Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 27 April 2019 | 21.23 WIB

Satu Setengah Abad Lumpia Semarang dan Cerita Keteguhan Para Penerus (1)

Untung Usodo, pengelola kedai lunpia Gang Lombok. Sabrina/Jawa Pos - Image

Untung Usodo, pengelola kedai lunpia Gang Lombok. Sabrina/Jawa Pos

Dari suami istri yang pertama memperkenalkan, lumpia semarang menempuh berbagai jalan di tangan generasi penerus hingga bisa tetap lestari. Mulai mempertahankan resep asli, mengubah konsep jualan, sampai memperbanyak varian produk.

SHABRINA PARAMACITRA, Semarang

---

SESEKALI Untung Usodo tampak mengamati lumpia basah yang siap digoreng. Tapi, selebihnya dia sibuk melayani pelanggan yang terus berdatangan.

"Tadi pagi waktu naruh bahan di sini jam 6, orang-orang dan petugas masih ramai memadamkan api. Banyak wartawan juga," kata Untung sembari memberikan uang kembalian kepada seorang pembeli.

Pada Kamis subuh itu (21/3), sekitar pukul 04.30, Semarang mengalami musibah.

Kelenteng Kong Tik Soe, salah satu bangunan cagar budaya di ibu kota Jawa Tengah tersebut, terbakar. Rumah abu Tjie Lam Tjay di kawasan kelenteng tersebut ikut terbakar.

Sisi kiri bangunan Kelenteng Kong Tik Soe berimpitan dengan Kelenteng Tay Kak Sie. Sementara itu, bangunan Kelenteng Tay Kak Sie berada persis di belakang bangunan Kedai Lunpia Gang Lombok Nomor 11, tempat Usodo berjualan.

Beruntung, sekitar pukul 08.00 WIB api dapat dipadamkan.

Kalau tidak, Semarang bakal kehilangan salah satu monumen penting: kedai yang berkaitan erat dengan sejarah panjang jajanan yang menjadi penanda mereka tersebut.

"Ndak ada yang berubah. Pembeli tetap ramai ke sini," ujar Untung yang membuka kedainya sekitar sejam setelah api padam itu.

Lumpia, atau yang dalam bahasa Hokkian disebut lunpia, berasal dari dua kata: lun yang berarti lunak dan pia yang artinya kue. Jejaknya di Semarang menjulur jauh ke hampir satu setengah abad silam.

Pada 1870 suami istri Tjoa Thay Joe dan Wasi, kakek dan nenek buyut Untung, kali pertama memperkenalkan jajanan yang kini menjadi salah satu bagian lekat keseharian kota di pesisir Laut Jawa tersebut. Awalnya, lumpia adalah modifikasi dari kue run bing yang dijual di Tiongkok oleh Tjoa Thay Joe. Rasanya sedikit asin.

Setelah hijrah ke Indonesia dan menikah dengan Wasi, kue tersebut berubah. Kebetulan, sebelum menikah dengan Tjoa Thay Joe, Wasi juga berjualan kue gulung yang bentuknya mirip dengan run bing, tapi rasanya sedikit lebih manis. Lahirlah lumpia dari akulturasi tersebut.

Untung yang merupakan generasi keempat sudah hampir enam tahun mengelola Kedai Lunpia Gang Lombok. Sulung di antara tiga bersaudara yang mendapat amanah dari sang ayah itu mempertahankan semua. Mulai pemilihan bahan-bahan, cara mencuci rebung, hingga cara menggulung lumpia.

Sejak dulu menu di kedai Gang Lombok itu juga tak pernah berubah. Hanya lumpia basah dan lumpia goreng. Isinya pun tetap sama: rebung, telur, dan udang. Digulung dengan kulit lumpia yang sangat tipis dan kadang-kadang digoreng. Bergantung pesanan.

Tekstur saus manisnya pun tetap sama: lebih kental ketimbang lumpia di kota-kota lain. Acar mentimun dan irisan bawang putih ditaburkan di atas saus. Tak lupa, cabai, selada, dan daun bawang menjadi pelengkap sajian lumpia yang dihidangkan di atas piring melamin.

Paduan semuanya itulah yang menjadi magnet bagi pengunjung. Pagi itu, berbarengan dengan Jawa Pos yang bertandang sekitar pukul 10.00, pengunjung mengantre lama di kedai yang hanya bisa diisi 10-15 orang tersebut.

Kini usaha lumpia di Semarang semakin menjamur, bahkan dilakukan juga oleh orang-orang di luar garis keturunan keluarga besar Untung. Namun, Untung tak pernah merasa tersaingi. "Semakin banyak yang jual lunpia, justru semakin banyak yang tahu kalau lunpia itu ya asalnya dari Semarang," katanya.

Dalam sehari, Untung bisa menjual hingga 500 lumpia. Kalau hari libur, malah bisa lebih dari 1.000. "Resep asli ini ndak akan pernah berubah sampai kapan pun," katanya.

***

Martinus Elroy baru saja sampai di Semarang malam itu (22/3). Penerbangannya dari Singapura cukup lancar. Di Negeri Singa itu, Tinus -sapaan akrabnya- menemani sang ibunda Siem Siok Lien (Mbak Lien) melakukan medical checkup.

Photo

Meliani Sugiarto, pemilik kedai Lunpia Cik Me Me (Shabrina/Jawa Pos)

Tinus bilang, sang ibu memang lebih fokus pada kesehatannya akhir-akhir ini. Karena itu, anak-anaknyalah yang lebih banyak mengurus usaha lumpia.

Mbak Lien adalah anak Siem Swie Hie. Dia meneruskan usaha Lunpia Pemuda milik ayahnya yang kini diberi nama Loenpia Mbak Lien. Kakek Tinus itu adalah saudara kandung pengelola Lunpia Gang Lombok, Siem Swie Kiem, ayah Untung Usodo.

Loenpia Mbak Lien menawarkan lebih banyak variasi rasa. Misalnya, lumpia yang diisi jamur, kepiting, dan keju mozzarella. Konsep kedainya pun sedikit berbeda.

Siapa saja yang mampir ke Gang Grajen di Jalan Pemuda pasti akan disambut dengan gerobak yang menjual Loenpia Mbak Lien. Yang mau membeli untuk dibawa pulang, di situlah tempatnya.

Lima meter dari mulut gang tersebut, ada rumah kuno yang dijadikan sebagai kafe Loenpia Mbak Lien. Disediakan bagi mereka yang ingin menikmati lumpia langsung di tempat.

Untuk ukuran tempat nongkrong, kafe itu tak besar, tetapi sangat khas. Arsitektur berciri Jawa pada kafe itu masih dipertahankan.

Di dalamnya, bukan hanya lumpia beraneka rasa yang bisa dipesan. Beragam minuman kekinian seperti cappuccino, latte, juga dijual di kafe itu. Pun, macam-macam oleh-oleh dan cenderamata khas Semarang.

"Kami lihat pengunjung banyak anak-anak milenial. Makanya, kami ubah konsep jualan lunpia ini dengan sentuhan variasi rasa dan tempat makan yang lebih nyaman," ujar Tinus.

Sebagai generasi ke-5 penerus usaha lumpia Semarang, Tinus banyak belajar dari Mbak Lien. Menurut anak kedua di antara tiga bersaudara itu, sang ibu sering lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri. Itulah yang membuat usaha lumpianya terus bertahan.

Dari perjalanan sang ibunda menjalankan usaha, Tinus belajar bahwa banyak pengusaha besar dan terkenal yang sering tampak tidak membutuhkan orang lain. Namun, dalam bisnis lumpia yang notabene adalah produk warisan leluhur, sikap seperti itu haram dilakukan. "Kita (pengusaha, Red) yang butuh pembeli. Kita yang harus mengerti apa maunya pengunjung, yang kebanyakan milenial itu," tutur Tinus yang diamanahi mengurus manajemen operasional Loenpia Mbak Lien.

Photo

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore