Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 November 2021 | 21.09 WIB

Kado Buku Sempat Bocor saat Mahfud MD Salah Kirim Tulisan

PERSEMBAHAN PARA SAHABAT: Butet Kartaredjasa, istri, dan putra-putri meniup lilin kue ulang tahun ke-60 saat peluncuran buku Urip Mung Mampir Ngguyu dan pameran lukisan Menawar Isyarat di Bale Banjar Sangkring, Bantul, tadi malam. (DIPTA WAHYU/JAWA POS) - Image

PERSEMBAHAN PARA SAHABAT: Butet Kartaredjasa, istri, dan putra-putri meniup lilin kue ulang tahun ke-60 saat peluncuran buku Urip Mung Mampir Ngguyu dan pameran lukisan Menawar Isyarat di Bale Banjar Sangkring, Bantul, tadi malam. (DIPTA WAHYU/JAWA POS)

Butet Kartaredjasa, Ulang Tahun Ke-60, dan Semangat untuk Bangkit dari Sakit


Butet Kartaredjasa mengaku mulai hidup sehat: tak lagi lek-lekan, berhenti ngopi, dan mengurangi menyantap daging. Para sahabat menghadiahinya buku setebal 700 halaman dan pameran lukisan.

FAHMI SAMASTUTI, Bantul

---

NOVEMBER ini, campur aduk kesedihan dan kelegaan dirasakan Galuh Paskamagma. Sang ayah, Butet Kartaredjasa, masih bertarung dengan gangguan kesehatan yang membuatnya tak berdaya selama paro kedua tahun ini.

”Tapi, bulan ini bapak mulai bisa berdiri, berjalan juga. Ini terjadi karena peran om, tante, keluarga besar yang selalu memberikan motivasi dan booster,” kata Galuh, anak ragil Butet, dalam peluncuran buku dan pembukaan pameran di ulang tahun ke-60 ayahnya di Jogjakarta tadi malam.

Butet, si raja monolog itu, pernah bergelut dengan diabetes. Jantungnya juga sudah dipasangi ring. Tapi, tak ada yang mampu menghentikan ”kendablekan”-nya.

Dia masih wara-wiri ke sana kemari, baik untuk alasan pekerjaan maupun jalan-jalan.

Juga menyantap berbagai makanan berbahan daging kambing kegemarannya.

Tapi, tidak di paro kedua tahun ini. ”Enam bulan saya nggak berdaya,” ungkapnya kepada Jawa Pos yang menemui di kediamannya di Bantul, Jogjakarta, Jumat (19/11) lalu.

Semua berawal pada Juni 2021. Sarafnya kejepit. ”Dari periksa, periksa, dokter bilang saya apes.”

Pentolan Teater Gandrik itu mengaku tak pernah jatuh atau mengalami cedera. Aktivitasnya pun terbatasi. Hanya bisa terbaring. Lalu, berada di kursi roda pascaoperasi.

Butet depresi berat. Obat yang dikonsumsi bertambah: antidepresan. Dua bulan Butet berubah gembeng. Tiap hari menangis. ”Ketemu Romo Sindhunata, biasanya saya bisa guyon, ini enggak bisa,” papar seniman yang tak hanya piawai berakting, tapi juga mumpuni dalam menulis, itu.

Setelah operasi dan menggunakan kursi roda, Butet mulai bangkit. Teman-temannya, baik dari kalangan seniman maupun mantan menteri, bergantian datang untuk tilik.

Saat Jawa Pos berkunjung akhir pekan lalu, jadwal ”kunjungan” padat. Jumat ada dramawan Nano Riantiarno dan Ratna, sang istri. Sabtu giliran sastrawan Putu Wijaya.

”Lalu, Gus Mus (KH Ahmad Mustofa Bisri) ikut nyambangi. Ini kehormatan. Seorang kiai, gus, tokoh agama, menyempatkan datang jauh dari Rembang ke rumah saya untuk menengok dan mendoakan,” lanjut Butet.

Butet sangat mengagumi Gus Mus. Pada Agustus 2019, dia turut mengisi perayaan ulang tahun kiai sekaligus penyair itu di Semarang, Jawa Tengah. Putra seniman Bagong Kussudiardja tersebut membawakan puisi favoritnya karya Gus Mus, Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat.

Dukungan dan sambang dari banyak sahabat itu membuat Butet bangkit. Perkembangannya begitu pesat. Dari menggunakan kursi roda ke walker.

Dan, pada November ini, dia mulai berdiri. Dan, dalam perayaan ulang tahunnya ke-60 tadi malam, Butet kembali menjadi Butet yang ceria dan jenaka.

Dia ”beradu” cepat dengan Kartika Affandi, perupa dan putri mendiang pelukis Affandi, menuju panggung menjelang acara. Dia pun berjoget, walau masih kaku, saat baru tiba di Bale Banjar Sangkring, Bantul, lokasi ”pesta” ulang tahun.

Pesta itu pun bukan Butet maupun keluarga yang menyiapkan. Semuanya disiapkan sahabat. Termasuk buku setebal 700-an halaman berjudul Urip Mung Mampir Ngguyu.

Memoar itu dikerjakan gotong royong dan serbamepet. Koordinatornya trio ”stres”: Agus Noor, Hairus Salim, serta Puthut EA (yang berhalangan hadir). Rencana itu sempat bocor. ”Pak Mahfud MD keliru ngirim tulisan ke WhatsApp saya. Ya saya bingung, opo iki,” kelakar Butet.

Pengerjaannya serbacepat. Agus Noor mengakui ada beberapa tulisan yang terpaksa tidak dimasukkan buku. ”Hampir semua tulisan memberikan sudut pandang yang unik. Energi ini saya serahkan ke Mas Butet.”

Hairus Salim menambahkan, ”padatnya” buku tersebut adalah bukti banyak yang sayang kepada Butet. Dia mengaku sempat skeptis bisa mewujudkan buku dalam waktu mepet. ”Uasuwok pokoke. Dari pengalaman saya, ini buku paling ajaib,” katanya.

Perupa pun ikut ”dikejar-kejar”. Karya lukisan dikerjakan cepat. Ada yang masih menambahkan sentuhan akhir di H-2 acara. Tapi, ada juga yang menyelesaikan ”tugas” hanya dalam hitungan hari.

Butet juga menyiapkan kado spesial buat dirinya sendiri di usia baru. Dia mulai hidup sehat. Beruntung, dokter tak memberlakukan pantangan makanan.

Kebiasaannya menyantap sate dan olahan daging dikurangi. ”Semua yang kaki empat, paling sekarang seminggu sekali,” lanjutnya.

Untuk pembatasan kopi, dia tak terlalu bermasalah. Sebab, tensi darah Butet langsung naik jika menyeruput kopi. Yang masih menjadi PR adalah mengurangi rokok. ”Itu sudah kebutuhan,” kelakarnya.

Semenjak sakit, Butet juga makin tertib. Jadwal hariannya teratur. Tidak lagi lek-lekan. ”Jam 10 malam saya sudah masuk kamar. Sore, jam 3, maksimal jam 4, saya tidur,” paparnya.

Kegiatan berkaryanya terpaksa mandek. Sebab, tubuhnya masih kaku untuk melukis. Untuk bermonolog pun, dia kurang nyaman karena tidak bisa bergerak leluasa. Yang dia lakukan mengobrol.

”Ngobrolnya apa saja. Kadang seminggu dua kali saya ngundang teman-teman seniman datang. Supaya otak saya tetap terasah,” lanjutnya.

Semua dilakukan di rumahnya di Kasihan, Bantul. Butet mengaku, selama sakit, ada rasa menyesal. ”Saya merasa enggak bisa membantu teman-teman. Saya biasanya ngalor ngidul, mencarikan mereka kerja, membantu sebisanya. Sekarang enggak bisa,” paparnya.

Selain sesal, Butet cukup khawatir dengan usia 60 tahun. Dia sempat menyebut, di kebudayaan Tiongkok, usia tersebut adalah umur yang dirayakan dan menandai babak baru dalam hidup. Tapi, bagi dia, angka itu wingit.

Apalagi dengan sakit yang dia lalui. Umur bak ”kilometer” kendaraan. Butet sering berpatok pada usia saudara atau kerabatnya yang lebih dulu berpulang.

Setiap ada orang terdekatnya yang berpulang, dia selalu meminta kepada Tuhan. ”Tuhan, kalau sampai usia sekian, saya berterima kasih sekali,” lanjutnya.

Dalam acara tadi malam, semua yang datang dan tak datang, berharap Butet lekas sembuh. Dalam puisi Kursi Mas Butet, Joko Pinurbo berharap ”roda” hidup Butet segera berputar ke atas. Tetap semangat agar lekas sehat dan kembali wara-wiri.

Jika aku nderek kersaning kursi roda, itu bukan karena mimpiku sudah kelar.

Melainkan karena percaya sabda roda bahwa hidup memang berputar.

Kursi roda mencintaiku lebih dari aku menyayangi setan dan sakitku.
Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore