Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 Desember 2020 | 22.30 WIB

Mengatasi Duka Akibat Kehilangan karena Bunuh Diri lewat Seni

Lukisan karya Dinihari Suprapto. Ketika membuat lukisan ini, dia sedang mengalami gangguan psikologis. (DOKUMENTASI INTO THE LIGHT) - Image

Lukisan karya Dinihari Suprapto. Ketika membuat lukisan ini, dia sedang mengalami gangguan psikologis. (DOKUMENTASI INTO THE LIGHT)

Puluhan karya dipamerkan secara virtual yang menggambarkan upaya mereka yang ditinggal orang-orang terkasih keluar dari kesedihan. Indonesia membutuhkan sistem registrasi kesehatan yang memuat data kematian akibat bunuh diri serta layanan konsultasi psikologis terkait.

SHABRINA PARAMACITRA, Surabaya, Jawa Pos

---

NOVEMBER 2016. Kenyataan itu menyambar kehidupan Mrs X bagaikan petir. Bising. Mengagetkan. Setrumnya begitu menyakitkan. Suami Mrs X ’’pergi’’ selama-lamanya karena tak ingin lagi menjalani hidup.

Mrs X kalut, tak tahu harus apa. Bagaimana dia menjawab ketika putrinya bertanya kepadanya, ’’mengapa?’’

Bagaimana dia menyelesaikan proyek naskah drama musikal ketika dirinya sendiri membutuhkan arahan sang suami untuk menulis? Bagaimana putrinya akan menikah tanpa dampingan ayahnya di altar nanti? Bagaimana menjawab pertanyaan dari keluarga dan rekan-rekannya sesama direksi di tempatnya bekerja? Bagaimana dia akan menjalani hidup dengan penyakit kanker tanpa suami di sampingnya? Bagaimana... bagaimana... bagaimana...

Saya memaafkan kamu karena telah meninggalkan saya dengan cara seperti itu.

Saya memaafkan kamu karena telah membuat saya merasa sangat bersalah.

Saya memaafkan kamu karena telah membuat hidup saya jadi berubah total.

Kalimat-kalimat tersebut adalah sepenggal dari tulisan Mrs X di situs intothelightid.org. Dalam situs itu, dia memaparkan curahan hatinya yang berjudul I Forgive You.

Tulisan itu terinspirasi dari lagu By the Way, I Forgive You milik Brandi Carlile. Lewat tulisan, dia berusaha menerima kenyataan dan memaafkan sang suami serta dirinya sendiri. ’’Kata Yesus, ’kalau kamu memaafkan, kamu akan dimaafkan’. Lubang di hati saya ini memang tidak hilang. Tapi, dengan memaafkan, lubang itu akan mengecil,’’ ujar Mrs X yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada Jawa Pos akhir pekan lalu (29/11).

Dengan menulis, Mrs X merasa lebih lega. Terkadang dia menuangkan tulisannya di akun Facebook-nya. Dari situ, dia bisa membagikan kenangan dan pelajaran hidup.

Dia juga bisa menuliskan kebaikan-kebaikan mendiang suami yang telah menikahinya selama 24 tahun. Di mata Mrs X, suaminya yang kerap memublikasikan cerita pendek (cerpen) di koran itu memang sosok yang baik. Karena itu, dia tak akan berhenti mengenangnya. Sepuluh, seratus, atau seribu tahun lagi.

Tulisan I Forgive You milik Mrs X adalah satu di antara 36 karya yang dipamerkan komunitas Into The Light secara virtual. Sejak 21 November hingga 5 Desember hari ini, komunitas yang berfokus pada edukasi pencegahan bunuh diri itu menggelar pameran seni virtual bertajuk Air Mata Kehilangan, Menjadi Seni yang Kulukiskan.

Dalam pameran yang kurasinya juga dilakukan secara virtual itu, ada beragam karya yang ’’dipajang’’. Di antaranya, tulisan curahan hati, puisi, lukisan, video, dan musik.

Karya-karya tersebut lahir dari ide-ide kreatif mereka yang ditinggal ’’pergi’’ oleh orang-orang terkasih. Setiap tahun pada minggu ketiga November, para penyintas itu memperingati Hari Penyintas Kehilangan Bunuh Diri Internasional.

Karya lain yang dipamerkan dalam galeri seni virtual itu adalah lukisan bertema It’s Psychosis O’clock. Lukisan tersebut mengguanakan medium cat akrilik pada kanvas ukuran 1 x 1,2 meter. Lukisan-lukisan tersebut memanfaatkan warna-warna terang yang cukup dominan dengan goresan gambar dan karakter imajiner yang cukup detail.

’’Lukisan ini menceritakan momen tatkala saya berteduh dari kejaran aneka trauma,’’ ungkap Dinihari Suprapto, sang empu lukisan.

Perempuan tersebut bukan hanya penyintas kehilangan bunuh diri, melainkan juga penyintas gangguan mental bipolar disorder. Pengalaman ditinggal bunuh diri oleh temannya sesama penyintas bipolar disorder pada 2016 menjadi kejadian yang begitu berat bagi Dini.

Saat meninggal, kawan Dini itu menempuh S-1 pendidikan dokter. Dia ingin menjadi psikiater, setidaknya untuk menolong dirinya sendiri melewati kondisi mania dan depresi yang kerap naik turun.

Setiap kali berjumpa, aku Dini, kawannya itu tampak sebagai sosok yang asyik. Tak terpikirkan sama sekali oleh Dini bahwa temannya itu sedang menghadapi psikosis hebat yang akhirnya menggiringnya melakukan aksi bunuh diri pada usia muda. ’’Dia jago sekali seni potong kertas. Ceria. Ramah,’’ ungkap Dini.

Dari sang kawan, perempuan 30 tahun itu belajar cara berkamuflase ketika menghadapi kondisi yang tidak stabil. Bising suara, misalnya, kerap terdengar begitu intens saat Dini mengalami gejala psikosis.

Cara terbaik untuk berteduh dari kondisi itu adalah menuangkannya dalam seni. Melukis menjadi aksi eskapis Dini dari kesedihan akibat ditinggal sahabat tercinta.

’’Dan, ketika menggarap lukisan ini, saya juga sedang intens mengalami psikosis. Itulah kenapa judulnya Waktu Bagian Psikosis atau Psychosis 0’Clock,’’ tutur perempuan yang tinggal di Jakarta tersebut.

Benny Prawira Siauw, founder Into The Light, mengatakan, penyintas kehilangan bunuh diri memang dapat terbantu lewat ekspresi seni. Selain itu, bercerita mengenai pengalaman ditinggal bunuh diri dapat meringankan beban psikis yang dirasakan penyintas kehilangan bunuh diri.

’’Tidak seperti penyintas percobaan bunuh diri yang lebih terbuka mengenai pengalamannya, penyintas kehilangan bunuh diri biasanya lebih tertutup. Biasanya itu karena stigma,’’ ujarnya.

Photo

ESKAPISME VIA SENI: Tulisan curahan hati Mrs X tentang mendiang suaminya yang meninggal empat tahun lalu.

Benny menyatakan, kesadaran mengenai kesehatan mental di Indonesia sebenarnya mulai membaik. Itu terlihat dari semakin beragamnya layanan konsultasi psikologis, baik secara offline maupun online.

Di samping itu, perawatan dan pengobatan kecelakaan akibat percobaan bunuh diri tidak ditanggung BPJS Kesehatan.

Benny berharap pemerintah mengkaji ulang kebijakan tersebut. Dia juga berharap pemerintah membentuk sistem registrasi kematian bunuh diri nasional.

Itu adalah sistem layanan kesehatan yang memuat data kematian akibat bunuh diri, pengecekan lokasi bunuh diri, layanan konsultasi psikologis, dan lain-lain. Sistem tersebut sudah ada di negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Australia, dan Inggris.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=J6CWgACNwck

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore