Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Januari 2017 | 00.22 WIB

Naufal Afthony, Videographer Andalan SMAN 16 Surabaya

KAYA IDE: Naufal Afthony mengeks- presikan diri dalam sebuah karya video. Karya- karyanya sudah menghasilkan rupiah. - Image

KAYA IDE: Naufal Afthony mengeks- presikan diri dalam sebuah karya video. Karya- karyanya sudah menghasilkan rupiah.

Perkembangan internet dan media sosial memberikan ruang yang lebih luas bagi orang-orang untuk mengekspresikan diri. Salah satunya lewat video yang diunggah dengan tema-tema tertentu. Naufal Afthony, 18, tak mau ketinggalan.



ANTIN IRSANTI



SEORANG pemuda bertubuh ceking keluar dari masjid. Masih terngiang kata-kata ustad barusan, ”Seorang muslim itu selalu mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk.”


Di bibir teras masjid, tinggal selangkah lagi untuk pulang. ”Ambil sandal Pak Ustad aja ah,” ucapnya buru-buru memakai sandal yang lebih bagus daripada sandal jepit buluk miliknya. Kacamata dipakai, lalu dia pergi meninggalkan masjid. Gubrak. Adegan slow motion memperlihatkan si pemuda pergi dengan lagak selangit. Para jamaah di sekitarnya berjatuhan.


Itulah cuplikan video Instagram berjudul Amanah Pak Ustad. Pengarangnya Naufal Afthony. Siswa kelas XII SMAN 16 Surabaya tersebut juga bertindak sebagai kamerawan sekaligus pemain dalam video berdurasi satu menit itu.


Naufal memang hobi membuat video sejak kelas X. Kala itu, ada tugas pelajaran bahasa Indonesia untuk membuat video tentang cara bernegosiasi. Naufal dengan ide preman memalak anak berhasil memukau teman-teman dan gurunya. Selain ceritanya unik, pembuatan videonya dinilai cukup rapi. ”Dari situ makin tertarik membuat video,” terang remaja kelahiran 1 Januari 1999 itu.


Bagi Naufal, hobi tidak boleh dijalani dengan main-main. Karena itu, dia selalu memaksimalkan kesempatan yang dimiliki. Misalnya, Sabtu dan Minggu saat sekolah libur. Dia memanfaatkan untuk menghasilkan karya. Bukan hanya video, melainkan juga tulisan di blog pribadinya atau gambar.


Sejak kelas II SD Naufal memang suka menulis dan menggambar. Kegiatan tersebut ditiru dari sang ibu, Evy Uailik. Karena itu, tulisan yang dibuatnya selalu berisi tentang pengalaman dan motivasi.


Seiring perkembangan dunia digital, Naufal menemukan media yang lebih canggih dalam proses pembuatan film. Untuk menghasilkan gambar yang bagus, dia menggunakan efek-efek tertentu. Juga, memilih pemeran yang andal berakting.


Dengan modal kamera pinjaman, Naufal menjajal peruntungan dalam kompetisi pada 2015. Dia menjuarai digital video tingkat Surabaya yang diselenggarakan salah satu operator seluler nasional. Juga, juara II lomba film pendek life skill yang diselenggarakan Dispendik Surabaya.


Meski demikian, ada satu video yang sangat berkesan baginya. Yakni, video tentang anak disleksia. Sebenarnya, karya itu dibuat untuk mengikuti lomba. Namun, ternyata skrip yang dibuat Naufal tak menarik perhatian juri. Akibatnya, dia tidak lolos nominasi.


Apresiasi justru datang dari teman-temannya. Mereka beranggapan, video buatan Naufal bagus dan isinya mengena. Dari situ pula, dia mendapat tawaran mengabadikan momen sweet seventeen teman sekolahnya. ”Alhamdulillah, dari situ dapat bayaran. Bisa buat tambahan uang saku,” ungkapnya.



Naufal juga mengaktifkan sistem monetisasi di video YouTube-nya. Dengan demikian, pengiklan bisa menggunakan videonya untuk memasarkan produk. Kemudian, bayaran dikirim melalui rekening. Dari usaha kecil-kecilan yang dibuatnya itu, dia mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Salah satunya membeli laptop untuk mempermudah pekerjaan. (*/c6/nda/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore