Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 November 2018 | 02.47 WIB

Fahd Pahdepie, Inisiator dan Penggerak Revolusi Kedai Kopi

Fahd Pahdepie pencetus revolusi Kedai Kopi, Gerakan keliling Indonesia mengajak anak muda sadar politik di kafe diskusi kopi, Jakarta, Selasa (13/11). - Image

Fahd Pahdepie pencetus revolusi Kedai Kopi, Gerakan keliling Indonesia mengajak anak muda sadar politik di kafe diskusi kopi, Jakarta, Selasa (13/11).

Kedai kopi bisa menjadi ruang untuk menggali ide dan gagasan. Fahd Pahdepie berkeliling Indonesia untuk menggelorakan semangat itu melalui Revolusi Kedai Kopi (RKK).


KHAFIDLUL ULUM, Jakarta


---


FAHD sedang asyik berbicara di depan puluhan anak muda ketika pemilik kedai kopi menghampirinya. Fahd menghentikan kata-katanya sesaat. Orang itu membisikkan sesuatu. Rupanya sang pemilik kedai menyampaikan kehadiran dua aparat berseragam pre­man. Dua petugas tersebut ikut memantau diskusi yang digelar di salah satu kafe di Jalan Sidomakmur, Malang, 8 September lalu itu.


Hadirin hanya terdiam melihat Fahd berhenti berbicara. Suami Rizqi Fitriani Abidin tersebut tidak ambil pusing dengan kehadiran dua petugas itu. Dia pun melanjutkan aktivitasnya.


Sore yang cerah itu dia ditemani anak muda inspiratif Subhan Setowara, yang merupakan inisiator Gerakan Muslim Milenial.


Keduanya berbagi cerita, pengalaman, dan menularkan semangat kepada mereka yang bergabung dalam diskusi bertajuk "Milenial Menggagas Perubahan" tersebut. Fahd mengajak mereka percaya diri dengan ide, berani mengeksekusi karya, dan berjuang memberikan kebaikan kepada sebanyak-banyaknya orang.


Diskusi sore itu berlangsung gayeng. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan. Dua aparat tersebut mengawasi satu per satu peserta. Keduanya mengikuti kegiatan itu sampai selesai tanpa berbicara dengan panitia maupun narasumber.


Fahd lalu sibuk melayani foto bersama dan berbincang ringan dengan para peserta. Dia tidak sempat menyapa dua pria tersebut. "Mungkin karena ada kata revolusinya sehingga dianggap subversif," ujarnya saat ditemui Jawa Pos di sebuah kedai kopi di Jalan Halimun Raya, Guntur, Jakarta Selatan, pekan lalu.


Keesokan harinya, RKK menggelar diskusi di sebuah kedai di Jalan Pacar, Surabaya. Puluhan anak muda kembali meramaikan acara itu. Fahd berkolaborasi dengan Fuad Fahmi Hasan, direktur Yayasan Seribu Senyum. Ternyata, yang terjadi di Malang terulang di Surabaya. Aparat intelijen kembali memata-matai aktivitas yang diikuti kaum milenial tersebut. Aparat mungkin penasaran dan curiga dengan kata revolusi. "Waktu itu di Surabaya juga sedang ada insiden politik," terang pria kelahiran Cianjur, Jawa Barat, itu. Saat itu ada pembubaran massa yang dilakukan kelompok lain. Suasana politik di Kota Pahlawan tersebut cukup hangat.


Selain diawasi intel, ternyata ada peserta yang salah paham. Misalnya yang terjadi ketika diskusi digelar di Jogjakarta Juli lalu. Ada seorang peserta dari Lampung. Dia datang hanya untuk mengikuti acara itu. Ternyata kegiatan tersebut tidak sama dengan yang dia pikirkan. Dia mengira acara itu adalah pelatihan barista. Walaupun demikian, dia tetap mengikuti diskusi sampai selesai. "Dia tidak menyesal, malah merasa dapat pencerahan," ungkap Fahd.


Alumnus Monash University, Australia, tersebut menjelaskan, RKK bukan gerakan atau organisasi, melainkan sebuah platform diskusi anak muda. Kegiatan itu bermula dari hobi nongkrong di warung kopi sambil berdiskusi. Setiap kali diundang mengisi acara talk show atau seminar, Fahd selalu mampir ke kedai kopi. Biasanya ada beberapa kawan dan fansnya yang datang menemaninya ngopi. Sebagai penulis terkenal, cukup banyak anak muda yang mengenalnya, bahkan menjadi follower-nya.


Diskusi dengan peserta cukup banyak berlangsung kali pertama di Padang pada 2017. Kala itu Fahd baru selesai mengisi acara talk show. Dia lantas mampir ke salah satu kedai terkenal di kota tersebut. Awalnya hanya mengobrol biasa, ternyata yang datang cukup banyak. "Ada 30 orang yang datang."


Melihat antusiasme anak muda mengikuti diskusi, Fahd lantas menggelar kegiatan itu setiap kali mengisi seminar dan pelatihan di daerah. Acara diskusi terus berlanjut di kota-kota yang dia kunjungi. Saat itu diskusi tersebut belum punya nama. Baru setelah diadakan delapan kali, nama RKK mulai dikenalkan.


Nama itu diperkenalkan saat diskusi di Tasikmalaya. Menurut Fahd, tidak ada nama atau kata lain yang bisa menggambarkan semangat anak muda yang ingin melakukan perubahan secara cepat kecuali revolusi. Karena acara itu selalu digelar di kedai, kedai kopi pun digunakan sebagai mana.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore