Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Juni 2017 | 15.13 WIB

Ki Bambang Sugio, Abdikan Hidup untuk Melestarikan Wayang Jawa Timuran

KAYA PENGALAMAN: Ki Bambang Sugio memainkan wayang Ki Semar dan Janaka pada akhir Juni 2017 di kediamannya, Desa Jogosatru, Sukodono, Sidoarjo. - Image

KAYA PENGALAMAN: Ki Bambang Sugio memainkan wayang Ki Semar dan Janaka pada akhir Juni 2017 di kediamannya, Desa Jogosatru, Sukodono, Sidoarjo.

Puluhan tahun Ki Bambang Sugio membuktikan dedikasinya terhadap seni wayang kulit. Setelah malang melintang di atas panggung, dia tergerak mengajari para pemuda untuk mendalang tanpa menarik bayaran.


RESVIA AFRILENE, Sidoarjo


DUA wayang itu digenggam dengan erat. Ki Semar di tangan kiri dan Janaka di tangan kanan. "Janaka sedang minta nasihat spiritual kepada Ki SemarKan Semar itu dewa yang menyamar jadi manusia. Istilahnya, panjelmo," tutur Bambang di ruang tamu rumahnya, Desa Jogosatru, Sukodono.


Dengan fasih, Bambang melantunkan bait-bait suluk. Itu adalah tembang khas berbahasa Jawa halus yang biasa dinyanyikan saat memainkan wayang. Bukan hanya krama inggil, beberapa kata yang muncul bahkan menggunakan bahasa Jawa kuno.

Siang itu Bambang sedang berlatih. Tak lupa, dia mengenakan belangkon bermotif batik cokelat. Meski sudah merasakan panggung pergelaran wayang kulit sejak 45 tahun lalu, Bambang tetap sering "beraksi" sen­dirian seperti itu. Bagi dia, hal tersebut bukan hanya soal mengasah keahlian, tetapi seperti pengobat rindu.

Meskipun tangan kirinya baru saja didera stroke, Bambang tetap terlihat piawai memainkan golekan wayang kulit itu. Sabetan-sabetan khas yang biasa dibawakan pun masih tampak mantap.

Bambang menuturkan, kecintaan pada wayang merupakan panggilan hati. Selepas lulus dari SMPN 1 Krian, dia enggan meneruskan sekolah. "Zaman itu, kalau nggak keluarga bangsawan atau pegawai negeri ya tidak bisa masuk SMA," ujar pria yang kini menginjak 68 tahun tersebut.

Bambang tak mau membuat kedua orang tuanya yang bekerja sebagai petani kebingungan mencari biaya sekolah. Dia tak tega. "Saya SMP saja sudah bayar sekolah sendiri. Dulu mreman (menjadi buruh tanam, Red) di kebun tebu," ujarnya. 

Keinginan untuk menjadi dalang datang setelah melihat pergelaran wayang kulit di desa tetangga. Setelah mendapatkan izin dari sang ayah, Bambang mulai belajar mendalang. Persisnya pada 1963. Dia berguru dari salah seorang dalang kondang di Sidoarjo pada masa itu. Namanya Ki Dalang Tomo asal Waru.

"Saya belajar tiga tahun. Tapi, nggak pernah diajari teori suluk atau sabetan sama sekali," ujarnya. Rupanya, Bambang sengaja diajari dengan pendekatan "pengamatan". Karena itu, dia selalu ikut ke mana pun Ki Dalang Tomo manggung. "Ilmu niteni. Setiap hari ada tanggapanNggak pernah istirahat. Apalagi, ke mana-mana naik becak. Ya Allah kalau hujan sengsaranya minta ampun," ucapnya, sambil geleng-geleng kepala.

Pada 1968 Bambang akhirnya mendapatkan kesempatan perdana untuk pentas bersama wiyaga atau penabuh gamelan di acara pernikahan tetangga. Meski dibayar seadanya, dia berusaha menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Setelah melalui proses panjang, prestasi mulai diperoleh Bambang pada 1983. Dia menjadi juara Lomba Dalang Kabupaten Sidoarjo. Bambang juga menyabet juara umum dalam Festival Pekan Dalang Jawa Timur pada 1995. Sejak saat itu, namanya terus melambung. Job tak pernah sepi. Bahkan, setelah Lebaran ini, dia sudah dikontrak enam pergelaran wayang.

Menurut Bambang, wayang kulit tak boleh punah. Ketetapan hati tersebut membuat Bambang rela mengajar dalang tanpa dibayar. "Istilahnya nyantrik. Saya nggak apa-apa tidak dibayar asalkan seni wayang kulit pun kelindes (tidak tergerus, Red) kesenian yang negatif buat budaya kita," tegasnya.

Kini sudah ada belasan anak muda yang nyantrik kepada Bambang. Beberapa malah sudah menemukan wiyaga dan berani manggung sendiri hingga ke luar kota. 

Dia lantas menyebutkan ragam pentas wayang kulit Jawa Timuran yang penuh ciri khas. Mulai keberadaan limbuk, gending gondokusuma, sampai pelok dan slendro yang berhubungan dengan sejarah Majapahit. "Selama nyawa masih menempel di raga saya. Saya ndak mau berhenti jadi dalang dan ngajar nyantrik," katanya. (*/c21/pri)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore