Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 16 Februari 2019 | 17.05 WIB

Azan Terakhir Barok, Nasi Padang yang Tak Sempat Dinikmati Doni

Suhara mendampingi anaknya Khairul Islami, 10, yang menjadi korban ledakan di RSUD Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/2). Saat insiden itu Khairul selamat. Dua temannya meninggal. - Image

Suhara mendampingi anaknya Khairul Islami, 10, yang menjadi korban ledakan di RSUD Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/2). Saat insiden itu Khairul selamat. Dua temannya meninggal.

Granat lontar yang menewaskan Barok dan Doni sebenarnya sudah dibuang ibunda Barok. Di rumah sakit, Doni masih sempat bergurau dengan nenek dan paman.


SAHRUL YUNIZAR, Bogor


---


TATAPAN Abdul Majid tak lepas-lepas dari pekarangan persis di samping rumahnya itu. Nanar. Menyiratkan kedukaan yang mendalam.


"Saya seperti masih melihat Barok main di sana," katanya kemarin siang (15/2) sambil masih tetap menatap pekarangan yang berbatasan dengan kebun di Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu.


Di pekarangan itulah Barok alias Muhammad Ibnu Mubarok, anak Majid, kehilangan nyawa. Tepat setelah granat lontar yang dia jadikan mainan bersama Khoirul Islami meledak pada Kamis lalu (14/2). Akibat ledakan tersebut, Muhammad Doni yang tengah main ukulele sambil duduk di motor juga ikut kena.


"Kemarin (Kamis) masih azan. Setiap waktu (salat) dia azan," ungkap pria 42 tahun itu tentang siswa kelas IX SMP itu.


Air mata tampak mulai mengalir dari mata Majid. Sekuat apa pun menahan, Majid masih sulit melupakan anaknya yang berusia 11 tahun itu.


Majid dan istrinya, Siti Nurhasanah, memiliki dua putra dan seorang putri. Namun, Barok punya keistimewaan di mata Majid. Dari tiga buah hatinya, hanya dia yang berani azan setiap waktu.


"Kakak-kakaknya nggak berani. Suaranya juga bagus Barok," tutur Majid.


Dari masjid yang terletak 20 meter di samping rumahnya, suara Barok menggema. Kemarin siang, sehari setelah kepergian Barok, Majid merasa seperti masih mendengar suara sang anak mengumandangkan ajakan salat.


Begitu mendengar suara ledakan pada Kamis nahas lalu itu, Majid tak menyangka sang anak turut menjadi korban. Tapi, begitu keluar rumah, dia melihat tubuh putranya bersimbah darah. "Anak saya nggak kelihatan wajahnya, ya Allah," katanya. Air matanya kian deras mengalir.


Saat itu tidak ada yang lain dalam kepala Majid. Hanya Barok seorang. Dia lantas mengambil anaknya. Memangku tubuh mungil Barok. Sadar betul Majid saat itu, buah hatinya terluka berat.


Bukan hanya rupa wajahnya yang tampak jauh dari biasanya, beberapa bagian tubuh Barok juga penuh luka. Tidak ada lagi genggaman tangan yang biasa dia rasakan dari putranya itu. Terkulai lemas tangan Barok sepanjang perjalanan menuju RSUD Leuwiliang.


Begitu tiba di IGD rumah sakit itu, Majid dan keluarga Barok memohon agar petugas medis menyelamatkan anaknya. Bersujud-sujud dia. Namun, apa daya. Barok berpulang.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore