
SELALU SAYANG: Evie Mayasari Salean menggendong ‘’anaknya’’ yang baru dimandikan di rumah kucing miliknya Senin (17/4) di Perumahan Istana Mentari, Cemengkalang.
Lima tahun lalu, Sovie jatuh cinta pada kucing persia. Dia belajar menjadi breeder. Rumahnya pun difungsikan menjadi cattery atau rumah kucing. Kini sudah puluhan penghargaan dari dalam dan luar negeri diperolehnya.
RESVIA AFRILENE
SUARA kucing mengeong langsung terdengar begitu memasuki ruang tamu kediaman pasangan suami istri Evie Mayasari Salean dan Iwan Bangsawan di Perumahan Istana Mentari, Desa Cemengkalang, Sidoarjo. Sumbernya berasal dari lantai 2. Suara kucing itu cukup ramai. Memang jumlahnya bukan satu atau dua, melainkan sepuluh ekor.
Salah satu ruangan di lantai 2 itu khusus digunakan untuk kamar kucing. Istilahnya, rumah kucing atau cattery. Yakni, tempat pemeliharaan kucing jenis tertentu. Evie yang lebih akrab disapa Sovie adalah seorang breeder. Itu sebutan bagi orang yang terlatih membiakkan kucing untuk menghasilkan anakan berkualitas.
Saat Jawa Pos mengunjungi cattery tersebut Senin (17/4), Sovie tengah sibuk memandikan Ken yang berhidung pesek. Salah satu kucing ras persia. Ken berwarna hitam pekat. Matanya cokelat tembaga. Ken duduk tenang di hadapan Sovie. Mulai saat dimandikan, disisir, sampai diberi wewangian.
”Harus telaten,” ujar Sovie. Perempuan 43 tahun itu menjelaskan pentingnya rutin memandikan kucing-kucing peliharaan. ”Kalau nggak dijadwal, ya bisa jamuran,” candanya. Dia mengaku selalu disiplin mematuhi jadwal mandi kucing-kucingnya yang berjumlah puluhan itu. Paling banyak, Sovie bisa mengurus 25 sampai 30 ekor kucing dalam satu tempo. Maka, dia membuat jadwal mandi.
Selain Ken, si kucing Art, Bulbul, dan si cantik Redty mendapat giliran mandi. Setidaknya ada empat ekor kucing yang dijadwalkan mandi setiap hari. Kini tinggal 10 ekor kucing persia yang berada di rumah Sovie. Saking banyaknya prestasi yang didapat kucing-kucingnya dalam kontes, kucing milik Sovie jarang bisa ”bertahan lama” di cattery. ”Alhamdulillah, laku semua. Ditawar sana-sini,” ujarnya.
Kucing-kucing persia di cattery Sovie memang rata-rata berprestasi. Semua jejak prestasi itu bisa terlihat di kamar kucing. Berbagai pita penghargaan dari International Cat Association (ICA) terpajang rapi. Satu langkah keluar dari kamar itu, ada bufet di sisi kanan. Di sana, puluhan piala kemenangan kucing juga ditata rapi. ”Banyak yang belum aku pasang. Masih di gudang,” kata Sovie. Piala-piala itu didapatkannya dari kontes kucing lokal, nasional, sampai tingkat internasional.
Perjalanan Sovie menjadi breeder hingga memiliki rumah cattery dimulai lima tahun lalu. Yaitu, pada 2012. Awalnya, ibu Viona Ayu Puspitosari tersebut tidak memiliki keinginan sama sekali untuk memelihara kucing. Sebab, Sovie sempat dinas di PDAM Surabaya. ”Rumah yang dulu di Mulyosari sering banjir. Nggak ramah buat pelihara hewan,” selorohnya.
Suatu ketika, setelah mengajukan pensiun dini, Sovie mengunjungi Galaxy Mal. Saat itu, sedang berlangsung kontes kucing. Dari sana muncul ide untuk memelihara kucing.
”Waktu itu, aku mikir cari kesibukan apa ya. Nah, kayaknya sudah bisa pelihara kucing, apalagi mau pindah rumah,” paparnya.
Sovie langsung mendekati dan bertanya kepada para anggota Surabaya Cattery yang hadir. Salah seorang di antaranya, Enny Sulistyowati, menyarankan Sovie untuk membeli seekor kucing sebagai latihan. ”Kalau bisa telaten mengurusnya, berarti sampean bisa jadi breeder. Coba satu dulu,” ucap Sovie menirukan kata-kata Enny.
Seiring berjalannya waktu, Sovie merasa mulai jatuh hati. Selama ini, dia mengaku hanya suka melihat tingkah kucing. Baik dari tayangan televisi, media sosial, maupun bila kebetulan ada kucing yang melintas di dekatnya.
Akhirnya, Sovie memutuskan menjadi seorang breeder. Dia mulai serius berlatih memelihara kucing. Mulai teknik memandikan, memotong kuku, hingga memahami tingkah polah mereka. ”Sekarang ya tahu semua. Mereka mau flu atau masuk angin saja tahu. Apalagi, kalau berahi, wes paham,” katanya, lalu tertawa.
Kucing pertama yang menjadi ”anak” Sovie adalah Pesek. Namanya memang begitu. ”Nggak terpikir nama lain waktu itu,” ucap Sovie. Si Pesek itu berwarna abu-abu. Namun, dalam dunia kucing persia lazim disebut blue. Selain Pesek, Sovie sangat mencintai Art dan Redty. ”Pesek, Art, sama Redty nggak bakal aku jual,” tegasnya.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
