Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 26 Februari 2017 | 01.31 WIB

Semalam Bersama Korban Puting Beliung Desa Terung Kulon, Krian (Habis)

GOTONG ROYONG: Para pemuda Dusun Kasak, RT 02, RW 03, mendistribusikan bantuan material ke rumah-rumah warga Selasa malam (21/2). - Image

GOTONG ROYONG: Para pemuda Dusun Kasak, RT 02, RW 03, mendistribusikan bantuan material ke rumah-rumah warga Selasa malam (21/2).

Rasa trauma masih menyelimuti perasaan Nur Roikhah dan keluarganya Selasa malam (21/2). Selain kehilangan suami Mukhyidin, roda ekonomi keluarga pun berhenti lantaran warung miliknya hancur tertimpa pohon jati.



SEPTINDA AYU PRAMITASARI



NUR Roikhah, salah seorang korban bencana puting beliung di Dusun Kasak RT 02, RW 03, Desa Terung Kulon, Krian, masih tidak percaya dengan apa yang tengah menimpanya saat ini. Rumah porak-poranda. Warung yang menjadi satu-satunya mata pencaharian ikut hancur. Selain itu, suaminya, Mukhyidin, meninggal dunia karena sakit infeksi tenggorokan.


’’Saiki aku kudhu piye? (sekarang aku harus bagaimana?),” kata Roikhah kepada Jawa Pos saat perbincangan Selasa malam (21/2). Perempuan 53 tahun itu menyadari bahwa semua yang menimpanya saat ini adalah takdir Tuhan. Roikhah berusaha untuk bangkit. Namun, hal tersebut sulit untuk dilakukan.


Ya, sejak suaminya sakit infeksi tenggorokan, Roikhah adalah tulang punggung keluarga. Sehari-hari dia berdagang rujak cingur di warung kecil depan rumah. Dia harus mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya. Belum lagi, mengobati suaminya yang sedang sakit cukup parah. ”Saben ndino nabung gawe ngobati bapak (setiap hari nabung untuk mengobati bapak),” ujarnya.


Sejatinya, dia memiliki kartu Indonesia sehat (KIS) untuk mengobati suaminya. Namun, pihak rumah sakit di Sidoarjo selalu merujuk Mukhyidin ke RSUD dr Soetomo. Meski gratis, Roikhah menyebut tetap harus mengeluarkan uang yang cukup besar untuk mengantar suami ke rumah sakit milik Provinsi Jatim itu. ”Mondar-mandir ke RSUD dr Soetomo juga butuh ongkos. Enggak mungkin naik motor, apalagi angkutan. Jadi, harus carter mobil,” ujarnya.


Roikhah menyatakan, beberapa kali suaminya berobat ke RSUD dr Soetomo sesuai dengan rujukan. Tetapi, Mukhyidin tidak betah. Alasannya, dia harus menunggu antrean yang cukup panjang. Akhirnya, suami memilih pengobatan alternatif. ”Sudah jalan beberapa kali pengobatan alternatif. Kondisi bapak juga sudah mendingan. Bengkak di tenggorokannya mulai kempis,” katanya.


Harapan sembuh total pun sangat besar. Namun, Tuhan berkehendak lain. Suami Roikhah meninggal setelah bencana puting beliung menimpa rumahnya. Padahal, seluruh keluarga telah berusaha keras untuk menyembunyikan kondisi rumah yang porak-poranda itu dari Mukhyidin dengan cara menitipkan ke rumah tetangga. ”Mungkin memang sudah takdirnya begitu. Saya tetap bersyukur suami meninggal dalam kondisi baik,” ujarnya.


Roikhah menyatakan tidak bisa membayangkan jika dirinya bersama keluarga tidak berobat lebih awal pada saat itu. Rumahnya yang hancur tersapu angin bisa jadi akan menimpa keluarganya. Apalagi, rumahnya tertimpa pohon jati.


Pascabencana puting beliung di Desa Terung Kulon, Bupati Saiful Ilah sempat mengunjungi Mukhyidin yang mengungsi di rumah tetangga. Bahkan, Mukhyidin diwawancarai oleh beberapa media dengan didampingi bupati. Saat itu, kondisi Mukhyidin memang memprihatinkan karena sakit infeksi tenggorokan. Namun, pria 60 tahun tersebut masih bisa menjawab pertanyaan media dan bupati. ”Bu camat dan bupati sempat jenguk bapak di rumah tetangga. Bapak mengetahui kalau rumahnya terkena puting beliung, tapi belum lihat sama sekali kondisinya,” ungkapnya.


Setelah suaminya meninggal, lanjut dia, keluarganya memutuskan untuk tinggal di rumah sendiri. Meski kondisinya masih sangat berantakan dan atap hancur. Dia bersama anak-anaknya berusaha untuk menyelamatkan barang-barang yang masih bisa dipakai. Kasur kapuk yang basah dan kotor karena terkena puting beliung dan hujan pun dijemur. Dapur dan seluruh perkakasnya sudah tidak berbentuk lagi. Pompa air ikut terendam banjir.


Saat itu, belum ada bantuan yang datang untuk Roikhah. Dengan uang seadanya, dia menutupi atapnya dengan terpal hingga habis Rp 4 juta. Awal-awal pascabencana, dia hanya mengandalkan nasi bungkus dari para relawan. Jika ingin mandi dan masak, dia terpaksa nebeng di rumah tetangga. ”Alhamdulillah, tetangga saya orangnya baik,” katanya.


Namun, Roikhah dan anak-anaknya lambat laun tidak enak kepada tetangga karena selalu nebeng. Akhirnya, dapur yang masih rusak terpaksa digunakan untuk memasak. Pompa air pun mulai diperbaiki. Meski begitu, kondisi rumahnya yang belum diperbaiki sama sekali itu masih tidak layak untuk dihuni. ”Sejelek-jeleknya rumah, tetap lebih enak rumah sendiri,” ungkapnya.


Inama, 33, putri Roikhah, menyatakan, keluarga terpaksa memfungsikan rumah yang belum diperbaiki itu untuk pengajian meninggalnya sang ayah, Mukhyidin. Meski setiap malam, dia dan keluarga harus terus waswas ketika turun hujan. Sebab, atap yang ditutupi terpal itu tidak cukup kuat untuk menahan hujan yang cukup deras. Sebagian atap yang tertutup terpal masih bocor. Bahkan, saat hujan deras, suara hujan bercampur angin terdengar begitu kencang hingga membuat seluruh keluarga cemas. ”Senin malam (20/2) hujan deras. Anginnya kencang. Atap yang ditutup terpal seperti mau roboh. Baru bisa tidur 00.30,” katanya.


Dia berharap bantuan dari pemerintah segera turun. Setidaknya dapat memperbaiki atap yang sudah hancur. Saat itu, keluarganya baru mendapatkan bantuan 500 keping genting. Padahal, kebutuhan genting untuk bisa menutup seluruh atap rumahnya sekitar 1.500 keping. ”Ini sudah seminggu belum ada bantuan,” ujarnya pada Selasa malam (21/2).

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore