Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Februari 2017 | 02.32 WIB

Pelajar SMA Jagoan Musik EDM Bernadus Marcello Agieus, Ahli DJ Yang Belum Pernah Masuk Diskotek

AKSI ATRAKTIF: Bernadus Marcello Agieus saat tampil di Surabaya beberapa waktu lalu. - Image

AKSI ATRAKTIF: Bernadus Marcello Agieus saat tampil di Surabaya beberapa waktu lalu.

Meski usianya masih 16 tahun, jam terbangnya tak sedikit. Kerap diundang tampil sebagai disc jockey (DJ). Bahkan, sudah menelurkan tiga single sendiri. Apresiasi pun datang dari ribuan pendengar.



FIRMA ZUHDI AL FAUZI



BERNADUS Marcello Agieus keluar dari ruang kelas XI IPA 2 SMA Katolik Untung Suropati Sidoarjo dengan menenteng laptop. Setelah menemukan tempat yang nyaman, dia menyalakan laptop tersebut. Sejurus kemudian, dia mengeklik aplikasi Virtualdj. ’’Saya kalau nge-DJ ya pakai aplikasi ini,’’ ujar remaja yang akrab disapa Agis itu Selasa (21/2).


Agis mulai mempelajari electronic dance music (EDM) pada 2015. Padahal, sebelumnya, dia mengaku ’’sangat anti’’ dengan musik keras semacam EDM. Namun, penilaiannya berubah setelah mendengar lagu Stay the Night milik Zedd feat Hayley Williams di YouTube. ’’Saat itu saya jadi suka jenis musik ini. Lagu itu langsung memikat. Musik di dalamnya kaya,’’ katanya. Dalam lagu itu, menurut Agis, Zedd bisa menyajikan beragam suara dari instrumen alat musik. Permainan irama dan variasi suaranya banyak. Sejak saat itu, berkali-kali lagu tersebut diputar.


’’Dari awalnya yang anti, setiap ada EDM saya matikan, saat itu malah jadi lebih banyak mempelajarinya, tanya sana sini, googling juga,’’ ujar remaja kelahiran Sidoarjo, 20 Desember 2000, itu, lantas tersenyum. Tak hanya suka, dia juga benar-benar tertarik untuk mendalami aliran musik EDM. Seorang sahabatnya lantas merekomendasikan Agis menggunakan aplikasi Virtualdj dalam berkarya.


’’Saya pelajari terus. Otodidak,’’ terangnya. Berbagai referensi dilahapnya. Berkali-kali dia mengunduh tutorial di YouTube. Akhirnya, kemampuan DJ Agis maju pesat. Panggung pertamanya datang pada 2016 dalam acara Pembangunan Jaya Cup. Karena terinspirasi dari Zedd, lagu pertama yang ditampilkan adalah Stay the Night.


Penampilannya langsung mengundang pujian. Undangan untuk tampil pun mulai berdatangan. Mulai Sidoarjo, Surabaya, hingga Malang. Sekali manggung, biasanya Agis tampil selama 30 menit. Ada sekitar 15 lagu yang di-mix selama 30 menit itu. Penghasilannya lumayan. Sekali manggung, Agis dibayar sekitar Rp 1 juta.


’’Tidak semua berjalan mulus. Pernah beberapa kali ada kendala,’’ ujar putra sulung pasangan Bernadus Harry Setiawan dan Yudati Prihana Chandra itu. Pernah saat tampil, tiba-tiba laptop yang digunakan mengalami lag (lelet). Penyebabnya, laptop terlalu panas. Musik yang diputar pun berhenti. ’’Saat itu langsung mikir, cari ide. Langsung kepikir ngasih efek suara tersendiri saat lagunya mau berhenti agar nggak mendadak berhenti tanpa irama,’’ terangnya.


Di lain waktu, saat dia sudah datang ke lokasi, panitia ternyata tidak menyediakan kabel konektor RCA. Kabel itu yang menghubungkan alat DJ bernama pioneer DDJ SB miliknya ke sound system. Saat itu yang ada hanya kabel jack biasa. Jika terpaksa menggunakan kabel jack, tetap bisa. Tapi, suara yang dihasilkan tidak maksimal. Output suaranya tidak kuat. Sering tersengat.


’’Daripada risiko nama jelek, saya pilih untuk tidak tampil,’’ kata pelajar yang mengidolakan DJ Flume dari Australia itu.


Tak puas hanya nge-mix lagu orang, Agis juga menciptakan single sendiri. Pada akhir 2016, dia merilis dua single. Single pertama berjudul SecretVoices dengan genre futurebase. ’’Beberapa testimoni teman-teman bilang kalau lagu ini yang paling disuka karena easy listening,’’ terangnya. Single kedua berjudul Survivors dengan genre progressivehouse. Single itulah yang sudah didengar lebih dari 13 ribu orang di aplikasi musik Spotify.


’’Semua memang saya upload online. Di YouTube juga ada,’’ ujarnya. Single ketiganya dirilis sebulan lalu dengan judul Resurrection bergenre future house. Tiga single EDM karyanya itu dibuat dengan aplikasi bernama FLStudio. ’’Aplikasi ini membantu saya untuk membuat single,’’ terangnya. Menurut Agis, suara alat musik dan pengaturan suaranya tergolong lengkap. ’’Ajaib pokoknya. Semua ini juga belajar sendiri,’’ kata DJ dengan nama panggung MRCLL itu.


Agis rajin mengasah kemampuan DJ di rumah. Bahkan, sudah menjadi rutinitasnya setiap hari sepulang sekolah. Di rumah, dia memiliki kamar khusus untuk mengasah kemampuannya. Mulai teknik pergantian lagu satu ke lagu lain secara soft hingga mencoba memberi variasi-variasi suara dalam lagu-lagu baru. Termasuk belajar mixing agar antarmusik tidak bertabrakan, pengaturan effect, dan jelajah genre baru.


Walaupun menjadi DJ dan sudah meluncurkan tiga single, Agis mengaku belum pernah sekali pun datang ke kelab dan diskotek. Selama ini, sesuai dengan usianya, dia tampil di panggung-panggung selain diskotek. ’’Kan umurku belum 17 tahun, makanya belum boleh ke diskotek,’’ ujarnya, lantas tergelak.


Keluarga dan pihak sekolah, kata Agis, sangat mendukungnya. Saat ada undangan tampil pada jam sekolah, Agis biasanya mengajukan izin ke sekolah dengan melampirkan surat keterangan yang diberikan pihak pengundang. ’’Sekolah mendukung dan mengizinkan asal izinnya jelas,’’ terangnya. Buktinya, kesibukan tersebut tidak sampai mengganggu pelajarannya di sekolah. Tak ada nilainya yang di bawah standar. Dia benar-benar mengelola waktu belajar dan beraktivitas DJ dengan baik.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore