Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 24 Mei 2017 | 15.29 WIB

Mufidah Institute, Sanggar Mengaji Modern dengan Pengajaran Kreatif

MENGAJI ASYIK : Althayr Arya Hariabi (kanan) dan M. Satrio Permadi menunjuk huruf ba’ dipandu oleh Fatimatul Mufidah (tengah), guru mengajinya. Suasana belajar sangat menyenangkan. - Image

MENGAJI ASYIK : Althayr Arya Hariabi (kanan) dan M. Satrio Permadi menunjuk huruf ba’ dipandu oleh Fatimatul Mufidah (tengah), guru mengajinya. Suasana belajar sangat menyenangkan.


Siswa pada usia yang masih suka bermain itu rupanya disiasati Fidah dengan menggabungkan kegiatan bermain dan belajar. Tapi, menurut dia, anak didiknya tetap bebas memilih apa yang mau dipelajarinya. ”Kami selalu tanyakan ke anak mau belajar apa. Kalau minta main, kami berikan alokasi waktu,” ujarnya.


Sanggar mengaji yang berkembang dua tahun terakhir itu memang menjadi tujuan para orang tua yang memiliki anak moody dan masih doyan main. Utamanya para anak yang cepat bosan dengan tipe pengajaran monoton. Misalnya, lewat buku ajar dan duduk anteng, lalu mengaji. Hal itulah yang tidak dikembangkan di sanggar mengaji tersebut.


Meski demikian, awalnya sanggar mengaji yang dibangun perseorangan oleh Fidah itu tak memiliki media selengkap sekarang. Malah, saat ini justru orang tua murid yang proaktif menyediakan media pendukung lainnya. Kini tugas Fidah sudah tak seberat dulu.


Awalnya, Fidah yang merupakan sarjana pendidikan bahasa Jerman Universitas Negeri Surabaya itu harus membuat gambar-gambar sendiri sebagai model pembelajaran. Sebab, untuk menggaet perhatian anak kecil, gambarnya harus menarik dan berwarna-warni.


Dulu Fidah hanya bermodal kertas dan krayon. Rupanya, itu berhasil. Anak didiknya mau memperhatikannya dan perlahan belajar mengenal huruf yang digambarnya itu. Kalau hanya di buku jilid mengaji, anak didiknya masih belum tertarik.


Lama-lama Fidah mulai membawa plastisin. Anak didiknya yang masih berlari-lari dan tak mau mengaji akhirnya juga nurut. Pelajaran mengenal huruf jadi lebih cepat dan anak bisa lebih berkonsentrasi karena dikemas lewat permainan.


”Dengan membuat bentuk yang sama, daya ingat dan motorik terlatih,” katanya.


Selain media itu, ada pula susun puzzle. Puzzle dengan gambar huruf hijaiah juga digunakan Fidah untuk mengajari anak didiknya dalam menghafal urutan huruf-huruf. Meski usia anak didiknya bervariasi, cara itu rupanya cukup manjur untuk mendorong minat anak dalam mengaji.


Fidah yang kini memiliki sepuluh tentor dalam sanggarnya menyusun cara pengajaran itu sebagai metode khas sanggarnya. Seluruh tentor yang kini tersebar di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo itu harus menerapkan metode tersebut kepada anak didiknya. ”Tentor kami harus kreatif dan menyenangkan,” tambahnya.


Apalagi, kebanyakan tentornya masih usia 20–25tahun. Mereka wajib punya ide segar dan kreatif. Para tentor itu tak sembarangan. Harus sudah punya sertifikat lulus, minimal dalam satu metode pembelajaran Alquran.


Jauh sebelum mendirikan Mufidah Institute, Fidah yang menjadi guru les sejak di bangku SMA itu sering memberikan les mengaji. Sayang, metode konvensional tak banyak diterima oleh anak-anak didiknya dulu. Alhasil, Fidah lebih banyak menemani anak didiknya untuk beraktivitas keagamaan lainnya seperti berkunjung ke masjid. Juga, mengenalkan ibadah umat Islam kepada anak tersebut. Dari sana, ternyata anak bisa lebih cepat menangkap materi tentang ajaran agama.


Akhirnya, Fida menerapkan itu dalam mengaji. Utamanya untuk mengajak anak proaktif dan berperan dalam aktivitas tersebut. ”Murid bukan objek, mereka itu subjek. Jadi, tidak boleh disodori ini dan disuruh ini,” ujarnya.


Karena itu, dalam sanggarnya, Fida menekankan pengajaran tanpa adanya paksaan. Bahkan, tentor yang dibinanya tidak boleh menyuruh atau meminta anak belajar kecuali si anak yang memutuskan. Lanjut dia, tentor harus menawarkan kepada anak tentang apa yang mau dikerjakan. ”Tapi tetap, kami arahkan mereka ke targetnya,” ungkapnya.


Meski pengajaran dikolaborasikan dengan permainan, setiap anak dibekali laporan harian agar orang tua dapat memantau perkembangan anak dalam menuju target.


Walaupun tanpa paksaan, biasanya ada trik jitu agar anak tetap mau mengaji. Maklum, kata Fida, ada saja muridnya yang ogah mengaji meski permainan unik sudah menanti. ”Kalau ngaji nanti bisa buat doain ayah bunda, lho. Mau kan berdoa buat orang tua?” ujar Fida menirukan kalimat rayuannya kepada anak didiknya yang sedang rewel.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore