
TIDAK TRAUMA: Eni Emiyanti mendandani Dwi Maulana sebelum berangkat ke sekolah. Sementara itu, Inayatul Izza menung gui sambil menonton TV di ruang kamar darurat.
Delapan hari bencana puting beliung di Desa Terung Kulon dan Keboharan, Kecamatan Krian, berlalu. Namun, ratusan warga korban puting beliung belum bisa melupakan peristiwa tersebut. Trauma dan ketakutan masih menyelimuti hari-hari mereka.
SEPTINDA AYU PRAMITASARI
”BUK, enggak pakai kaus kaki ya. Kaus kakinya hilang,” kata Inayatul Izza, 9, kepada ibunya, Nuril Kamila, 29, di dalam ruang sempit belakang rumah yang tersapu angin puting beliung di Dusun Kasak, Desa Terung Kulon, kemarin (22/2). Tanpa menunggu jawaban sang ibu, Izza langsung mengambil sepatu hitamnya di samping kursi dan memakainya.
Sementara itu, Nuril masih berusaha mencari kaus kaki di tumpukan pakaian yang berantakan di atas ranjang. Wajahnya lesu. Sebab, letak pakaian-pakaian tersebut tidak jelas karena bercampur dengan barang-barang rumah tangga lain yang tersapu angin puting beliung. ”Enggak ada, Nduk. Wis enggak usah pakai kaus kaki saja,” perintahnya.
Kondisi rumah Nuril setelah bencana puting beliung memang masih sangat berantakan. Rumah tua berukuran 10 x 25 meter itu rusak berat. Seluruh atap tersapu angin. Sebagian tembok dan kayu penyangga pun roboh.
Hingga kemarin, rumah itu belum bisa ditempati. Belum ada material yang cukup untuk memperbaiki atap rumah yang habis dilahap angin tersebut. Sejak bencana puting beliung menimpa desanya pada 15 Februari, Nuril bersama keluarga tinggal di bangunan rumah yang belum jadi 100 persen. Lokasinya tepat di belakang rumah yang tersapu angin puting beliung.
Kondisi bangunan yang belum jadi itu pun sangat memprihatinkan. Ruang yang bisa dimanfaatkan hanya satu kamar dengan ukuran 3 x 3 meter dan musala kecil sekitar 2,5 x 2,5 meter. Dua kamar tersebut digunakan untuk tidur enam orang. Sebab, ada dua keluarga di dalam satu rumah. Belum lagi ditambah tumpukan perkakas rumah tangga dan pakaian.
Saat itu, wartawan Jawa Pos merasakan langsung tinggal semalam di rumah Nuril. Situasi pascabencana puting beliung yang belum stabil tidak menyurutkan semangat keluarga Nuril untuk tetap beraktivitas seperti biasa. ”Anak-anak tetap sekolah sejak tiga hari pascabencana puting beliung,” kata Nuril saat menyapa Jawa Pos dengan menyuguhkan secangkir air putih di meja.
Peristiwa 15 Februari lalu masih teringat jelas di benak Nuril. Kala itu, perempuan yang tengah hamil empat bulan tersebut sedang santai di dalam rumah bersama keluarga. Cuaca pun sangat cerah. Sama sekali tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. ”Waktu itu, saya selesai memandikan dua anak saya (Izza dan M. Ainun Haq). Saya juga sempat menyuapi anak pas makan sore,” kisahnya.
Tiba-tiba langit sangat mendung. Gelap. Nuril dan kakaknya, Eni Emiyati, yang saat itu berada di rumah sama sekali tidak menyangka bahwa mendung tersebut adalah awal malapetaka di desanya. ”Saya pikir kan mendung biasa. Jadi, saya biasa saja. Tidak ada bunyi guntur juga,” katanya.
Tiba-tiba terdengar suara angin sangat kencang seperti helikopter hendak mendarat. Dia semakin panik. Suapan pertama untuk Izza dihentikan oleh Nuril. Dia langsung mendekap kedua anaknya dan membawanya ke luar rumah. ”Saya lari ke teras. Mendekap kedua anak saya dan menutup matanya. Saya takut sambil terus bertakbir,” katanya.
Begitu pula Eni. Dia lari keluar mengikuti Nuril sambil menyelamatkan anaknya, M. Dwi Maulana. Eni berupaya mendekap anaknya dan menempelkan tubuhnya menghadap tembok. Angin kencang tersebut terus memutari rumah-rumah penduduk. Atap genting beterbangan. Seluruh perkakas dapur keluar rumah. Asbes-asbes rumah tetangga pun terbang. Tembok rumah hancur. ”Saya teriak saat melihat seluruh rumah terbang. Seperti melihat langsung film 2012. Seperti sudah kiamat,” ungkap Eni.
Tidak hanya panik menyelamatkan diri sendiri. Eni juga sangat mengkhawatirkan ayahnya, Syahil Sunardi, yang masih berada di dalam kamar. Sebab, sang ayah yang pikun tidak mau ikut ke luar rumah. Padahal, angin kencang tersebut sudah habis memakan atap rumah.
Angin puting beliung tersebut terjadi sekitar 7–8 menit. Sangat cepat. Ketika angin kencang itu berlalu, Eni dan Nuril mendapati rumahnya porak-poranda. Genting berantakan. Perabotan rumah tidak keruan. Apalagi, disusul hujan yang cukup deras sehingga kondisi rumah semakin mengenaskan.
Isak tangis tidak kuasa ditahan. Eni dan Nuril menangis sejadi-jadinya. Begitu pula tetangga rumah yang mengalami kondisi serupa. Eni dan Nuril langsung lari ke dalam untuk melihat kondisi ayah mereka. Hatinya sedikit lega ketika melihat ayahnya tidak terluka sama sekali. ”Hanya atap kamar ayah saya yang tidak ikut terangkat,” katanya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
