Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 April 2017 | 23.31 WIB

Bingung Jumatan dengan Tujuh Imam di Beijing

AKRAB: Ketua PW Muhammadiyah Jatim Saad Ibrahim (lima dari kiri) berjabat tangan dengan salah satu imam Masjid Nie Jie. - Image

AKRAB: Ketua PW Muhammadiyah Jatim Saad Ibrahim (lima dari kiri) berjabat tangan dengan salah satu imam Masjid Nie Jie.



Biro jodoh di masjid itu diselenggarakan karena umat muslim sulit mencari jodoh sesama muslim. Mereka tidak ingin menjadi jomblo hingga akhir hayat. Selama setahun, masjid tersebut mampu mempertemukan 50 pasangan, lalu menikahkan mereka secara sah. ”Jangankan untuk lansia, anak cucu mereka saja susah cari jodoh,” jelas Nurfatoni.



Setelah dari Beijing, rombongan melanjutkan perjalanan ke Linxia, Lanzhou, Xian, dan Xiamen. Mereka melihat bagaimana umat muslim menjalani kegiatan dengan status minoritas.



Sebelum kembali ke Indonesia, mereka berkesempatan menunaikan salat Jumat kedua di Beijing. Kali ini mereka sudah paham perbedaan cara ibadah. Namun, bedanya, tidak ada tujuh ulama yang membacakan ayat suci Alquran. Seluruh kegiatan tersebut dilakukan satu imam.



Ketua MUI Jatim Abdusshomad Buchori mencatat sejumlah poin perjalanannya. Catatan itu disampaikan kepada Konsul Jenderal (Konjen) Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Surabaya Gu Jingqi yang hadir dalam acara pertemuan kemarin. ”Saya sampaikan agar wisatawan muslim yang datang ke Tiongkok benar-benar nyaman,” jelasnya.



Pertama, Abdusshomad mengeluhkan toilet di bandara. Dia menerangkan, umat muslim harus membasuh sisa pipis dengan air. ”Lha ini, airnya baru keluar saat kita mundur. Makanya, kita harus bawa air mineral saat buang air kecil,” jelasnya, lalu ditanggapi anggukan Gu Jingqi.



Selain itu, akses air untuk berwudu terbatas. Dia menerangkan, beberapa bagian tubuh bisa hanya dibasuh. Namun, khusus kaki harus disiram. Petugas bandara sempat melarang rombongan untuk membasuh kaki karena toilet kering. ”Kami harapkan ada tempat khusus untuk berwudu,” lanjut dia.



Selain itu, dia menyarankan kepada para anggota rombongan untuk memberikan nama kepada anak atau cucu dengan tiga kata. Sebab, ada rombongan yang sempat bermasalah di bandara karena hanya punya nama satu kata. ”Sodiq. Nanti susah di bandara. Makanya, nanti kalau ngasih nama tiga kata ya,” canda Abdusshomad.



Donatur tur, Heru Budihartono, senang melihat senyum rombongan setelah pulang. Dia berjanji memberangkatkan lagi para ulama Jatim tahun depan. ”Supaya mereka tahu bagaimana umat muslim di sana,” jelas pengusaha perhiasan emas itu. (*/c11/dos)


Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore