Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 April 2017 | 00.35 WIB

Khansa Syahlaa Aliyah, Pendaki Cilik Seven Summit, Berawal dari 5 cm

Khansa Syahlaa Aliyah - Image

Khansa Syahlaa Aliyah

Mendaki gunung tak hanya dilakukan orang dewasa. Anak kecil juga bisa melakukannya. Khansa Syahlaa salah satunya. Gadis 11 tahun itu mencoba menaklukan 7 gunung tertinggi di Indonesia.

GUGUN GUMILAR, Bogor

MIMPI-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu kejar biarkan ia menggantung, mengambang 5 cm di depan kening kamu.

‎Siapa yang tak kenal kata mutiara di atas yang diucapkan Jafran (diperankan Herjunot Ali) di film 5 cm. Film yang diangkat dari novel berjudul yang sama itu banyak menarik perhatian orang. Terutama tentang Gunung Semeru. Pasca diputarnya film itu di bioskop tak sedikit pemula pendaki gunung mencoba menaklukan gunung tersebut. Tak terkecuali Khansa.

"Awal saya suka naik gunung waktu nonton film 5 cm. Soalnya pemandangannya bagus. Pokoknya saya harus ke Semeru," kata Khansa saat ditemui di rumahnya di kawasan Kota Wisata, Cibubur, Bogo, Kamis (13/4).

Ya, gadis cilik yang baru duduk di kelas V di sekolah Daar el-Salam, Bogor, itu sudah menjelajahi enam gunung tertinggi di Indonesia. Bahkan, Juli, Khansa ‎akan menuntaskan rangkaian Seven Summits-nya, yakni menaklukan Gunung Carstensz Pyramid atau Puncak Jaya, Papua.

Gunung yang memiliki ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu termasuk ke dalam tujuh puncak tertinggi di dunia.‎ Anak kedua dari pasangan Pramudhi Ayu dengan Aulia Ibnu Sina ini sebenarnya dari umur sembilan bulan sudah naik Gunung Salak. Namun, Khansa hanya digendong sama ibunya.

‎Sekadar informasi keluarga Khansa ini hobi mendaki gunung. Mulai dari ayah, ibu, kakak dan adiknya. Terutama sang ayah. Darah petualangan dari Aulia lah yang diturunkan kepada khansa. Selain menaklukan atap gunung di Indonesia, Aulia juga pernah menggapai puncak Gunung Eibrus, Rusia dengan ketinggian 5.642 mdpl. Lalu ada Kilimanjaro di Afrika Selatan ketinggian 5.895 mdpl, dan Puncak Himalaya, 5.356 mdpl.

Petualangan Khansa mendaki gunung saat menaiki anak tangga Gunung Bromo. Saat itu dia baru berusia 5 tahun dan sama sekali tidak ingin digendong oleh ayah maupun bundanya. "Kalau digendong dia yang marah," ucap ibunda Khansa, Ayu. Namun, bagi Khansa, Gunung Bromo sebagai awal dirinya mendaki gunung-gunung lainnya.

Selain film 5 cm, cerita gunung yang diceritakan ayahnya dan foto-foto Aulia saat menaklukan gunung menjadi inspirasi Khansa. Namun, kata Khansa, film 5 cm lah yang mempengaruhi dirinya untuk menjadi petualang pendaki gunung. Gadis berkerudung ini pun merayu ayahnya‎ agar bisa diajak untuk mendaki gunung.

"Kayaknya enak ya naik gunung, mau dong ikut ayah," kata Khansa saat menirukan rayuannya kepada ayahnya. Beranjak gede, saat usia 7 tahun pada 2013, Khansa pun diajak naik gunung oleh ayah dan bundanya ke Gunung Rinjani, NTB.‎ Tapi, dia hanya sampai pos Sembalun lantaran Khansa terserang hipotermia.

Alhasil dia pun gagal menuju puncak Rinjani. Khansa pun berjanji, jika fisiknya sudah kuat, dia akan kembali ke Gunung Rinjani untuk menaklukannya. "Pokoknya harus sampai puncak," tegas gadis cilik itu.

