
PENELITI KELAMIN BURUNG: Gunawan (kiri) peternak Cucak Rowo dan Eduardus Bimo Aksono saat melihat kondisi kandang dan pakan burung.
Tidak ingin melihat penyuka burung kecele karena salah memilih jenis kelamin, Eduardus Bimo Aksono membuat gebrakan baru. Melalui metode replikasi DNA, Bimo berhasil menciptakan penentu jenis kelamin burung.
EDI SUSILO, Surabaya
ANDA punya ’’sepasang’’ cucakrawa, tapi tak kunjung berkembang biak? Wah, siapa tahu burung yang dipasangkan itu keliru. Bisa jadi, keduanya cewek. Atau, keduanya lelaki.
Kalau itu terjadi, tentu perkembangbiakan tidak kunjung jadi. Dua burung tersebut enggak bakal jadian. Sebab, tidak ada cucakrawa yang gay. Kecuali, salah satunya berjenis cucokkk... rawa...
Padahal, kicauan burung itu elok sekali. Suaranya khas. Melengking, sedikit mendengung, dengan nada yang bervariasi. Karena itu, harganya mahal banget. Satu ekor bisa mencapai Rp 3 juta–Rp 5 juta. Harganya bisa naik lima kali lipat jika dijual sepasang. Sepasang yang asli, jantan dan betina.
”Harga itu wajar karena pengembangbiakannya sangat sulit,” terang Eduardus Bimo Aksono kepada Jawa Pos saat mengunjungi salah satu peternakan cucakrawa milik Gunawan di kompleks Wisma Mukti, Klampis Anom, Surabaya, Sabtu (22/4).
Kesulitan pengembangbiakan cucakrawa terjadi lantaran burung tersebut masuk kategori monomorfik. Hewan yang sulit dibedakan hanya dari struktur anatomi dan morfologinya. Kondisi tersebut membuat peternak sulit menjodohkan cucakrawa. Sebab, penentuan jenis kelaminnya sangat sulit.
Ya, jika diamati secara kasatmata, dua puluh pasang cucakrawa milik Gunawan tersebut memang tidak ada bedanya. Pasangan burung di setiap sangkar itu mirip saudara kembar. Ujung paruh hingga cakar memiliki warna serupa.
Sulitnya membedakan jenis kelamin burung bernama ilmiah Pycnonotus zeylanicus tersebut membuat Gunawan frustrasi saat memulai peternakan. Dalam bisnis yang dia mulai delapan tahun lalu itu, Gunawan mengaku sering tertipu.
”Dunia bisnis cucakrawa ini sebenarnya dunia hitam,” katanya, lantas terkekeh. Membayangkan nasibnya saat memulai bisnis. Burung yang dibelinya dari peternak lain sering kali tidak sesuai dengan yang dijanjikan.
Burung yang dibeli per pasang belum tentu pasangan asli. Sejenis. Bisa jantan semua. Kadang betina semua.
Selama tiga tahun awal, usaha pengembangbiakan cucakrawa bisa dibilang gagal. Di antara 20 pasang burung yang dia beli, hanya dua pasang yang berhasil bertelur. Ada beberapa ekor lainnya yang mati karena berkelahi dalam satu kandang saat perjodohan.
Pensiunan pegawai bank swasta itu pernah menilai sepasang burung berjodoh karena keduanya menunjukkan perilaku saling tertarik. Namun, setelah ditinggal beberapa menit, ternyata dua burung tersebut sedang mempersiapkan pertarungan. Akhirnya, seekor di antaranya menjemput ajal.
Gunawan tidak sendiri. Pengalaman apes ditipu penjual itu ternyata juga menimpa sebagian besar peternak cucakrawa di berbagai daerah. Kasusnya sama, terkena sirep dunia hitam bisnis cucakrawa.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
