
TEMPAT RELOKASI: Foto udara bangunan rumah warga di Dusun Buah Lega, Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka, Jawa barat. Di dusun itu ratusan warga Tarikolot sekarang bermukim. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Tarikolot tak lantas menjadi dusun mati meski ratusan penduduknya dipindahkan akibat tanah gerak yang terjadi tiap hari.
SAHRUL YUNIZAR, Majalengka, Jawa Pos
---
”ALARM” tanda bahaya sudah menyala beberapa kilometer sebelum memasuki Tarikolot. Hampir setiap 500 meter ada papan bertulis: Daerah Rawan Longsor.
Selain itu, papan petunjuk jalur evakuasi tersebar di mana-mana. ”Dari sini masih 3–4 kilo lagi (ke Tarikolot),” kata seorang warga saat Jawa Pos bertanya di pinggir jalan.
Padahal, tepat di seberang jalan itu tampak gapura usang, nyaris runtuh, lantaran bangunan-bangunan di atasnya merosot. Sempat berpikir di situlah letak Tarikolot, ternyata itu hanya sebagian potret daerah rawan bencana di Desa Sidamukti. Sementara itu, Tarikolot, salah satu dusun di Sidamukti, masih jauh di atas. Warga sekitar menyebut dusun yang masuk wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, tersebut ”dusun viral”.
Photo
SISA-SISA: Bangunan rumah yang ditinggalkan warga Dusun Tarikolot, Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Itu membuat warga di sekitarnya langsung mengerti maksud dan tujuan orang-orang yang datang dengan menggunakan kendaraan bernomor pelat asing. ”Mau ke dusun viral ya, harus lapor Pak Kades dulu,” timpal warga lainnya.
Dari Alun-Alun Majalengka, dibutuhkan waktu 45–60 menit untuk sampai ke dusun yang ramai-ramai ditinggal penduduknya akibat bencana tanah goyang itu. Sesuai dengan saran, Jawa Pos memilih untuk menggunakan sepeda motor disambung jalan kaki. Sebab, jalurnya sudah rusak parah. Hancur. Retak-retak karena tanah bergerak. Sulit dilalui mobil.
Kalau ada yang menyebutnya ”dusun mati”, jelas tidak tepat. Tarikolot masih ditinggali beberapa orang. Disebut kosong juga kurang tepat. Sebab, masih ada yang datang ke sana. Untuk bertani, berkebun, atau menengok rumah seperti Saudi, salah seorang warga Tarikolot. ”Masih ada kok yang nempatin rumah (di sini),” kata Udi, sapaan akrabnya.
Dusun itu lebih tepat disebut sepi. Sangat sepi. Sepanjang jalan memasuki dusun tersebut hanya ada satu–dua orang yang tampak.
Pada Sabtu tiga pekan lalu (13/2), tampak dua orang sedang menjemur padi. Satu lainnya menggali tanah untuk menanam singkong. Sisanya rumah kosong.
Yang temboknya sudah hancur. Atapnya bolong di sana sini. Terasnya juga berantakan. Di salah satu rumah potret aktor dan pembawa acara Indra Bruggman serta penyanyi Nike Ardilla tersenyum manis ”menyapa” siapa saja yang datang.
Persis di bawahnya, deretan tanggal dan bulan berjejer. Tahunnya: 1994. Di sudut rumah, bohlam berpendar menandakan listrik masih mengaliri dusun itu.
Photo
SISA-SISA: Bangunan rumah yang ditinggalkan warga Dusun Tarikolot, Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Udi menyebut listrik dan air memang masih bisa dimanfaatkan warga. Dia bahkan sempat menunjukkan televisi di rumahnya masih menyala. ”Kalau kemalaman (dari kebun), ya tidur di sini,” ujarnya.
Dia tidak takut sama sekali. Hanya sedikit merasa lucu kalau tengah malam tiba-tiba ada yang terdengar melangkah tergesa-gesa. ”Ehhh bawa kamera rame-rame syuting uka-uka (mistis),” ungkapnya, lantas terkekeh.
Warga di sana, kata dia, maklum kalau banyak yang datang demi konten. Sebab, itu ladang uang mereka.
Meski demikian, dia menilai akan lebih baik bila yang digali dari dusun yang pernah lama ditinggali itu adalah sisi-sisi positifnya. Bukan malah mengabarkan sebaliknya.
Kepala Desa Sidamukti Karwan juga sempat meradang saat Dusun Tarikolot ramai disebut dusun mati. Penyebabnya jelas, masih ada kehidupan di sana.
Nenek Ma Yin salah satunya. ”Eni mah geus kolot. Jauh teuing mun pindah (Nenek ini sudah tua. Kalau pindah terlalu jauh),” tuturnya.
Ma Yin menyampaikan itu saat berbincang santai dengan Jawa Pos di teras musala. Ya, Dusun Tarikolot masih punya musala. Yang tegak berdiri. Masih aktif mengumandangkan azan. Seperti warga Dusun Tarikolot lainnya, Ma Yin juga mendapat jatah rumah berukuran 120 meter persegi di Dusun Buah Lega.
Dusun itu merupakan dusun yang dipilih Pemerintah Daerah Majalengka untuk mengungsikan 253 kepala keluarga dari Dusun Tarikolot. Hanya, Ma Yin memilih tetap tinggal di Dusun Tarikolot. Dia tidak ingin bolak-balik setiap hari dari Dusun Buah Lega untuk bercocok tanam di kebunnya.
Rata-rata warga Dusun Tarikolot yang kini tinggal di Dusun Buah Lega memang petani. Sebagian besar petani mangga. Lainnya serabutan. Misalnya, Edi Sutendi. Warga berusia 55 tahun itu tinggal di Dusun Tarikolot sejak ’80-an. Dulu, kata dia, dusun itu aman-aman saja.
Bencana terjadi sekitar 2006. ”Tanehna oyag (Tanahnya bergerak),” kisahnya.
Beruntung tidak ada korban jiwa. Hanya beberapa rumah yang terdampak. Pergerakan tanah di dusun itu memang tidak kencang. Tidak pula deras seperti kebanyakan tanah longsor. Namun, nyaris setiap hari ada pergerakan tanah. Bahkan, saat Jawa Pos ngobrol dengan Edi, terjadi tanah bergerak. Sretttttt, bunyinya terdengar dari kejauhan. ”Tuh tuh, tanehnya turun (Itu tanahnya turun),” sambarnya.
Edi pun menunjukkan pergerakan tanah di Dusun Tarikolot. Tanah bercampur lumpur. Dia menyebut pergerakan tanah biasa terjadi setelah hujan.
Karena itu, warga tidak pernah takut saat hujan turun. Yang mereka khawatirkan adalah kejadian setelah hujan reda. Karena itu, Edi bersyukur pemerintah setempat cepat mencarikan lahan baru untuk dijadikan permukiman. Bahkan, mereka dibuatkan rumah. Satu kepala keluarga mendapat satu rumah.
Serupa dengan Udi, Edi pun memilih pindah ke Dusun Buah Lega. Namun, belum total meninggalkan rumahnya di Dusun Tarikolot.
Pasca pergeseran tanah 2006 lalu, pemerintah mulai mencari cara untuk mengungsikan warga dari dusun tersebut. Sebab, dari berbagai kajian, dusun itu disebut rawan bencana. Memang belum pernah terjadi longsor besar yang memakan korban jiwa. Namun, pergerakan tanah yang nyaris setiap hari jelas patut diwaspadai. Daya rusaknya sudah kentara. Rumah-rumah warga pelan-pelan ditelan. Jalan beraspal porak-poranda. Padahal, kata Edi, belum lama diperbaiki.
Dari fisik aspal jalan di Dusun Tarikolot yang masih mulus, memang kelihatan jalan itu belum lama diperbaiki. Namun, retak di sana sini, dengan garis-garis besar menganga, membuat jalan tersebut tidak bisa dilewati kendaraan.
Tak hanya retak, pergerakan tanah di sana juga membuat jalanan itu bergelombang tinggi sehingga hanya bisa digunakan pejalan kaki. Kalaupun ada sepeda motor lewat, hanya warga setempat yang berani.
Karwan menyebutkan bahwa pemerintah memilih Dusun Buah Lega sebagai tempat relokasi warga Dusun Tarikolot lantaran sudah mendapat jaminan bahwa dusun itu aman. Bukan daerah rawan seperti Dusun Tarikolot.
Di dusun itu kini berdiri 253 rumah berikut fasilitas umum seperti masjid dan balai kesehatan. Dari Tarikolot, dibutuhkan waktu 20–30 menit untuk sampai Buah Lega.
Karena rumah-rumah di sana dibangun serupa, Dusun Buah Lega lebih mirip perumahan. Tidak seperti dusun kebanyakan. Di sana lebih dari 500 warga dari Dusun Tarikolot tinggal. ”Pembangunan rumah mulai 2010, 2011 selesai, warga pindahan semua,” jelas Karwan.
Dia berani menyatakan semua pindah karena memang seluruh kepala keluarga sudah mendapat rumah. ”Dari 180 rumah di tempat lama (Dusun Tarikolot) jadi 253 rumah di Buah Lega,” imbuhnya.
Baca juga: Waspada 12 Jalur Rawan Longsor Selama Liburan di Kabupaten Malang
Perkara masih ada beberapa orang yang memilih bertahan, Karwan menyebutkan, yang penting mereka sudah mendapat jatah rumah. Dengan begitu, kapan pun ingin pindah sudah ada tempat.
Kalaupun sewaktu-waktu terjadi bencana yang tidak diharapkan di Dusun Tarikolot, evakuasi bisa lebih cepat lantaran warga yang bertahan di sana juga tinggal hitungan jari. Apalagi, alarm peringatan sudah tersedia beberapa kilometer dari sana.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=Sr82RIyJ9Xk

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