Aulia pun menasehati anaknya, jika ingin mencapai puncak fisiknya harus kuat dan perbanyak latihan. Khansa pun meminta kepada ayahnya untuk melatih fisiknya. Dimulai dari lari, naik-turun tangga, push up hingga mendaki gunung-gunung yang tak terlalu tinggi untuk melatih fisik dan napasnya.

Ketika fisiknya sudah kuat dan apa yang dinazarkan Khansa saat menontom film 5 cm‎, kalau dirinya ingin ke Gunung Semeru. Dia pun meminta kepada ayahnya untuk menaklukan gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut pada 2015.‎ "Alhamdulillah ke Semeru sampai puncak," ucapnya sambil tersipu malu.

Dari Gunung Semeru lah fisik Khansa mulai terbiasa mendaki jalan-jalan terjal‎ pegunungan. Meskipun saat itu usianya baru 9 tahun. Dari Semeru, ketertarikan Khansa untuk berpetualang di gunung semakin tinggi. Dia mulai mencari referensi tentang gunung. Hingga mencari buku para pendaki lokal dan luar negeri yang berhasil Seven Summits untuk dipelajari.

Biasanya, kata‎ Khansa, sebelum mendaki gunung yang dituju, dia terlebih dulu mempelajari gunung yang bersangkutan. Seperti pos pendakian, jalur mana saja yang bisa dilewati, jalurnya curam atau landai dan referensi lainnya. Hal tersebut untuk mempermudah dirinya berlatih fisik dan langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan ketika sudah sampai di lokasi pendakian.

"Biasanya saya nyari informasinya di Google, buku, atau tanya-tanya teman ayah yang sudah naik ke gunung yang bersangkutan‎," ucap gadis kelahiran Jakarta, 16 Maret 2006. Padahal ayah dan bundanya tidak mengarahkan untuk mencari referensi dulu. "Khansa yang nyari sendiri hal ini karena saking kuatnya ketertarikan Khansa terhadap naik gunung," timpal Bunda Ayu.

Butuh waktu 2-3 bulan Khansa berlatih fisik untuk setiap satu kali naik gunung‎. Pendakian selanjutnya ke Gunung ‎Latimojang, Sulawesi. Dirinya sampai puncak gunung itu pada 16 Agustus 2015. Saat itu pendakian hanya ditemani ayahnya dan pendakian selanjutnya pun masih tetap didampingi sang ayah.

‎Maret 2016, Khansa sampai puncak Gunung Kerinci, Sumatra. Saat itu ayahnya mulai melihat kegigihan dan kecintaan putrinya terhadap gunung. Bahkan yang mengejutkan Aulia, Khansa ini ingin melakukan Seven Summits.

"Padahal nggak ada tekanan dari kami, yang ingin Seven Summits ya Khansa sendiri," jelas Aulia. Ditambah lagi Khansa tidak mau diajak naik gunung yang ketinggiannya rendah, seperti Gunung Prau, Papandayan, dan Merbabu. "Aneh juga, umur baru 10 tahun tapi maunya gunung-gunung yang tinggi," tambah Aulia.‎

‎Lalu, Aulia melihat bakat anaknya dan sadar kalau Khansa sudah tiga gunung tertinggi di Indonesia yang sudah didaki. Aulia pun menawarkan ke anaknya apakah ingin menyelesaikan Seven Summits? Jawaban ayahnya pun ditantang Khansa. "Kalau mau, harus latihan benar-benar, persiapan harus matang," kata Aulia kepada Khansa.

Mulai dari pemilihan gunung, latihan fisik, membagi waktu sekolah dan naik gunung, hingga mengumpulkan dana. Untuk pemilihan gunung, Khansa yang menentukan. Aulia terpaksa menunda Seven Summits-nya di luar negeri, hal ini demi anak gadisnya agar bisa menyelesaikan tujuh gunung.

Sementara untuk anggaran biasanya Khansa menabung dan menjual mainan slime. Sejenis material dengan tekstur kenyal menggumpal‎. Nah, slime yang dibuat Khansa pun dijual ke teman-teman sekolahnya untuk menambah biaya pendakian.

Pada Juli 2016, gadis cilik ini melakukan pendakian maraton. Dua puncak gunung ditaklukan di bulan Juli, yakni pada 13 Juli puncak Gunung Binaiya, Maluku, dan 26 Juli giliran Gunung Rinjani ditaklukan‎. Gunung yang pada 2013, Khansa hanya sampai kaki gunung karena terserang hipotermia. Janji yang dia ucapkan saat itu ingin sampai ke puncaknya terbayar sudah.

Menutup tahun 2016, Khansa berhasil menjajaki kaki di puncak tertinggi di Pulau Borneo, Gunung Bukit Raya, Kalimantan Tengah. Pencapai tersebut, sudah enam puncak gunung tertinggi di nusantara yang sukses dicapai siswi sekolah dasar ini. Dari enam gunung yang sudah dicapai, Gunung Bukit Raya yang paling mengesankan bagi Khansa.

Di awal perjalanan, Khansa dan Aulia mesti menyusuri sungai Trungoi yang berarus deras. Butuh 7 jam menyusuri sungai, karena terputusnya jembatan penghubung. Vegetasi hutan yang rapat, banyaknya pohon tumbang dan jalur longsor menjelang puncak juga sempat memperlambat pendakian mereka.

Belasan pacet, sejenis binatang penghisap darah manusia dan binatang lainnya. Pacet sedikit mirip dengan lintah, akan tetapi pacet seukuran lidi, dan biasanya muncul setelah hujan di rerumputan basah dan rawa-rawa. "Nah, waktu itu banyak banget pacet yang nempel di kaki sampai leher," ujar Khansa.

Berbekal persiapan matang baik fisik dan mental selama dua bulan, serta dukungan penuh dari pihak sekolah membuahkan hasil yang manis untuknya. Bendera Merah Putih pun berhasil ditancapkan di Puncak Gunung Binaiya. Ada yang unik dari Khansa ini, setiap dia mendaki gunung, dirinya selalu membawa oleh-oleh dari rumah untuk dibagikan kepada penduduk lokal yang seumuran dengannya.

Biasanya dia membawa mainan ‎squishy. Mainan karet, tapi bentuknya mirip aslinya, seperti buah-buahan, telur, dan lainnya, serta smile. ‎"Mereka senang banget, malahan nggak ada yang tahu squishy, sempat ada yang di makan, padahal itu kan karet," terangnya.

Kini, tersisa satu gunung lagi yang belum ditaklukan untuk melengkapi Seven Summits‎. Puncak ketujuh ini yang persiapannya dibilang lebih lama dari pendakian sebelumnya. Di 2017, Khansa lebih fokus menyelesaikan misinya. "Kebetulan Juli pas libur sekolah, jadi nggak mengganggu pelajaran," ucapnya.

Selain fisik dan mental harus kuat, biaya pun harus cukup. Mulai dari latihan fisik sudah dilakukan, seperti teknik pemanjatannya, tali temali, karena Puncak Jaya di Carstensz Pyramid ‎adalah tebing.

Untuk latihan fisik, Khansa bersama ayahnya seminggu sekali naik Gunung Pangrango naik turun tanpa jeda untuk meringankan tubuhnya. ‎

Seperti kata mutiara film 5 cm lainnya. Kaki yang akan melangkah lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak, lapisan tekad yang seribu kali lebih kuat dari baja, serta mulut yang selalu berdoa. "Doain saja saya sehat, mental kuat, supaya bisa sampai Puncak Jaya, Seven summits-nya lengkap deh, hehe," tuturnya.

Khansa pun berpesan jika ada pembaca Jawa Pos yang ingin naik gunung harus sopan. Jangan buang sampah sembarangan, hutannya jangan dirusak, tanaman langka jangan diambil.‎ Hindari jalan malam, pelajari literatur gunungnya, dan tabah sampai akhir.‎ (*/yuz/JPG)

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore