren.

Semua kini tinggal kenangan. Namun, kenangan itu pula yang terus mengikat orang-orang seperti Salamun dan Mutakin. ”Saya sudah pesan ke keluarga, kelak kalau meninggal, saya ingin dimakamkan di Sumbulan,” kata Salamun.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore