
Para pekerja migran berkumpul di sebuah restoran di jalan Orchard, Singapura, Sabtu (29/12/2019). Hanung Hambara/Jawa Pos
JawaPos.com - Bagi Ester Mulatsari, belajar harus dilakukan sepanjang hayat. Belajar bukan saja untuk meraih gelar yang tinggi. Bukan pula untuk memiliki pekerjaan wah. Tapi, belajar adalah untuk memperbanyak ilmu.
Pekerja migran Indonesia (PMI) asal Blitar, Jawa Timur, itu sudah bergelar magister. Ester konsisten mendalami ilmu manajemen. Seluruhnya ditempuh tepat waktu. Jika ada kesempatan lagi, dia ingin melanjutkan ke jenjang doktoral.
Dulu Ester pergi ke Singapura hanya berbekal ijazah SMA. Meski ingin sekali kuliah, dia mengurungkannya karena kondisi perekonomian keluarga. Namun, keinginan untuk sekolah tinggi itu tetap dia simpan dalam hati. ”(Tahun) 2010 akhirnya masuk UT (Universitas Terbuka),” katanya kepada Jawa Pos.
Ketika masuk bangku kuliah, Ester seperti membuka jendela. Seperti saat dia kali pertama ke Singapura. Hal baru ditemukan. Itu membuatnya ketagihan untuk terus belajar.
Meski waktu kuliah di UT dilakukan secara online, Ester tak kesulitan. Buku-buku manajemen dibacanya. Entah itu e-book atau buku konvensional. ”Saya suka di bidang bisnis,” ucapnya.
S-1 diselesaikannya dalam kurun waktu empat tahun. Ada kesempatan S-2, Ester melanjutkan di UT dengan sistem belajar yang sama. Tanpa tatap muka. ”Sekolah sambil kerja itu tidak mudah,” tuturnya.
Yang terberat justru mengalahkan diri sendiri. Melawan kemalasan. Ester menceritakan, banyak temannya yang enggan melanjutkan sekolah. Entah itu karena tidak mampu untuk membayar atau tidak mau. Ada juga yang mau dan mampu, tapi tidak tahu caranya bagaimana.
Ester merasa beruntung bekerja di Singapura. Sebab, orang-orang di lingkungan tempatnya bekerja memiliki pendidikan tinggi. ”Sebenarnya di sini S-2 atau S-3 itu biasa. Tapi, karena asisten rumah tangga, mungkin yang berbeda,” kelakarnya.
Ester tetap menekuni pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga. Di sisi lain, dia juga menjadi tutor secara online. Dia membantu mahasiswa lain. Termasuk PMI di Singapura. ”Gajinya lumayan,” ungkapnya.
Setiap bertemu dengan PMI lain, Ester selalu memotivasi agar terus belajar. Sebenarnya masalah yang dihadapi tidak sesulit yang dihadapi. Jika mau, banyak jalan. Jika tak punya uang, bisa mengandalkan beasiswa. Jika merasa minder dengan usia, banyak PMI lain yang juga sekolah lagi saat usianya di atas 35 tahun. Menurut dia, semua itu bisa dilakukan ketika berusaha.
Di sisi lain, Ester ingin menunjukkan bahwa seorang pekerja migran yang berprofesi asisten rumah tangga bisa bersekolah tinggi. Memiliki ilmu, menurut dia, bisa meningkatkan derajat kehidupan.
Buktinya, setelah mendapatkan gelar master, Ester menerima banyak tawaran kerja. Salah satunya tawaran menjadi dosen di Batam. Namun dia tolak. Dia ingin membantu teman-temannya di Singapura.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
