Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 31 Mei 2017 | 13.35 WIB

Kisah Heroik Dua "Jaka Tingkir" dari Batam Menaklukkan Buaya 5 Meter

Warga berupaya menaikkan buaya raksasa yang ditangkap dua orang pedagang keliling dari sungai langkai, Jumat (26/5). - Image

Warga berupaya menaikkan buaya raksasa yang ditangkap dua orang pedagang keliling dari sungai langkai, Jumat (26/5).

Dua pedagang keliling di Batam mengambil risiko melawan buaya karena khawatir si buaya bakal mengancam aktivitas mereka dan warga lain. Hanya berbekal kayu sambungan, tali jangkar, dan satu senter. 



EUSEBIUS SARA, Batam 



--- 



DENGAN pelan-pelan, dua pria itu mendorong dua batang kayu yang sudah disambung. Di ujungnya dipasang tali jangkar yang telah diubah menjadi jerat Hari beranjak senja. Mulai gelap. Di tangan Doni Efendi dan Erwin, dua pria tersebut, hanya ada satu senter sebagai sumber penerangan. Sementara itu, beberapa meter dari perahu pancung yang mereka naiki, sang "musuh" begitu menggetarkan: besar, diam, seolah memang sudah menunggu untuk diserang dan menyiapkan serangan balik! 



Satu, dua, tiga, saat jerat sudah sampai di hadapan moncong sang musuh, sial, tali tersangkut sesuatu. Butuh waktu yang tak se­bentar bagi mereka untuk melepaskan tali itu dari sangkutan. Sekaligus memikirkan bagaimana memasukkan jerat ke leher si buaya.



Baru setelah badannya bergerak karena disenggol dengan kayu, jerat itu masuk ke leher. Selesai? Malah sebaliknya. Buaya besar tersebut, sang musuh itu, berontak. 



Dengan tenaga besarnya, ia menyeret Doni dan Erwin yang memegangi tali ke hilir. Yang diseret berusaha keras menahan laju buaya. Suasana pun menjadi sangat menegangkan. 



Pada detik-detik kritis itu, pikiran mereka berkecamuk: Bagaimana jika buaya sepanjang sekitar 5 meter tersebut balik badan dan menyerang? Sementara hari kian gelap. Dan, tak ada siapa pun di tepian Sungai Seilangkai, Sagulung, Batam, senja itu, selain mereka...



---



Semuanya seolah berjalan seperti biasa pada Kamis sore lalu (25/5) itu bagi Doni dan Erwin. Mereka menyusuri Sungai Seilangkai dalam perjalanan pulang setelah menjajakan barang dagangan ke beberapa pulau kecil di sekitar Batam. 



Sudah bertahun-tahun mereka menggeluti pekerjaan sebagai pedagang keliling. Dengan mereka bertempat tinggal di Perumahan Putera Moro 2 dan Perumahan Puteri Hijau di Kelurahan Seilekop, Kecamatan Sagulung, Kota Batam, Sungai Seilangkai merupakan jalur satu-satunya menuju rumah. 



Melihat monyet berloncatan atau beragam binatang air pun praktis sudah menjadi makanan sehari-hari mereka tiap pergi atau pulang lewat sungai itu. Tapi, sore itu, sekitar 2 kilometer dari hilir, di mana rumah mereka berada, pandangan keduanya bersirobok dengan sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya: seekor buaya besar yang tengah berjemur di rawa-rawa di tepi sungai. 



Terkejut, tentu saja. Doni dan Erwin seketika menghentikan laju perahu pancung. Mereka lalu mengamati buaya tersebut dari jarak sekitar 6 meter. 



"Tampak diam dan tenang saja buaya itu. Justru kami yang khawatir, takut diserang," ujar Doni kepada Batam Pos (Jawa Pos Group).



Meski dilanda rasa takut yang luar biasa, Doni langsung mengabadikan gambar buaya raksasa itu dengan ponsel pintarnya. Lantas mengunggahnya ke media sosial. 

Editor: Thomas Kukuh
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore