
FOTO-BOKS_ GUSLAN GUMILANG/JAWA POS
Lebih dari 700-an lukisan karya Dullah tersimpan di museum pribadinya yang tak lagi terbuka untuk umum sejak ada insiden pencurian. Pilihan warna pada karya-karya kurator istana periode Presiden Soekarno itu memberikan kesan kuat pada kesuburan tanah air.
DIAR CANDRA, Jawa Pos, Solo
---
SEORANG tentara duduk di kotak kayu sambil menenggak sebotol jenewer. Dua serdadu lain menendang dan menghantam kepala tawanan.
Adapun dua tentara lainnya lagi mengambil peran lain melucuti jarit dan kebaya seorang perempuan. Semua kejadian itu terpampang di atas kanvas hasil karya pelukis legendaris Dullah bertajuk Gadis Kurir.
’’Lukisan karya Dullah ini terasa istimewa,’’ ucap desainer grafis Jawa Pos Budiono.
Dia mengomentari lukisan yang terpajang di ruang utama Museum Dullah tersebut bulan lalu. ”Mulai detail-detail anatomi, kejadian yang dilukis membawa penontonnya seperti sedang melihat secara langsung kejadian tersebut,” lanjutnya.
Lukisan berukuran 200 x 350 sentimeter tersebut, menurut Sigit Hendro Sutjahjo, murid Dullah yang kini menjaga museum di Solo, Jawa Tengah, itu, terinspirasi proses interograsi tentara Belanda kepada kaum republik. Pada awalnya, lukisan itu masih berupa sketsa, kemudian diperbesar dalam media kanvas dan selesai pada 1975.
”Pak Dullah ini kan selama periode revolusi (1945–1949, Red) juga ikut berjuang melawan Belanda dan NICA. Jadi, ya lukisan-lukisan bertema era tersebut sangat hidup karena memang beliau saksi mata di palagan,” jelas Hendro tentang gurunya yang berpulang 23 tahun lalu itu.
Dia mengungkapkan, ada 12 ruangan di Museum Dullah. Selain menyimpan karya-karya seniman kelahiran Solo, 19 September 1919, tersebut yang berjumlah 700-an, terdapat ruang lukisan teman-temannya seperti Affandi, Lee Man Fong, dan S. Sudjojono. Juga, ruang tempat karya para murid.
Dibuka 1 Agustus 1988 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (alm) Prof Dr Fuad Hassan, museum itu menerima apresiasi yang sangat bagus. Pengunjungnya, menurut pria 60 tahun tersebut, datang dari berbagai kalangan usia dan pekerjaan.
Photo
PELUKIS LEGENDARIS: Tampak luar Museum Dullah di Solo. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)
Namun, sebuah insiden pencurian lukisan maestro seniman Indonesia Raden Saleh pada 1990 membuat Dullah berpikir ulang soal status museum yang terbuka untuk umum itu. Lukisan berjudul Musafir Padang Pasir yang bertarikh 1825 tersebut dicuri orang dan sempat menghebohkan jagat seni Solo, bahkan Indonesia. Buntutnya, museum itu tak lagi terbuka untuk umum setelah mangkatnya Dullah pada 1 Januari 1996.
Hendro menceritakan, hari hilangnya lukisan tersebut kebetulan berbarengan dengan klub kebanggaan warga Solo, Persis, bermain di Stadion Sriwedari. Lokasi museum yang tak seberapa jauh dari Stadion Sriwedari pun jadi menerima banyak tamu. Dan, momentum menyemutnya tamu itu kemudian dimanfaatkan si pencuri untuk mengambil lukisan.
”Saya niteni (mencermati) dan bilang ke Pak Dullah bahwa lingkungan seni di Solo itu sempit. Makanya saya lihat di beberapa lokasi yang mungkin jadi jujukan pencuri untuk menjual lukisan itu,” ujar Hendro. ”Karena lukisan yang dicuri itu hanya dimengerti orang yang paham seni atau kolektor,” tambah pria asal Jakarta tersebut.
Dari komunikasi dengan beberapa pedagang seni ”bawah tanah” Solo, hasilnya, si pencuri minta uang tebusan Rp 100 juta. Diserahkan di area Candi Prambanan di perbatasan Klaten, Jawa Tengah–Sleman, Jogjakarta. Dengan bantuan polisi, gerombolan pencuri tersebut bisa dilumpuhkan.
Namun, perkara itu tak berhenti sampai di situ. Lukisan Musafir Padang Pasir disita pihak berwajib dengan status barang bukti. Belum kembalinya lukisan berusia lebih dari satu setengah abad tersebut meresahkan Dullah.
Ada kekhawatiran, selama proses persidangan, ada pihak ”nakal” yang akan menghilangkan atau menukar lukisan itu. Maka untuk menenangkan gurunya, Hendro membuat replika karya Raden Saleh. Lantas, lukisan asli yang jadi barang bukti itu ditukar dengan lukisan KW karya Hendro tersebut. ”Jadi, ketika tak dikembalikan kepada kami, ndak papa soalnya bukan yang asli,” ujar Hendro, lalu tertawa.
Kedekatan Hendro dengan Dullah berlangsung sejak Dullah membuka Sanggar Pejeng di Bali pada 1973. Setelah menjadi pelukis istana sedekade (1950–1960), Dullah mundur dengan alasan bosan. Seperti yang dituturkan Dullah kepada Hendro, jadi pelukis dan kurator istana itu juga capek. Kemana pun Presiden Soekarno berkunjung, pasti Dullah ikut rombongan.
Salah satu karya Dullah saat ikut rombongan adalah sketsa Gadis Padang. Karya tersebut lahir ketika diajak Soekarno ke Sumatera Barat pada awal 1950-an. Di kertas berukuran 39 x 41,5 sentimeter, Dullah melukis di tempat kunjungan.
Dullah, kata Hendro, sejak menggeluti seni pada usia belasan, setiap malam sebelum tidur dia membuat satu sketsa.
Itu pula yang diajarkan kepada para cantrik di Sanggar Pejeng. Sanggar yang didirikan pada 1973–1983 itu memiliki 90 cantrik dalam rentang waktu sepuluh tahun. Mereka yang datang sebetulnya ratusan. Namun, karena seleksi alam, akhirnya tersaringlah menjadi 90 orang itu.
”Jadi murid Dullah itu tak gampang, lho. Tiap pagi kami harus di area yang ditentukan Pak Dullah, kemudian harus membuat gambar di lokasi tersebut minimal dalam bentuk sketsa,” kenang Hendro.
Sebagai cantrik Dullah, ada pula karya Hendro yang dipajang di Museum Dullah itu di ruang pamer para murid. Judulnya, Pemerintah Republik Indonesia Kembali Ke Jakarta.
Selain Hendro, murid Dullah yang menonjol dan bergabung sebelum Sanggar Pejeng berdiri adalah M. Toha. Lukisan atau sketsa Toha rata-rata berada di kertas ukuran mini 7 x 10,6 sentimeter. Toha bersama keempat murid Dullah lain merupakan penggambar-penggambar ketika Clash II alias Agresi Militer II meletus di Jogja, 19 Desember 1948, sampai Serangan Umum, 1 Maret 1949.
Meski Museum Dullah sudah berstatus privat, rombongan pengunjung tak berhenti mengalir. Sebelum menerima tamu, Hendro akan meminta izin dari anak Dullah, yakni Sawarna. Dari penuturan Hendro, tak sedikit selebriti yang ditolak karena mereka datang tak memberi kabar jauh-jauh hari alias mendadak.
”Tapi, tipe pengunjung yang paling kurang saya sukai adalah mereka yang datang, kemudian bertanya berapa harga lukisan ini? Atau, lukisan ini dijual tidak ya?” ungkap Hendro.
Dia bercerita, suatu ketika ada kolektor yang datang dan menawar lukisan bertema perjuangan Jumpa Di Tengah Kota dengan bilangan puluhan miliar rupiah. Hendro menolaknya.
Bicara soal sistem pengamanan museum, selain Hendro, ada sosok lain yang juga menjaga: Miranto. Miranto menjelaskan, setiap pintu museum, selain digerendel gembok, juga dikunci palang besi lonjoran.
”Selain itu, kami memasang CCTV di berbagai sudut museum ini. Sehingga dalam 24 jam terawasi dengan ketat,” ucap Mir.
Kurator Agus Dermawan T. yang juga menulis buku biografi Dullah berjudul Lukisan Rakyat Dullah menyebut nama pendek Dullah ini berkebalikan 180 derajat dari rekam jejak seni lukis yang dicatatkannya.
Sejak usia 15 tahun sampai akhir hayatnya berusia 76 tahun, salah seorang pelukis bergaya realis terbaik Indonesia itu terus berkarya. Bahkan, setelah sakit parah yang mengakibatkan tangan kanannya lumpuh pada 1993, Dullah tak berhenti melukis. Dia kemudian melukis dengan tangan kiri.
Salah satu kekhasan Dullah, menurut Agus, dalam bukunya itu disebutkan, sejak 1960-an Dullah memformulasikan teknik cat minyak yang memadukan estetika cat transparan. Transparansi warna kemudian diimbuhi nuansa jejak kuas yang lincah.
Pilihan warna Dullah cenderung gradasi cokelat kehitaman, kuning, hijau, tosca, oranye, dan merah marun. Warna-warna itu, lanjut Agus, memberikan kesan kuat pada kesuburan tanah air.
”Bukankah tanah Indonesia yang gembur dan basah itu berwarna cokelat tua?” kata Dullah yang dikutip Agus dalam bukunya.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
