
Bupati Sumenep Achmad Fauzi (JAWA POS RADAR MADURA)
BUPATI Sumenep Achmad Fauzi percaya bahwa pemuda adalah sumber perubahan. Dia mengajak para pemuda untuk terus berbuat bagi kemajuan dalam bidang apa pun. Tekuni dengan baik dan niatkan untuk mengabdi. ”Karena pemuda itu inovatif dan energik. Sekali diberi kesempatan, perubahan itu ada,” tegasnya.
Pria yang terpilih pada Pilkada Sumenep 9 Desember 2020 tersebut dinilai mendobrak mitos fanatisme terhadap kiai. Sebab, tiga periode sebelumnya, bupati Sumenep selalu berasal dari figur kiai. Fauzi yang lahir di Sumenep, 21 Mei 1979, mampu tampil berbeda. Dia muncul sebagai figur pemuda. Tidak ada trah dan garis keturunan kiai.
Semangat muda yang menggelora itu menjadi salah satu pijakan Fauzi untuk membuat perubahan yang lebih baik. Dia pun sudah merancang perubahan-perubahan dalam pelayanan publik bagi kabupaten di ujung timur Madura tersebut. Misalnya, pada 10 November mendatang, pengurusan dan pencetakan KTP, KK, dan lainnya akan bisa dilakukan di kecamatan masing-masing. ”Tidak perlu jauh-jauh ke Kota Sumenep. Cukup di kecamatan sudah bisa membuat KTP dan lainnya,” kata alumnus MAN 1 Sumenep itu.
Pihaknya juga akan meresmikan pengurusan kenaikan pangkat secara online. Guru yang akan mengurus kenaikan pangkat tidak perlu lagi ke kantor Dinas Pendidikan Sumenep. Cukup melalui aplikasi secara online. ”Semata-mata untuk mempermudah. Juga mengurangi biaya yang selama ini dikeluhkan masyarakat kepulauan,” tutur Fauzi.
Politikus PDI Perjuangan itu menyadari bahwa sampai sekarang disparitas antara wilayah daratan dan kepulauan masih ada. Sumenep memiliki 126 pulau kecil dan 48 di antaranya sudah berpenghuni. Punya pengalaman lima tahun menjadi wakil bupati di periode sebelumnya membuat Fauzi tahu betul prioritas pembangun infrastruktur di kabupaten yang memiliki 27 kecamatan, 328 desa, dan 4 kelurahan tersebut. ”Selain program yang lain, kami fokus ke pembangunan pelabuhan di beberapa kepulauan. Karena kami ingin tidak ada disparitas antara kepulauan dan daratan,” sebutnya.
Pelan-pelan pihaknya ingin disparitas antara kepulauan dan daratan tidak terlalu jomplang jauh. Di kepulauan mulai ada pembangunan bandara yang bisa melayani transportasi udara untuk masyarakat. Misalnya, sudah pernah ada rute penerbangan dari Sumenep ke Pulau Pangerungan, Kecamatan Sapeken, dengan pesawat berkapasitas sepuluh penumpang. Persoalan lain yang diselesaikan Fauzi adalah penataan wajah pusat kabupaten. Alun-Alun Sumenep jadi terlihat lebih asri. Para pedagang kaki lima dipindah ke area Bangkal sehingga alun-alun bersih dari PKL.
Fauzi ingin terus mengabdi dan mau belajar. Ketika dua modal tersebut sudah dipegang, dia yakin banyak jalan untuk mencapai tujuan. ”Saya harus memberikan sumbangsih untuk kampung halaman karena sebelumnya saya berkarier di Jakarta,” ujarnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
