Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Mei 2019 | 21.37 WIB

Bud Wichers, Pewarta Berkebangsaan Belanda yang Kagum Pada Surabaya

Bud Wichers saat meliput ISIS di Mosul, Iraq, pada 2017. (Bud Wichers for Jawa Pos) - Image

Bud Wichers saat meliput ISIS di Mosul, Iraq, pada 2017. (Bud Wichers for Jawa Pos)

Namanya tidak sesuai wajahnya. Bud Wichers, nama yang sangat bule. Namun, begitu bertemu orangnya, semua pasti akan kaget. Sebab, wajahnya Indonesia banget. Pria 42 tahun tersebut memang anak adopsi keluarga Belanda yang lahir di Jakarta.

Hanaa Septiana, Surabaya

BUDIMAN Wichers merupakan nama Indonesia-nya. Dia lahir dari keluarga miskin. Karena tidak punya uang, orang tuanya menitipkannya ke panti asuhan. Budi, sapaan akrabnya, kemudian diadopsi WN Belanda. Sampai saat ini pun, Budi tidak pernah tahu siapa orang tua aslinya. Dia sulit mencari tahu karena keterbatasan data pada saat itu.

''Sampai sekarang pun saya masih ingin mencari dengan dibantu beberapa teman. Termasuk teman dari Surabaya," ungkap pria penggemar nasi bebek tersebut.

Budi kecil sangat tertarik pada fotografi. Dia sering bermain dengan kamera milik ayah angkatnya di Belanda. Ketertarikan itu membawa dia ke Australia sekitar 1994 untuk bekerja di beberapa media. Tidak lama setelah itu, dia kembali ke Belanda. Lalu, dia memutuskan untuk mendalami fotografi dan mendokumentasikan video.

Pada 2002 Budi mendengar ada konflik di Palestina. Dia pun langsung mendaftar menjadi relawan.

''Awalnya saya hanya berkeinginan untuk mengajar anak-anak pengungsi. Tapi, karena hobi fotografi, saya juga ingin mengabadikan peristiwanya," ungkap laki-laki yang merasa lebih cocok disebut orang Indonesia itu.

Budi pun bercerita tentang kehidupannya sebagai jurnalis di daerah konflik. Wartawan lepas itu banyak menghabiskan pekerjaannya di daerah konflik. Mulai daerah kekuasaan ISIS di Iraq, Palestina, hingga Venezuela. Siapa sangka, Budi sebelumnya tidak mempunyai latar belakang pendidikan jurnalis.

Sejumlah pengalaman dilaluinya. Mulai dipenjara karena visanya habis hingga masuk daerah yang dilarang untuk para jurnalis. Dia juga pernah terkena sayatan senjata tentara Iraq pada 2017. Bekasnya pun masih terlihat jelas di dadanya. ''Saya tidak menyadari saat itu. Ada sesuatu yang ditembakkan dekat saya, tapi meleset. Tak lama kemudian, ada senjata yang mengenai dada saya saat itu," papar Budi.

Sebagai laki-laki kelahiran Indonesia, Budi merasa harus berbuat sesuatu untuk negara tempat kelahirannya. Dia menjadi relawan di Indonesia ketika ada bencana. Misalnya, tsunami di Aceh pada 2004 dan di Palu pada 2018.

Tahun ini dia kembali ke Indonesia dan tinggal lama di Surabaya. Dia diminta untuk mengajar di salah satu sekolah swasta. Selain itu, Budi tak ingin ketinggalan untuk mengabadikan momen lima tahunan di Indonesia, yakni pemilihan umum. Dia mengatakan bahwa banyak negara lain yang masyarakatnya tidak bisa memilih langsung seperti di Indonesia. Karena itu, dia mengagumi proses demokrasi di Indonesia. ''Indonesia itu negara demokrasi terbesar. Selama ini saya sangat kagum dengan prosesnya yang begitu damai dan tidak ada konflik berdarah," terangnya.

Selama pemilu berlangsung, ternyata Budi berada di Surabaya. Dia sempat mengunjungi beberapa TPS di beberapa titik. Termasuk TPS Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Dia juga berbincang dengan Risma dan langsung mengaguminya. ''Bagaimana saya tidak mengagumi beliau? Risma sangat hebat bisa menjadikan Surabaya tempat yang nyaman untuk tinggal dan hampir tidak ada konflik yang terjadi di kota ini," ungkapnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore