Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 April 2017 | 23.17 WIB

Hj Umi Fahriah, Janda Pulau Putri yang Tolak Banyak Lamaran Lelaki

TIDAK BUTUH SUAMI: Umi tengah menjaga Abba Mart, minimarket miliknya. - Image

TIDAK BUTUH SUAMI: Umi tengah menjaga Abba Mart, minimarket miliknya.


Sejak suaminya, Sairi, meninggal, tak tebersit keinginan menikah lagi. Begitu cinta dan setianya, Hj Umi Fahriah bertekad menampik lamaran dari siapa pun. Semua rayuan ditolak.





NURUL KOMARIYAH





TIDAK pernah terdengar lagi sebutan Kampung Janda di Desa Dipongggo, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean. Sebutan pada masa lalu itu kini hanya dianggap sebagai isu yang pernah diembuskan wisatawan zaman dahulu di pulau tersebut. ”Selama saya puluhan tahun ada di sini, nggak pernah dengar sebutan itu,” ujar Mifta, sekretaris Desa Diponggo, kepada Jawa Pos yang berkunjung ke desa tersebut Maret lalu.



Hanya, data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Gresik menyebutkan, saat ini, tercatat ada 1.827 perempuan berstatus janda di Kecamatan Tambak, Pulau Putri (sebutan Pulau Bawean). Salah satunya Umi Fahriah. Perempuan yang sudah empat tahun menjanda itu punya kisah menarik dalam hidupnya.



Selepas sang suami, Sairi, meninggal karena komplikasi penyakit pada 2013, Umi bertekad tidak akan menikah lagi. Perempuan kelahiran 1958 itu kini tinggal bersama anaknya di Kecamatan Tambak. Usianya memang sudah 59 tahun. Namun, ternyata masih banyak pemuda maupun duda yang mengejar-ngejarnya. Ingin menikahinya.



Meski sudah paro baya, wajah Umi tergolong masih segar. Sejak masih 40 tahunan, dia aktif melakukan perawatan wajah. Treatment wajah dilakukan di salah satu rumah sakit di Surabaya. Di antaranya, treatment antiaging atau pencegahan penuaan dini. Tentu saja juga perawatan dasar, seperti facial maupun peeling.



Umi dibesarkan dari keluarga dengan latar belakang pedagang yang mampu secara ekonomi. ”Dari kakek-nenek sama orang tua memang pedagang semua,” ujarnya. Jadilah Umi seorang perempuan saudagar kaya sejak ’70-an. Salah satunya berdagang ikan asap.



Pada 1976, dia dijodohkan orang tuanya dengan seorang lelaki. Namun, hanya berusia empat bulan, mahligai rumah tangganya roboh. Lelaki pilihan orang tuanya itu tak mampu mengggetarkan hatinya. ”Namanya juga nggak nyari sendiri. Jadi, ya nggak cocok, nggak awet,” ujar dia.



Dua tahun berlalu, Umi kembali duduk di pelaminan bersama pilihan hatinya sendiri. Dia seorang pengepul ikan bernama Sairi. Lelaki yang kemudian memberinya tiga anak itu menjadi suami sekaligus partner kerja yang istimewa. Superasyik. Biduk rumah tangga keduanya penuh perjuangan dalam membangun usaha. Keluarga tersebut menjadi pedagang sukses. Umi membuka toko. Sairi berbisnis kayu.



Nah, saat Sairi pergi untuk selamanya pada 2013 setelah sakit, Umi merasa hampa. Tidak ada lagi tempat berkasih sayang dan berbagi suka-duka. Untuk menikah lagi, Umi tidak punya niat sama sekali. ”Udah nggak kepikiran. Bagi saya, nggak ada lelaki sebaik Abah (sebutan untuk Sairi). Walau orangnya sudah tiada, rasanya masih ada terus di samping saya,” tutur Umi dengan mata menerawang.



Dengan Sairi, perempuan yang suka berlibur dan gemar perhiasan itu merasakan romantisme luar biasa. Suaminya suka membuat kejutan. Apa pun kebutuhan dan keinginan Umi langsung disediakan. Tanpa harus diminta. ”Misalnya, pas jalan-jalan. Saya bilang barang itu bagus. Besoknya sudah ada buat saya. Padahal, nggak minta,” ungkap dia. Romantisme lainnya, mereka suka makan sepiring berdua. Tak berlebihan kiranya bila figur Sairi tidak akan tergantikan.



Benarkah ada lelaki yang ingin memikat hati Umi? Banyak. Umi mengaku tidak ingat satu per satu. Yang dia ingat adalah cara-cara mereka saat tebar pesona. Macam-macam idenya. Yang agak minder melamar melalui perantara. Kalau bertemu, pura-pura diam tidak terjadi apa-apa. Hanya memandang mesra. ”Kalau ketemu sama orangnya, nggak saya ajak omong,” ujar Umi, lantas tertawa.



Ada pula yang nyalinya gede. Lelaki itu dengan lantang maju sendiri. Modusnya pura-pura jadi pembeli di Abbah Mart, minimarket milik Umi. Sampai di meja kasir dan berhadapan dengan janda pujaan hati, lelaki itu langsung bertanya. ”Mau nikah sama saya nggak?” tutur Umi menirukan lelaki tersebut. Perempuan itu spontan menjawab, ”Kokkurang ajar kamu.” Lelaki itu pun berlalu.



Lelaki lainnya punya cara yang so sweet. Pakai kode isyarat. Dia mengirimkan sepaket gulai dan sate kambing ke rumah Umi. Makanan itu memang lezat. Namun, apa mau dikata. Hati Umi sudah tertutup. Jangankan gulai dan sate kambing. Mobil atau rumah sekalipun tidak akan mampu menggoyahkan pendirian janda tersebut.



Mengapa Umi kukuh menolak lelaki lain? Abah Sairi adalah lelaki terbaik. Dia telah meninggalkan tiga anak. Ada pula seorang anak asuh. Bahkan, dia kini telah punya enam cucu. Cinta atau harta tidak menggiurkan lagi. ”Abah itu tidak ada duanya,” ungkapnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore