Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 22 November 2018 | 20.08 WIB

Kiprah Narman, Pria Badui di Antara Dua Sisi: Adat dan Modernitas

TEROBOSAN: Narman menata berbagai hasil kerajinan tangan di rumahnya di Kampung Merango, Lebak (12/11). - Image

TEROBOSAN: Narman menata berbagai hasil kerajinan tangan di rumahnya di Kampung Merango, Lebak (12/11).

Berkenalan dengan internet saat menemani sang ayah berdagang, jualan online Narman berupa kerajinan tangan Baduy kini bisa ditemui di berbagai marketplace. Dia juga mengajari membaca anak-anak di kampungnya.


ANISATUL UMAH, Lebak


---


SARAN itu sungguh membuat Narman gamang. Antara tertarik dan khawatir. Tak ubahnya menghitung bunyi tokek: boleh, tidak, boleh, tidak... "Ada pembeli yang menyarankan saya berjualan secara online ketika itu," kata pria 28 tahun tersebut.


Itu terjadi saat Narman berjualan berbagai hasil kerajinan tangan di Festival Kampung Baduy. Yang diadakan Pemerintah Provinsi Banten di Lebak. Dia khawatir bukan karena tak mengenal internet.


Sejak 2009 dia sudah belajar membuat surel, berselancar, dan membuat akun media sosial. Yang diawali "pertemuan" tak sengaja dengan sebuah warnet di Rangkasbitung, 50 kilometer dari kampungnya. Kala menemani ayahnya kulakan barang kebutuhan sehari-hari.


Yang memicu kekhawatirannya adalah penolakan dari pemuka adat Baduy. Narman memang lahir dan besar di Kampung Baduy Luar, Lebak. Dengan segala keketatan aturan adat dan tradisi.


Namun, ketertarikan akhirnya mengalahkan kekhawatiran. Dia pun belajar cara menjual produk secara online.


Setelah menguasai seluk-beluknya, dengan merek Baduy Craft, Narman pun akhirnya mulai berjualan di media sosial. Kemudian membuat website sendiri, www.baduycraft.com.


Produk Baduy Craft pun kini bisa dijumpai di berbagai marketplace seperti Shopee, Bukalapak, Lazada, hingga Blanja.com. Produknya juga beragam. Mulai kain tenun, syal tenun, tas koja, tas jarog, tas kepek, gelang handam, gelang teureup, hingga cangkir bambu. "Dengan online ini, misi saya hanya satu, memajukan ekonomi warga Baduy," katanya.


Tentu dengan segala kendala dan tantangan yang tak mudah...


***


Berjualan adalah pilihan paling cocok bagi warga Baduy saat ini untuk menambah penghasilan. Sebab, jumlah lahan untuk bercocok tanam makin sempit karena populasi masyarakat yang juga terus meningkat.


Kebetulan, hasil kerajinan tangan warga Baduy sangat terkenal. Persoalannya adalah cara memasarkannya. Kalau mau jemput bola, ke Jakarta yang berjarak 130 kilometer, misalnya, harus ditempuh dalam empat hari. Dengan berjalan kaki.


"Biasanya singgah di beberapa tempat dulu untuk istirahat dan jualan," ungkap Narman saat ditemui Jawa Pos di Kampung Baduy Luar pada Senin pekan lalu (12/11). Pilihan lain, menunggu kedatangan wisatawan. Tapi, tentu tak tiap hari ada yang berkunjung.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore