Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 Agustus 2017 | 03.53 WIB

Dhurung, Lumbung Multifungsi Khas Bawean, untuk Simpan Padi dan Ngaji

TERAWAT: Dhurung yang ada di desa Pudakit Timur, Sangkapura, Bawean diwariskan dari generasi ke generasi keluarga Tofel. Dari empat durung yang dimiliki Tofel, hanya tiga yang bertahan. - Image

TERAWAT: Dhurung yang ada di desa Pudakit Timur, Sangkapura, Bawean diwariskan dari generasi ke generasi keluarga Tofel. Dari empat durung yang dimiliki Tofel, hanya tiga yang bertahan.

Dhurung bukan sekadar bangunan pelengkap bagi sebagian rumah warga Bawean, pulau yang berjarak sekitar 120 kilometer di utara Gresik, Jawa Timur. Ia bisa jadi tempat berkumpul dan menerima tamu. Balai tanpa dinding itu juga wujud ketahanan pangan Pulau Putri –sebutan Bawean.


Salman Muhiddin, Bawean


SAAT ombak tenang, kapal cepat dari Pelabuhan Gresik harus menempuh waktu tiga jam untuk mencapai Pulau Bawean. Ada dua hingga tiga kali pelayaran setiap pekan. Barang-barang dari Jawa dengan mudah keluar masuk. Termasuk bahan makanan.


Namun, ratusan tahun lalu tidak demikian. Misalnya saat banyak kapal dagang Eropa yang singgah ke Bawean untuk mengisi perbekalan. Saat itu Bawean sudah jadi pulau mandiri. Stok padi aman untuk penduduk satu pulau. Bahkan mencukupi pendatang.


Dahulu warga menyimpan padi hasil panen di sebuah dhurung, bangunan dengan atap limasan. Khas Jawa. Atap bangunan itu didesain dua kali lipat lebih luas daripada balai-balai yang ada di bawahnya. Sengaja. Biar bisa menampung padi sebanyak-banyaknya.


Dhurung milik Tofel, salah seorang warga Bawean yang berprofesi sebagai penata rambut, punya ukuran langit-langit 5 x 10 meter. Sedangkan ukuran amben tempat duduk hanya 2 x 6 meter.


Sayang, dhurung semakin sulit dijumpai. Ada yang rusak karena termakan usia. Ada juga yang dijual kepada kolektor. Tapi, sisa-sisa peninggalan arsitektur Bawean itu masih bisa dijumpai di Desa Pudakit Timur. Daerah perbukitan di atas hamparan sawah nan hijau. Dari Pelabuhan Sangkapura, perjalanan hanya 10 menit kalau naik motor.


Tofel adalah warga Pudakit Timur yang masih melestarikan dhurung. Bahkan, dia punya empat dhurung. Ya, keluarganya punya banyak sawah. Karena itu, mereka harus punya banyak dhurung agar padi yang dipanen bisa disimpan hingga musim panen berikutnya.


Sayang, salah satu dhurung miliknya sudah rusak termakan usia. Sudah ”dimutilasi”. Rangkaian kayu-kayu dan genting dhurung teronggok di depan rumahnya. ”Sekarang tinggal tiga. Yang terisi padi cuma satu,” jelas Tofel kepada Jawa Pos pertengahan Mei lalu.


Sebagian besar kayu dhurung yang dia gunakan untuk menyimpan beras itu bercat merah. Terlihat ukiran-ukiran bermotif bunga dan dedaunan. Ukiran tersebut terdapat di bagian tiang atau pang-pang, langit-langit, dan jelepang atau penghalang tikus. Semakin rumit ukirannya, semakin tinggi status sosial pemilik.


Bagian lantai dhurung terdiri atas bilah-bilah kayu yang disusun secara simetris. Di tepian amben tersebut, terdapat papan kayu penguat yang disebut penggepak. Dari amben itu, terlihat lantai tanah. Biasanya, bagian bawah dhurung digunakan sebagai kandang ayam atau tempat menyimpan kayu bakar.


Jelepang adalah bagian penting. Fungsinya menghalangi tikus yang hendak naik dari empat tiang penyangga. Desain jelepang bermacam-macam, sesuai keinginan pemilik. Dhurung milik Tofel memiliki jelepang berbentuk bundar. Namun, ada juga jelepang yang berbentuk kotak atau persegi panjang. Meski bentuknya berbeda, fungsinya tetap sama.


Untuk masuk ke gudang padi, terdapat pintu berukuran 1 meter persegi. Ada gembok kuno yang mengunci pintu itu. Sudah penuh karat. Tapi, gembok bertulisan Baldur tersebut masih berfungsi normal. Pegasnya masih berfungsi hingga masih mengeluarkan bunyi klik saat gembok dibuka.


Tofel naik melalui tangga. Di ruangan itu, masih ada belasan karung padi. Hasil panen tahun lalu masih tersisa banyak. Masih awet dan bisa dikonsumsi. Ruangan itu tertutup cukup rapat, tapi tidak pengap. Angin dapat masuk melalui sela-sela genting. Itulah yang membuat padi dapat bertahan lama.


Musuh dhurung adalah rayap. Karena itulah, kaki-kaki bangunan tidak ditancapkan langsung ke tanah. Terdapat batu pijakan. Agar lebih kuat, kaki dhurung disemen.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore