
PENUH DEDIKASI: Beni Pramono melatih para siswa Anakeda Judo Club. Mereka mulai mengukir prestasi dalam perlombaan di tingkat kota.
Aiptu Beni Pramono menjadi pelatih judo sebagai bentuk pengabdian dan cinta pada bela diri itu. Yang dilatih pun bukan atlet sembarangan. Para murid itu adalah anak-anak berkebutuhan khusus hingga meraih prestasi di tingkat kota.
AGAS PUTRA HARTANTO
NAMA dojo (tempat latihan) itu adalah Anakeda Judo Club. Terdengar seperti nama Jepang. Tapi, Anakeda sejatinya akronim dari Anak Ketintang Dua. Lokasi dojo. Yakni, SDN Ketintang II.
Di situlah secara rutin Beni Pramono mengabdikan diri. Saban Sabtu petang. Selepas dari dinas sebagai penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya.
Selain menjadi penegak hukum, Beni memilih fokus pada perkembangan atlet judo usia muda. Tak heran. Beni sudah cinta betul pada olahraga ”banting-bantingan” asal Jepang itu. Dia pernah mewakili Jatim pada PON 1996, 2000, dan 2004.
Karena itu, Beni mendirikan Anakeda Judo Club pada Agustus 2015. Bagi Beni, nama klub judo tersebut bukan sekadar penanda tempat. Ada filosofi sekaligus motivasi bagi atlet dan pelatih. Yakni, jangan takut dianggap sebagai nomor dua dalam kehidupan sosial. Yang penting terus berlatih hingga akhirnya menjadi seorang juara. Jadi nomor satu.
Hampir setahun berdiri, dojo itu punya 60 murid. Kelas pemula punya 19 anak. Di kelas turnamen pemula ada 17 anak. Sisanya sedang disiapkan untuk seleksi pelatda dan pelatnas usia pelajar.
Yang berlatih pun cukup rajin. Misalnya, pada sebuah latihan pertengahan bulan lalu. Ada 36 murid yang siap berlatih. Mereka mengenakan pakaian serbaputih.
Beni pun tak sendiri. Di tempat itu sudah ada seorang asisten pelatih dan beberapa orang tua murid. Bersama-sama, mereka mempersiapkan matras latihan di lapangan SD.
Latihan sore itu diawali aerobik selama 20 menit. Orang tua siswa pun ikut ”melantai”. Cari keringat bersama. ”Supaya tidak bosan kalau cuma menunggu,” kata Beni, pria asli Surabaya itu. Anak-anak dan para orang tua terlihat mengikuti gerakan dari instruktur senam dengan semangat dan ceria.
Selesai senam, Beni hanya memberikan waktu dua menit kepada anak didiknya untuk istirahat. Itu pun hanya diperbolehkan minum setengah gelas air mineral. Perintahnya tegas. Tapi, gaya dan tutur bicara Beni cukup halus. Cenderung lucu, malah.
Kata Beni, 12 anak didiknya adalah anak berkebutuhan khusus (ABK). Istimewa. Tidak bisa diperlakukan kasar.
Awalnya memang sulit mengontrol perilaku para ABK tersebut. Terlebih, Beni tak langsung tahu hal tersebut. Beni hanya mengamati bahwa ada anak-anak yang berbeda di sasananya. Ada yang cenderung hiperaktif. Ada yang cenderung tak mau bicara. Beberapa anak sering berliur. Yang lain belum mampu membaca dan berhitung.
Tapi, Beni tak mau menyerah. Dia belajar sekaligus sharing dengan teman dan beberapa orang tua murid soal ABK. Lambat laun, pria 45 tahun tersebut paham cara menangani tingkah polah anak-anak itu.
Namun, kalau sudah berlatih, mereka tetap sangat serius. Tak terlihat perbedaan perlakuan yang mencolok. Misalnya, saat mempelajari teknik bantingan sore itu. Tahap demi tahap dipraktikkan. Gedebak-gedebuk berpadu dengan teriakan-teriakan khas bela diri. Kompak dan bersemangat.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
