Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Maret 2020 | 22.29 WIB

I Gusti Made Rus Alit, Sulap Air Sungai Jadi Sumber Listrik

Sahrul Yunizar/Jawa Pos  SEDERHANA. Rus Alit menunjukkan satu per satu teknologi tepat guna yang dia ciptakan dan dipakai langsung di BATI, Tabanan, Bali. Teknologi itu juga dipakai untuk menyelesaikan problem krisis air di berbagai belahan dunia. - Image

Sahrul Yunizar/Jawa Pos SEDERHANA. Rus Alit menunjukkan satu per satu teknologi tepat guna yang dia ciptakan dan dipakai langsung di BATI, Tabanan, Bali. Teknologi itu juga dipakai untuk menyelesaikan problem krisis air di berbagai belahan dunia.

Berbuat baik memang tak kenal usia. Rus Alit telah membuktikannya. Di usia menjelang 74 tahun, dia masih saja berkarya untuk membantu orang-orang yang kesulitan mendapat air.

SAHRUL YUNIZAR, Tabanan, Jawa Pos

---

JAUH dari hiruk pikuk kehidupan kota, I Gusti Made Rus Alit mendirikan sebuah institut. Mandiri. Tanpa bantuan pemerintah maupun pihak swasta. BATI namanya. Singkatan dari Bali Appropriate Technology Institute. Sesuai namanya, Rus Alit mendirikan institut itu untuk menyebarluaskan teknologi tepat guna. Yang sederhana dan bisa dibuat dengan menggunakan peralatan sederhana pula.

BATI berada di Desa Wanagiri Kauh, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan, Bali. Dari Denpasar, dibutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sampai di institut tersebut. BATI berdiri di atas lahan yang luasnya sekitar 2 hektare.

Ketika sampai gerbang masuk BATI, turunan curam menyambut. Jalan masuk institut itu hanya cukup untuk satu mobil. Di kanan dan kirinya ada kebun. Persis dari ujung turunan tersebut, beberapa bangunan tampak. Aula terbuka, rumah, dan bangunan dua lantai untuk tempat tamu menginap. Namun, yang paling terasa saat kali pertama menjejakkan kaki di BATI adalah gemercik aliran sungai. Lahan yang dipakai BATI memang dibelah sebuah sungai. Yakni Sungai Yeh Le atau lebih dikenal dengan sebutan Tukad Yeh Le.

Satu jembatan memisahkan area utama BATI dengan tempat menyimpan kendaraan. ”Saya dibesarkan di kampung ini, dari keluarga miskin,” ungkap Rus Alit saat menceritakan kembali awal perjalanannya.

Rus Alit adalah bungsu dari sebelas bersaudara. Sudah menjadi yatim piatu sejak kecil. Karena itu, Rus Alit diurus sepuluh kakaknya. Hanya, dia merasa tidak ada yang benar-benar bertanggung jawab. ”Seperti hidup sendiri. Jadi merasakan beratnya struggle for living waktu itu,” kenang dia.

Walau demikian, Rus Alit tidak pernah marah. Apalagi benci kepada saudara-saudaranya. Justru dia terus berpikir bagaimana cara bertahan hidup tanpa merepotkan saudaranya. Keinginan itu terwujud. Rus yang tidak lulus STM dan hanya memiliki ijazah SMP mendapat kesempatan belajar di Selandia Baru. Tiga tahun lamanya. Belajar teologi.

”Namanya Christian Life Bible College. Tiga tahun di sana. Dua tahun belajarnya, satu tahun praktiknya,” ungkap dia. Di sana Rus fokus dan hanya belajar teologi. Ilmu teknologi tepat guna tidak dia dapat dari sana. Namun, dari tempat itu dia mendapat fondasi kuat untuk terus berbuat kebaikan.

Rus belajar teknologi tepat guna secara otodidak. Dari tempat-tempat yang dia temukan di Selandia Baru. Dia mempelajari alat-alat yang ada di sana dan belum ada di kampungnya. Dia juga meneliti kebiasaan masyarakat di negara tersebut.

Saat kembali ke Indonesia sekitar 1972, Rus tergerak untuk membangun kampung halamannya. ”Melihat orang hidup di negara lain serbamodern, pulang kampung berat sekali rasanya,” ungkap dia.

Namun, dari sana Rus justru merasa tertantang. Dalam benaknya kala itu hanya ada pertanyaan-pertanyaan. Apa yang bisa dilakukan? Satu dari banyak pertanyaan yang sering muncul. Sampai dia bertemu ide untuk membuat biogas dari kotoran hewan ternak. Babi dan sapi. Yang banyak berseliweran di kampungnya, mengganggu, membuat jalanan kotor. Saat itu biogas belum dikenal. Bahkan, menurut dia, Bali pun belum punya.

Yang tahu, mengerti, dan sukses membuat biogas bisa dihitung dengan jari. Tidak heran, ketika percobaannya berhasil, nama Rus langsung melambung. Menyebar ke mana-mana. Dari mulut ke mulut. Sampai di telinga Gus Dur. Persisnya kapan, Rus tidak begitu ingat. Yang pasti, Gus Dur pernah mendatanginya untuk melihat proyek biogasnya. Bahkan, Presiden Soeharto pun mengirim orang untuk menemui Rus.

Nama yang sudah harum membuat Rus mendapat kepercayaan warga kampung. Di tempat tinggalnya, dia termasuk yang memelopori pembangunan jalan. Tujuannya sederhana: memudahkan petani dan warga yang biasa berkebun pulang pergi. Kepercayaan terhadap Rus makin bertambah saat dia berhasil membuat pompa hidram. Mendorong air dari Tukad Yeh Le sampai ke permukiman warga.

Rus ingat betul bagaimana neneknya dulu harus naik turun jalanan curam hanya untuk mengambil air dari Tukad Yeh Le. Untuk mandi maupun masak-memasak. Sampai dia kembali dari Selandia Baru, warga kampungnya masih begitu juga. Kondisi tersebut membuat dia gusar. Karena itulah, dia buat pompa hidram. Menggunakan pipa. Tanpa listrik. Tapi mampu mendorong air sampai 300 meter ke atas.

”Terjadi perubahan besar setelah air naik,” imbuhnya. Warga tidak lagi turun. Mereka tinggal tunggu air naik sendiri. Air kemudian ditampung. Dipakai ramai-ramai. Keberhasilan tersebut membuat Rus bahagia. Sebab, dia bisa membantu banyak orang. Apalagi setelah pompa hidram buatannya dibikin juga di kampung-kampung lain. Makin banyak yang terbantu, Rus merasa kian bahagia.

Di sela-sela obrolan santai bersama Jawa Pos, Rus menawari minum. Air mineral jadi pilihan. Kami minum bersama. Dia kemudian bertanya, rasanya bagaimana? Biasa saja, kata saya. Seperti air mineral kebanyakan. Tapi lebih segar memang. ”Itu air sungai, tidak dimasak,” kata dia.

Saya kaget, bukan takut. Bagaimana caranya? Rus pun menjelaskan. BATI punya teknologi penyaringan air sederhana. Rus bangkit, mengajak Jawa Pos keliling. Sebelum ke penyaringan air, ditunjukkan bak penampung air hujan. Yang ditanam dalam tanah. Dipastikan tidak akan kotor dan bisa dipakai walau sumbernya air hujan. Untuk memanfaatkan air dari bak itu, cukup menggenjot pelan pompa sederhana buatannya. Yang lagi-lagi hanya berbahan pipa PVC, paralon biasa. ”Di sini kami tidak kekurangan air,” ucapnya.

Tempat penyaringan air sungai berukuran besar berada tidak jauh dari penampung air hujan. Bentuknya kotak. Ditutup rapat. Ketika tutupnya dibuka, tampak kotak lainnya. Dari bebatuan yang sudah disusun rapi, padat. Itulah saringannya. Air sungai dialirkan masuk tempat penyaringan. Lalu dibiarkan saja. Sampai sedikit demi sedikit masuk lewat sela-sela saringan. Kemudian dialirkan sampai keran. Air yang keluar keran itu bisa langsung diminum.

Rus menjamin air sungai yang sudah melalui saringan buatannya layak minum, sehat, dan tidak memunculkan penyakit. Dia mempersilakan bila ada yang ingin meneliti. Pintu BATI terbuka untuk siapa pun. Rus memang tidak membatasi diri. Selama ada waktu dan tidak mengganggu jadwalnya, siapa pun boleh belajar di BATI. Rus yang kini tinggal di Perth, Australia, memastikan bahwa BATI siap berbagi ilmu. Siapa pun yang datang untuk belajar pasti dilayani.

Saat Jawa Pos datang ke BATI (19/2), Rus menyebutkan, ada enam mahasiswa Australia yang sedang belajar di sana. Satu minggu mereka belajar teori dan praktik di BATI. Kemudian langsung dilepas untuk menerapkan semua yang mereka pelajari di Desa Datah, Kecamatan Abang, Karangasem. ”Sudah 2,5 minggu mereka di Karangasem,” ucap Rus.

Selain saringan dan penampungan air, di BATI ada banyak kincir air. Salah satunya digerakkan air dari Tukad Yeh Le. Kincir itu juga terhubung dengan pompa air. Setiap putaran kincir bisa menaikturunkan pompa secara otomatis. Tanpa listrik maupun tenaga manusia. Untuk pompa hidram, sedikitnya ada tiga yang ditunjukkan Rus. Posisinya di pinggir-pinggir sungai.

Semua pompa itu bergerak sendiri. Mengandalkan tekanan air. Kemudian mendorong air sampai ke permukiman warga. Salah satu pompa hidram disambungkan ke sebuah turbin sederhana. Air yang mengalir dari pompa tersebut bisa menggerakkan turbin itu. Kemudian menghasilkan listrik. Seperti PLTA mini. Yang bisa dipakai langsung di BATI. Saat Rus tunjukkan, turbin itu memang sedang tidak dipakai. Tapi dipastikan berfungsi.

Teknologi tempat guna nan sederhana tersebut telah mengantarkan Rus menjelajah berbagai belahan dunia. Amerika, Eropa, Australia, Afrika, sampai Pasifik Selatan. Adalah World Vision (WV) yang menjembatani perjalanan itu. Rus direkrut WV sejak 1980. Kali pertama bertugas di Jakarta. Dia langsung punya kesempatan keliling Indonesia. Membantu menyelesaikan permasalahan air. Sambil belajar ilmu-ilmu lain.

Dari perjalanan panjangnya, Rus sudah melihat peliknya persoalan air. Padahal, air adalah sumber kehidupan. Di Afrika Rus pernah melihat langsung masyarakat berguguran karena kekurangan air. Di Pasifik Selatan, teknologi tempat guna yang dia punya sudah menolong banyak orang Kepulauan Solomon, Vanuatu, Fiji, dan Tonga. Bahkan, negara tetangga Papua Nugini pun merasakan manfaatnya.

Rus memutuskan berhenti keliling dari satu negara ke negara lain setelah merasa lelah. Bukan lelah berbagi ilmu. Melainkan lelah bepergian. ”Saya capek, sudah keliling lama sekali. Selama 36 tahun nggak pernah diam. Keliling dunia, ke mana-mana,” bebernya. Karena itu, 20 tahun lalu dia memilih kampung halamannya sebagai tempat untuk mendirikan BATI. Terbuka bagi siapa saja.

Saat ini, walau menetap di Perth, Rus masih menerima tamu. Mahasiswa, peneliti, pejabat pemerintah, atau siapa pun, termasuk pewarta seperti Jawa Pos. Dia pasti datang ke BATI jika sudah membuat janji. Jawa Pos termasuk yang beruntung karena bertemu Rus walau belum sempat membuat janji. Dia berada di Bali karena tengah membimbing enam mahasiswa Australia tadi. Yang langsung praktik di Karangasem.

Akhir Februari lalu Rus kembali ke Perth. Namun, dia pasti datang lagi ke BATI. Sebab, banyak yang sudah membuat janji untuk bertemu dan belajar kepada Rus. Sebelum mengakhiri kisahnya, dia sempat mengajak pesta durian. Begitulah Rus. Dia tidak pelit berbagi ilmu. Apalagi durian. Yang dia ambil sendiri. Dari kebun di pinggiran sungai. Rasanya manis, enak, bikin ketagihan. Membuat ingin kembali berkunjung ke BATI. (*/c9/oni)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore