
Ni Wayan Nining Suwarwini, Ketua Poklahsar Mina Kerti bergerak dibidang pemasar ikan air tawar dengan komoditas unggulan ikan lele, nila, gurame, patin, dan bawal.
Fodor’s Travel, media wisata terbitan Amerika Serikat, memasukkan Bali dalam daftar destinasi yang tak layak dikunjungi pada 2020. Namun, Pemprov Bali curiga, publikasi tersebut adalah kampanye hitam dari negara-negara pesaing pariwisata.
UMAR WIRAHADI, Bali, Jawa Pos
---
LIMA unit wheel loader berseliweran di bibir Pantai Kuta, Bali, Kamis pekan lalu (12/11). Suaranya meraung-raung. Beradu dengan deburan ombak. Setiap beberapa meter, alat berat itu berhenti sejenak.
Sejumlah orang mengangkat tumpukan-tumpukan karung dari pinggir pantai.
Di dalamnya berisi sampah beragam jenis. Mulai sampah plastik, botol minuman, bungkus makanan, hingga sisa canang tempat persembahyangan umat Hindu Bali. Sampah-sampah tersebut dimasukkan ke alat berat itu. ’’Kami bersihkan tiap pagi,” kata I Ketut Alet, petugas kebersihan.
Aktivitas tersebut dilakukan sejak matahari belum terbit. Garis pantai yang dibersihkan sedikitnya sepanjang 8 kilometer. Mulai Pantai Kuta, Legian, hingga Seminyak. ’’Tim dibagi. Ada petugas sendiri yang bersihkan,” tutur pria asal Desa Kuta itu.
Dari loader, tumpukan sampah diangkat dengan truk khusus milik Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Badung. Sampah diangkut ke sebuah TPA di kawasan Kuta. Sebab, sejak November lalu, sampah dari Pantai Kuta dan sekitarnya tidak boleh lagi dibuang ke TPA Suwung di Denpasar. ’’Sampah di Suwung overload,” tambah Ketut Alet.
Sebagian besar sampah tersebut hasil aktivitas para turis di pinggir pantai. Sebagian lagi sampah dari para pedagang. Macam-macam jenisnya. Dari sampah plastik hingga botol bekas minuman keras. Petugas juga kerap menemukan kondom berserakan di pinggir pantai. Alat kontrasepsi itu dibuang begitu saja. ’’Nggak sekali dua kali (menemukan kondom, Red). Cukup sering lah,” tutur Dewi Anggreni, petugas lainnya, lalu tertawa.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bali I Made Teja mengakui, tumpukan sampah menjadi problem tersendiri di Bali. Menurut dia, wilayah Bali menghasilkan sekitar 5 ribu ton sampah per hari. Ironisnya, dari jumlah tersebut, hanya 51 persen yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Selebihnya terbuang begitu saja di lahan kosong, danau, sungai, hingga ke laut. ’’Memang persampahan jadi persoalan saat ini,” ungkap Made Teja kepada Jawa Pos.
Photo
Petugas memasukan sampah kedalam alat berat di Pantai Legian, Bali, Kamis (12/12). (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)
Pihaknya telah berupaya keras menangani persoalan itu. Salah satunya dengan mendirikan bank sampah di sejumlah tempat. Dia menuturkan, ada 1.200 bank sampah yang tersebar di seantero Bali. Namun, keberadaannya diakui belum maksimal. ’’Kita butuh kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari hulu,” imbuhnya.
Aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali I Made Juli Untung Pratama menilai Bali sudah masuk darurat sampah. Sebab, volume sampah tidak sesuai lagi dengan daya tampung TPA. Menurut dia, pemanfaatan sampah terlalu berkutat di hilir. Atau TPA itu sendiri. Padahal, potensi tersebut bisa diminimalkan jika ada pengelolaan di bagian hulu. Yaitu, dari penghasil sampah di rumah tangga atau di instansi-instansi. ’’Termasuk banyak hotel yang tidak memiliki alat pemilah sampah,” jelasnya.
Menurut dia, Bali memang didera persoalan sampah yang mengkhawatirkan. Walhi menemukan 52 persen sampah belum dikelola dengan baik. Akibatnya, sampah tersebut terbuang ke mana-mana. Mulai sungai, laut, hingga danau. Seharusnya, papar dia, sebelum dibuang ke TPA, sampah dipilah terlebih dahulu. Sampah organik dipisah dari sampah nonorganik. Sebab, sampah organik bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Misalnya, menjadi kompos. Bahkan, sampah plastik bisa dimanfaatkan sebagai aspal. ’’Tetapi, sejauh ini belum ada hasilnya,” papar dia. Sampah yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan atau didaur ulang barulah dibuang ke TPA.
Made Juli Untung menuding Pemprov Bali tidak konsisten dengan kebijakan sendiri. Sebab, masyarakat diminta memilah sampah. Namun, setelah benar-benar dilakukan pemilahan, sampah-sampah tersebut tetap dimasukkan ke keranjang sampah dan dibuang ke TPA. ”Kan percuma jadinya,” katanya.
Pakar lingkungan hidup Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana I Gede Hendrawan menuturkan, persoalan sampah di laut tidak terlepas dari pengelolaan di darat. Pengelolaan yang tidak baik di darat menimbulkan sampah yang besar di laut. ”Sebanyak 80 persen sampah laut berasal dari darat,” jelas Made Hendrawan.
Menurut dia, sekitar 330 ribu ton sampah setiap tahun ”bocor” ke sungai dan laut. Bahkan, berdasar penelitiannya, ditemukan 3,9 ton sampah per kilometer persegi (km2) di pantai. Lalu, di sungai terdapat 20,7 ton dan daratan 2,1 ton sampah plastik. ’’Ini sangat ironis,” ungkapnya.
Pihaknya sangat berharap agar 80 persen sampah yang dihasilkan per hari bisa diolah kembali. Dengan demikian, hanya 20 persen yang dibuang ke TPA. Jika cara itu berhasil, beban TPA menjadi lebih ringan.
Seharusnya, tambah dia, yang masuk ke TPA adalah jenis sampah yang benar-benar tidak bisa diolah. Misalnya, sampah elektronik dan bekas bungkus makanan. ’’Yang dibuang adalah yang benar-benar residu yang tidak bisa diolah kembali,” papar Hendrawan.
Dia berpendapat, Bali harus mengubah strategi wisata. Tidak hanya mengejar kuantitas kunjungan. Namun, yang harus diutamakan adalah kualitas. ’’Sudah saatnya Bali berubah dari mass tourism menjadi quality tourism. Karena percuma jumlah kunjungan banyak tapi tidak berkualitas,” paparnya.
Dia mengungkapkan, perilaku turis di Bali tidak selalu bagus. Banyak juga yang berperilaku jorok. Misalnya, membuang sampah di sembarang tempat hingga buang air kecil di pinggir pantai. ’’Jangan heran, ada yang begitu lho,” ungkap peraih gelar doktor dari Yamaguchi University, Jepang, tersebut.
Pernyataan itu tidak mengada-ada. Jawa Pos pernah melihat langsung seorang turis kencing di tembok pembatas pantai. Namun, saat koran ini menegur, dia langsung nyelonong begitu saja dan melanjutkan aktivitas surfing. Mendapati perilaku turis tersebut, satgas pantai tidak bisa berbuat banyak.
Photo
JAGA KEBERSIHAN: Papan peringatan untuk tidak meninggalkan sampah dipasang di Pura Besakih, Bali.
(MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)
TIDAK semua turis suka menjaga kebersihan. Kasatgas Desa Adat Kuta Wayan Sirna mengakui pernah beberapa kali menemui turis yang pipis sembarangan. Pihaknya langsung menegur di tempat.
Namun, setelah itu mereka kabur. Pihaknya tidak bisa memberikan sanksi apa pun atas perilaku turis tersebut. ”Ya kita tegur saja. Jangan diulangi,” kata Wayan Sirna.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Putu Astawa mengakui, pihaknya mengalami problem lingkungan dalam bidang pariwisata. Juga, ada persoalan tentang kemacetan. Solusi atas persoalan tersebut saat ini sedang dicari. ’’Itu tidak kami tutupi. Memang ada problem sampah,” kata dia kepada Jawa Pos pekan lalu.
Terkait publikasi media wisata Amerika yang memasukkan Bali dalam daftar yang tidak direkomendasikan dikunjungi pada 2020, Putu Astawa memilih berpikir positif. Dia curiga publikasi tersebut adalah bentuk kampanye negatif oleh negara-negara pesaing Bali. ”Berpikir positif saja lah. Jangan-jangan Bali menjadi lebih terkenal di mata dunia,” kata Putu Astawa.
Bali, kata dia, tidak hanya mengejar kuantitas. Tetapi, juga kualitas para turis yang berkunjung. Pihaknya juga ingin mengembangkan konsep wisata berkualitas dengan menerapkan meeting, incentive, convention and exhibition (MICE). Itu merupakan konsep industri pariwisata yang harus direncanakan dengan matang. Konsep tersebut, jelas dia, tidak terjamah dengan baik di Indonesia. Padahal, konsep MICE sedang menjadi andalan dunia pariwisata di sejumlah negara maju. ”Dunia MICE adalah jenis bisnis pariwisata yang menjanjikan,” paparnya.
Sejauh ini pihaknya sudah menggarap beberapa event besar. Di antaranya, Bali Democracy Forum dan annual meeting IMF-World Bank pada Oktober 2018. Sebelumnya Bali menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan KTT Forum Kerja Sama Asia-Pasifik (APEC).
Pada 2009–2010 Bali pernah menjadi lokasi syuting film drama Amerika Serikat berjudul Eat, Pray, Love. Film yang diperankan aktris Julia Roberts itu menampilkan alam dan budaya Bali sebagai sisi utama film tersebut. ”Ini membuat Bali semakin moncer,” papar pejabat yang merangkap kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perdagangan, dan Perindustrian Pemprov Bali itu.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
