
AKRAB: Ketua PW Muhammadiyah Jatim Saad Ibrahim (lima dari kiri) berjabat tangan dengan salah satu imam Masjid Nie Jie.
Biro jodoh di masjid itu diselenggarakan karena umat muslim sulit mencari jodoh sesama muslim. Mereka tidak ingin menjadi jomblo hingga akhir hayat. Selama setahun, masjid tersebut mampu mempertemukan 50 pasangan, lalu menikahkan mereka secara sah. ”Jangankan untuk lansia, anak cucu mereka saja susah cari jodoh,” jelas Nurfatoni.
Setelah dari Beijing, rombongan melanjutkan perjalanan ke Linxia, Lanzhou, Xian, dan Xiamen. Mereka melihat bagaimana umat muslim menjalani kegiatan dengan status minoritas.
Sebelum kembali ke Indonesia, mereka berkesempatan menunaikan salat Jumat kedua di Beijing. Kali ini mereka sudah paham perbedaan cara ibadah. Namun, bedanya, tidak ada tujuh ulama yang membacakan ayat suci Alquran. Seluruh kegiatan tersebut dilakukan satu imam.
Ketua MUI Jatim Abdusshomad Buchori mencatat sejumlah poin perjalanannya. Catatan itu disampaikan kepada Konsul Jenderal (Konjen) Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Surabaya Gu Jingqi yang hadir dalam acara pertemuan kemarin. ”Saya sampaikan agar wisatawan muslim yang datang ke Tiongkok benar-benar nyaman,” jelasnya.
Pertama, Abdusshomad mengeluhkan toilet di bandara. Dia menerangkan, umat muslim harus membasuh sisa pipis dengan air. ”Lha ini, airnya baru keluar saat kita mundur. Makanya, kita harus bawa air mineral saat buang air kecil,” jelasnya, lalu ditanggapi anggukan Gu Jingqi.
Selain itu, akses air untuk berwudu terbatas. Dia menerangkan, beberapa bagian tubuh bisa hanya dibasuh. Namun, khusus kaki harus disiram. Petugas bandara sempat melarang rombongan untuk membasuh kaki karena toilet kering. ”Kami harapkan ada tempat khusus untuk berwudu,” lanjut dia.
Selain itu, dia menyarankan kepada para anggota rombongan untuk memberikan nama kepada anak atau cucu dengan tiga kata. Sebab, ada rombongan yang sempat bermasalah di bandara karena hanya punya nama satu kata. ”Sodiq. Nanti susah di bandara. Makanya, nanti kalau ngasih nama tiga kata ya,” canda Abdusshomad.
Donatur tur, Heru Budihartono, senang melihat senyum rombongan setelah pulang. Dia berjanji memberangkatkan lagi para ulama Jatim tahun depan. ”Supaya mereka tahu bagaimana umat muslim di sana,” jelas pengusaha perhiasan emas itu. (*/c11/dos)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
