Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 Mei 2017 | 09.02 WIB

Kisah Sanggar Baladewa Tanamkan Cinta Seni Tradisional kepada Anak-Anak

TULARKAN ILMU: Hario mengajarkan cara menggunakan wayang di sanggar Baladewa Cak Durasim Surabaya - Image

TULARKAN ILMU: Hario mengajarkan cara menggunakan wayang di sanggar Baladewa Cak Durasim Surabaya


Dunia wayang tidak melulu milik orang dewasa. Perlahan, anak-anak mulai melirik kesenian tradisional ini. Salah satu wadahnya adalah Sanggar Baladewa.





DWI WAHYUSINGSIH





SUARA riuh menyambut kala Jawa Pos berkunjung ke gedung Sawungsari UPT Taman Budaya Jawa Timur, Sabtu (6/5). Belasan anak duduk sambil sesekali bercanda di tengah ruangan yang sore itu tampak lengang. Tidak banyak peralatan yang tersisa di dalam ruang gamelan tersebut.



”Gamelane dipake untuk acara. Jadi, hari ini cuma bisa latihan wayang,” tutur Hario Widyoseno, penanggung jawab Sanggar Baladewa sekaligus pelatih wayang. Ya, sanggar tersebut memang tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana menjadi dalang. Para anggota yang masih belia pun diharuskan belajar menabuh gamelan dan menjadi sinden khusus untuk anak perempuan.



Baladewa memang memfokuskan diri pada kesenian tradisional. Pada awalnya, Rio –sapaan akrab Hario– bersama rekan-rekannya ingin memanfaatkan fasilitas di UPT Taman Budaya Jawa Timur. Berlatar belakang kecintaan pada seni tradisional, muncul ide membentuk Sanggar Baladewa yang berfokus pada anak-anak. Semua itu berawal pada Juli 2010.



”Awalnya, cuma lima atau enam anak. Itu pun anaknya teman-teman kita,” kenang Rio. Meski sedikit kecewa, mereka tetap mendidik anak-anak tersebut dengan serius. Hingga akhirnya datang tawaran untuk pentas dalam suatu acara.



Namun, kegembiraan itu hanya sebentar. Tawaran manggung ternyata dibatalkan secara sepihak. Mereka sama sekali tidak tahu alasannya. ”Untung, waktu itu gamelannya belum dibawa ke sana. Kalau sudah, kan kecewanya jadi bertambah,” lanjutnya.



Pembatalan itu tidak lantas membuat pelatih dan anggota sanggar merasa putus asa. Mereka tetap berlatih setiap Sabtu dan Minggu sore di Taman Budaya bersama dengan sanggar lain. Dari sanalah kiprah Sanggar Baladewa mulai terlihat.



Sering bertemu saat latihan membuat beberapa orang tua melirik Baladewa. Anak-anak mereka yang belum ikut sanggar pun dimasukkan ke Baladewa. Bahkan, ada yang rela berhenti dari sanggar tari untuk masuk secara total ke Baladewa. ”Ada juga yang berawal dari nganter kakaknya. Terus, lama-lama tertarik hingga akhirnya ikut bergabung,” tutur staf Taman Budaya itu. Salah satunya adalah Nadhif Ikmalsyah. Bocah kelas VII SMP itu sebenarnya sama sekali tidak tertarik pada wayang maupun seni tradisional lainnya. Namun, karena sering mengantar sang kakak berlatih, akhirnya Nadhif penasaran ingin mencoba.



”Dikatain gini sama orang tua. Kalau cuma nganterin, ya enggak berguna,” tutur siswa SMPN 7 Surabaya tersebut. Karena itu, dia akhirnya ikut menjadi anggota Sanggar Baladewa. Lama-kelamaan, Nadhif justru jatuh cinta pada seni karawitan. Bahkan, segala jenis alat karawitan bisa dia mainkan.



Cerita berbeda datang dari Ernanda Bima Megantara. Bocah yang akrab disapa Nanda itu memang tertarik pada wayang sejak dahulu. Apalagi dia juga mewarisi darah dalang dari kakeknya. Dia bahkan pernah dipercaya mewakili Surabaya dalam lomba dalang bocah se-Jawa Timur. ”Tetapi, tetap belajar karawitan. Soalnya, kalau di sanggar, semua harus serbabisa,” jelasnya.



Gaung nama Sanggar Baladewa mulai terdengar sejak tampil di Unesa sekitar 2011. Setelah itu, mereka mulai berani tampil di berbagai lomba. Apalagi, jumlah anggotanya semakin bertambah. ”Awalnya, kita ikut kompetisi supaya anak punya motivasi. Bukan untuk menang,” ucap Rio. Para pelatih tidak ingin membuat mental mereka down. Pasalnya, mereka adalah orang baru. Jika ikut kompetisi dan kalah, mereka dikhawatirkan tidak mau lagi belajar dalang.



Karena itu, pada 2013, Sanggar Baladewa memboyong anak-anak untuk mengikuti Temu Dalang Bocah Nusantara di Solo. Satu orang berperan sebagai dalang dan 20 orang lain sebagai pengrawit maupun sinden. Dalam acara tersebut, tidak ada kategori menang-kalah. Semua mendapatkan piala dengan kategori yang berbeda-beda.



”Sistem kayak gini juga menjadi siasat agar mental anak-anak tidak jatuh,” lanjut pria kelahiran 12 September 1977 tersebut. Sejak tampil di Solo, nama Baladewa semakin melejit. Perlahan-lahan, pemerintah Kota Surabaya melalui dinas pendidikan mulai memberikan kepercayaan. Baladewa sering didapuk untuk tampil mewakili Surabaya. Berbagai piagam penghargaan telah diraih anak-anak sanggar.



Lantas, apa rahasia para pelatih hingga bisa membuat anak-anak mau belajar semua jenis kesenian? ”Yang penting itu telaten. Kalau anak lagi nggak, mood ya sudah. Jangan dipaksa,” tutur Rio. Apa yang mereka sukai, biasanya itulah yang lebih dahulu diajarkan. Baru secara pelan-pelan mereka dikenalkan pada kesenian lain.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore