
Dua sejoli, Dardi Affunnai dan Hasrawati terlihat begitu bahagia dihadapan undangan. mereka menggelar resepsi pernikahan dengan konsep berbeda.
Mulai tempat duduk mempelai, kursi para tamu, sampai kotak angpau terbuat dari anyaman bambu. Ritual penyerahan mahar pun menggunakan rakit.
FARISAL, Polewali Mandar
---
DI tengah hutan bambu pasangan pengantin itu bersanding. Di bawah kelindan kembang dekorasi. Berhadapan dengan kursi bambu untuk para tamu yang dianyam rapi. Hanya beratap kain kuning dan putih.
"Saya bukan keturunan raja, tetapi niat melestarikan budaya besar," kata Dardi Affunnai yang memperistri Hasrawati kepada Fajar.
Budaya warga di Dusun Tiga Alu, Desa Alu, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, tempat hutan bambu itu berada, memang mewajibkan menjaga keseimbangan dengan alam.
Menghelat hajatan nikah di hutan bambu seluas 20 hektare Kamis lalu itu (17/1), bagi Dardi dan Hasrawati, menjadikan adat lebih membumi.
Dan, anak-anak muda zaman sekarang juga jadi bisa lebih mengenal kekayaan buÂdaya. Sekaligus menumbuhkan unsur romantisme natural.
Sehari-hari Dardi adalah penyuluh pertanian. Dia lahir di Alu, desa yang masuk wilayah Kecamatan Alu, pada 10 Januari 1986. Sementara itu, Hasrawati lahir 5 Februari 1993.
Busana yang dikenakan keluarga mempelai perempuan, misalnya, juga mencerminkan keserasian dengan alam. Berupa baju bodo, pakaian khas perempuan Sulawesi Barat, berwarna hijau.
Selaras dengan warna bambu. Kesan alam makin menyatu. Mereka memadukan baju bodo dengan sarung tenun motif kotak, kuning, dan hijau pula.
Sebuah keranjang, juga dari anyaman bambu, diletakkan di depan kedua mempelai. Fungsinya sebagai pengganti kotak passolo (tempat memasukkan angpau) yang sering dipakai pada pesta Bugis-Makassar umumnya. Sementara itu, pintu masuknya diberi hiasan bunga dan tulisan dari susunan bambu.
Untuk menghelat resepsi di tempat tidak lazim itu, persiapannya terbilang singkat. Hanya 15 hari. Desain area dikerjakan dengan gotong royong oleh keluarga Dardi.
Singkat, tetapi konsepnya sangat matang. Itu juga terlihat dari penganan tradisional yang disuguhkan. Ada undo, lawar, dan jepa.
Sementara untuk hiburan, ditandai dengan adanya suara gendang bertalu-talu. Lalu, dua pesilat beradu jurus.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
