Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Maret 2020 | 03.25 WIB

Kiprah Gandarusa, Tim Khusus yang Bertugas Mempercantik Surabaya

DISKUSI: Rochim memimpin rapat tentang desain taman yang akan dibangun bersama dua ahli perencanaan taman dan tim Gandarusa di ruang Seksi RTH DKRTH Surabaya Jumat (28/2). (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos) - Image

DISKUSI: Rochim memimpin rapat tentang desain taman yang akan dibangun bersama dua ahli perencanaan taman dan tim Gandarusa di ruang Seksi RTH DKRTH Surabaya Jumat (28/2). (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)

Orang-orang ini punya peran penting dalam mempercantik wajah kota. Mereka tergabung dalam tim Gandarusa di bawah dinas kebersihan dan ruang terbuka hijau (DKRTH). Tim yang beranggota 175 orang itu berada di balik pembuatan 578 taman di Surabaya.

ARIF ADI WIJAYA, Surabaya

DUA perempuan terlihat serius berdiskusi dengan Kasi RTH DKRTH Rochim Yuliadi di ruangannya. Di seberang meja, tiga orang yang mengenakan rompi mendengarkan dengan saksama.

Itu merupakan suasana rapat perencanaan taman oleh seksi RTH bersama tim Gandarusa. Dua perempuan bernama Eni Wahyuni dan Titin Maghfiroh merupakan desainer taman. Eni merupakan lulusan Universitas Brawijaya, Malang. Titin merupakan alumnus Universitas Udayana, Bali. Mereka terlibat dalam mendesain taman-taman di Surabaya. Merekalah yang menata bentuknya, termasuk mengatur komposisi tanaman. Gandarusa merupakan tim khusus yang bertugas membuat taman. Sebab, estetika kota memang mendapat perhatian lebih dari Pemkot Surabaya.

Menurut Rochim, tim Gandarusa sejatinya ada sejak dulu. Namun, belum ada nama yang menjadi ciri khas tim tersebut.

Saat Risma masih menjabat kepala badan perencanaan dan pembangunan kota (bappeko), orang-orang di tim tersebut sudah diberi amanah untuk membangun taman. ’’Jadi, mereka tahu selera ibu (Wali Kota Tri Rismaharini, Red),’’ katanya.

Menurut Rochim, wali kota perempuan pertama di Surabaya itu memiliki selera khusus untuk desain taman. Soal warna, misalnya. ’’Bu Risma tidak suka kalau warnanya monoton hanya satu warna. Misalnya, hijau. Itu tidak boleh. Harus beragam warna,’’ paparnya.

Karena itu, semua taman yang tersebar di seluruh penjuru Kota Pahlawan diberi tanaman dengan aneka warna. Ada satu taman yang memiliki tiga macam warna. Ada pula yang sampai lima warna. ’’Itu ibu suka,’’ katanya.

Selain itu, Risma memperhatikan detail pembuatan taman dari sisi estetika dan harmonisasinya. Contohnya, taman yang lokasinya di sudut jalan. Bunga yang ditanam di bagian belakang harus lebih tinggi. Begitu pula taman yang lokasinya di tengah jalan yang notabene bisa dilihat dari berbagai sisi. Bunga yang ditanam tinggi harus berada di sisi tengah.

Selama ini orang-orang yang bekerja membuat taman belum terorganisasi. Jumlahnya juga tidak sebanyak saat ini. Pada 2019, tim Gandarusa resmi dibentuk. Anggotanya mencapai 175 orang. Jumlah tersebut dibagi menjadi lima rayon. Satu rayon memiliki anggota 35 orang.

Tidak hanya membuat taman baru. Kalau ada taman yang rusak, tim Gandarusa bertugas memperbaikinya. ’’Batas waktu yang diberikan maksimal tujuh hari,’’ kata Rochim.

Dia mengatakan pernah mendapat tugas dari Eri Cahyadi ketika menjabat Plt kepala DKRTH tahun lalu. Saat itu Eri melihat kondisi taman di Sentra Wisata Kuliner (SWK) Wiyung berantakan. ’’Pak Eri kaget melihatnya. Dia minta taman itu diperbaiki secepatnya,’’ ungkapnya.

Setelah dicek, taman tersebut sudah tidak mungkin diperbaiki lagi. Kerusakannya cukup parah. Rochim menyebut kerusakan taman itu disebabkan faktor alam dan human error. ’’Akhirnya saya minta tim Gandarusa rayon barat membangunnya,’’ katanya.

Waktu yang diberi singkat. Hanya 1x24 jam. Taman berukuran 2 x 10 meter itu harus jadi. Harus enak dilihat. Harus sesuai selera ibu wali kota pula. Bagi tim yang beranggota 35 orang, tugas itu tentu tidak mudah.

Hari itu juga anggota tim berkoordinasi secara intens. Desain langsung ditentukan. Bahan yang ada diinventarisasi. Mulai tanah sampai stok bunga dan tanaman perdu di Kebun Bibit. Untungnya, semua ada. Bahan-bahan yang dibutuhkan langsung dibawa ke SWK Wiyung. Pembangunan taman secara kilat pun dimulai.

Rochim memegang kendali sebagai koordinator. Anggota tim yang ada dikerahkan. Mereka bekerja mulai sore sampai malam. Kurang dari 24 jam, taman tersebut jadi. Keesokan harinya, Eri mengecek kembali ke lokasi. ’’Lho, kok wes mari,’’ kata Rochim menirukan pernyataan Eri Cahyadi yang keheranan dengan kinerja kilat tim Gandarusa.

Itu merupakan satu di antara puluhan taman yang sudah dibangun. Pada 2019, ada 78 taman yang sudah dibangun secara swadaya. Hanya beberapa yang melibatkan pihak rekanan. ’’Target kami tahun lalu sebetulnya 46, tapi terealisasi 78 karena hemat anggaran,’’ ucapnya.

Tahun ini tim Gandarusa ditarget membangun taman di 25 titik. Semua dikerjakan secara swadaya. Anggarannya hanya Rp 1 miliar. ’’Kami ada alat dan bahan lengkap. Tim juga sudah berpengalaman semua. Jadi, tidak butuh anggaran besar untuk membuat kota ini semakin indah dan asri,’’ ucap Rochim.

Hingga kini, jumlah taman di Surabaya mencapai 578. Jumlah tersebut akan terus ditambah untuk mengurangi polusi udara.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore