Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 Maret 2017 | 05.56 WIB

Parno, Pengurus Pura Jagat Giri Natha dan Perajin Rotan Dusun Biyodo

KEAHLIAN LELUHUR: Kemarin Parno menghias ogoh-ogoh untuk persiapan Hari Raya Nyepi. Dia menjadi penganyam rotan sejak umur sepuluh tahun. - Image

KEAHLIAN LELUHUR: Kemarin Parno menghias ogoh-ogoh untuk persiapan Hari Raya Nyepi. Dia menjadi penganyam rotan sejak umur sepuluh tahun.

Dusun Biyodo, Gresik, beken dengan ogoh-ogoh rotan. Sebagian besar warganya memang andal membuat anyaman. Salah satunya Parno yang selalu membikin ogoh-ogoh rotan sebagai masterpiece.



OKKY PUTRI RAHAYU



KEPERCAYAAN Buddha Jawi Wisnu kala Majapahit adalah cikal bakal agama Hindu di Dusun Biyodo, Gresik. Dengan lokasi yang nyelempit, komunitas Hindu di kawasan tersebut kini berjumlah tidak lebih dari 200 jiwa. Semua hidup guyup dan memelihara satu keahlian turun-temurun. Yakni: menganyam rotan.


Salah satu perajin rotan yang dimiliki Dusun Biyodo adalah Parno. Pengurus Pura Jagat Giri Natha tersebut bahkan selalu dipercaya sebagai tokoh di balik pembuatan ogoh-ogoh rotan setiap tahun. Tidak heran, sudah lebih dari empat puluh tahun Parno akrab dengan kegiatan menganyam.


Awalnya, keterampilan tangan Parno terasah saat dirinya berumur 10 tahun, tepatnya ketika duduk di bangku sekolah dasar. Kemampuan menganyam itu merupakan warisan dari leluhurnya. Gurunya adalah orang tuanya yang juga perajin rotan.


Bermula dari sekadar membantu orang tua, kemampuan menganyam Parno semakin sip. Sambil bersekolah, dia membantu orang tua. Saat masuk sekolah kejuruan, dia baru berusaha mandiri.


Awalnya, Parno adalah pengolah bahan baku rotan. Dia punya alat khusus untuk membersihkan sisa-sisa daun di rotan. Setelah itu, para pegawainya yang menganyam.


Kala itu kerajinan anyaman rotan sempat menjadi primadona. Bahkan, Dusun Biyodo menguasai pasar hingga di beberapa tempat di luar Gresik. Dari sana, Parno terus kebanjiran pesanan dan ikut melejitkan nama Biyodo sebagai salah satu penghasil produk anyaman rotan terbaik.


Seluruh warga guyup dan mengembangkan kemampuan masing-masing dalam menghasilkan produk terbaik. Hal itu kian mendongkrak nama Biyodo.


Namun, masa kejayaan tersebut tidak lama dirasakan Parno. Pendapatannya merosot. Pesaing dari luar Biyodo menggila. Pekerjanya habis. Alatnya dijual.


Bertepatan dengan krisis moneter pada 1998, Parno memutuskan kembali menjadi perajin. Dia mengasah kembali kemampuan menganyamnya.


Ayah dua anak itu tidak mau kehilangan kreativitas. Dia terus mencari peluang di tengah tingginya persaingan. Termasuk membuat produk kerajinan yang belum pernah dibuat. Misalnya, hiasan berupa bentuk-bentuk binatang.


Langkah itu merupakan salah satu cara Parno untuk tetap bertahan dalam usahanya. Yakni, berinovasi. Dia pun tidak pernah bermimpi mencoba pekerjaan lain. Dia fokus pada kemampuannya sejak kecil. Yakni, menganyam.


Dalam tiga tahun terakhir, hampir seluruh warga Biyodo merasakan merosotnya pesanan produk rotan. Tidak sedikit perajin Biyodo yang lantas beralih profesi dan pergi merantau. Saat perajin lain mulai putus asa, Parno masih memilih tinggal.


Bagi Parno, banyak alasan yang menahannya untuk tinggal. Selain usianya yang sudah menginjak 53 tahun, Desa Biyodo ibarat jantung hatinya yang tidak ingin ditinggal merantau. Begitu pula Pura Jagat Giri Natha. ’’Mimpi sih ada. Tapi, saya kubur saja. Asalkan tetap di sini,’’ katanya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore