
Warga berupaya menaikkan buaya raksasa yang ditangkap dua orang pedagang keliling dari sungai langkai, Jumat (26/5).
Dua pedagang keliling di Batam mengambil risiko melawan buaya karena khawatir si buaya bakal mengancam aktivitas mereka dan warga lain. Hanya berbekal kayu sambungan, tali jangkar, dan satu senter.
EUSEBIUS SARA, Batam
---
DENGAN pelan-pelan, dua pria itu mendorong dua batang kayu yang sudah disambung. Di ujungnya dipasang tali jangkar yang telah diubah menjadi jerat Hari beranjak senja. Mulai gelap. Di tangan Doni Efendi dan Erwin, dua pria tersebut, hanya ada satu senter sebagai sumber penerangan. Sementara itu, beberapa meter dari perahu pancung yang mereka naiki, sang "musuh" begitu menggetarkan: besar, diam, seolah memang sudah menunggu untuk diserang dan menyiapkan serangan balik!
Satu, dua, tiga, saat jerat sudah sampai di hadapan moncong sang musuh, sial, tali tersangkut sesuatu. Butuh waktu yang tak sebentar bagi mereka untuk melepaskan tali itu dari sangkutan. Sekaligus memikirkan bagaimana memasukkan jerat ke leher si buaya.
Baru setelah badannya bergerak karena disenggol dengan kayu, jerat itu masuk ke leher. Selesai? Malah sebaliknya. Buaya besar tersebut, sang musuh itu, berontak.
Dengan tenaga besarnya, ia menyeret Doni dan Erwin yang memegangi tali ke hilir. Yang diseret berusaha keras menahan laju buaya. Suasana pun menjadi sangat menegangkan.
Pada detik-detik kritis itu, pikiran mereka berkecamuk: Bagaimana jika buaya sepanjang sekitar 5 meter tersebut balik badan dan menyerang? Sementara hari kian gelap. Dan, tak ada siapa pun di tepian Sungai Seilangkai, Sagulung, Batam, senja itu, selain mereka...
---
Semuanya seolah berjalan seperti biasa pada Kamis sore lalu (25/5) itu bagi Doni dan Erwin. Mereka menyusuri Sungai Seilangkai dalam perjalanan pulang setelah menjajakan barang dagangan ke beberapa pulau kecil di sekitar Batam.
Sudah bertahun-tahun mereka menggeluti pekerjaan sebagai pedagang keliling. Dengan mereka bertempat tinggal di Perumahan Putera Moro 2 dan Perumahan Puteri Hijau di Kelurahan Seilekop, Kecamatan Sagulung, Kota Batam, Sungai Seilangkai merupakan jalur satu-satunya menuju rumah.
Melihat monyet berloncatan atau beragam binatang air pun praktis sudah menjadi makanan sehari-hari mereka tiap pergi atau pulang lewat sungai itu. Tapi, sore itu, sekitar 2 kilometer dari hilir, di mana rumah mereka berada, pandangan keduanya bersirobok dengan sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya: seekor buaya besar yang tengah berjemur di rawa-rawa di tepi sungai.
Terkejut, tentu saja. Doni dan Erwin seketika menghentikan laju perahu pancung. Mereka lalu mengamati buaya tersebut dari jarak sekitar 6 meter.
"Tampak diam dan tenang saja buaya itu. Justru kami yang khawatir, takut diserang," ujar Doni kepada Batam Pos (Jawa Pos Group).
Meski dilanda rasa takut yang luar biasa, Doni langsung mengabadikan gambar buaya raksasa itu dengan ponsel pintarnya. Lantas mengunggahnya ke media sosial.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
