
JAM ANTIK: Rupinsyah dan jam koleksinya yang didominasi buatan Eropa.
Utak-atik jam-jam rusak yang sudah tua memang menjadi hobi Rupinsyah. Berawal dari hobi sejak kecil itulah, lelaki 52 tahun tersebut jatuh cinta pada jam antik. Koleksinya banyak.
ARIF ADI WIJAYA
MINGGU siang (16/4), Gang III Jalan Veteran terlihat sepi. Dari mulut gang, rumah nomor 46 terlihat berbeda. Bangunannya terbuat dari papan kayu. Hanya bagian bawah yang ditembok. Warna hijau membuat rumah itu sedikit mencolok.
Ketika masuk ke ruang tamu berukuran 4 x 8 meter, suasana rumah lebih mirip lapak di pasar loak. Barang-barang elektronik bejibun di sudut. Mulai radio tua keluaran 1945 hingga radio modern. Beberapa spare part elektronik tertata di antara radio-radio tersebut.
Nah, ada banyak jam antik di ruangan itu. Mulai jam bandul hingga jam tepak. Ada yang buatan 1937 hingga akhir 1980-an. Mereknya pun beragam. Di antaranya, Junghans, Hermel, Mauthe, Kienzle, hingga Tokyo Tokei. Yang paling banyak adalah buatan Eropa. Hampir semua jam masih berfungsi dengan baik.
Ketika jarum menunjuk angka 3, jam bandul kayu berwarna hitam merek Junghans mengeluarkan nada ala lonceng. Teng tong teng tong… Suara jam buatan Jerman 1875 tersebut masih terdengar lembut dan merdu. Tidak seperti jam tua.
Itu merupakan salah satu koleksi jam Rupinsyah. Masih banyak lagi koleksi jam antik di rumahnya. Ayah dua anak tersebut jatuh cinta pada jam antik sejak masih bersekolah di SD. Hobinya bongkar pasang jam rusak. ”Awalnya dimulai 1978. Saat itu masih kelas 6 SD,” ungkapnya.
Lelaki yang akrab disapa Rupin itu bercerita, jam bandul milik sang ayah merupakan salah satu ”korban” percobaannya. Saat itu, Rupin kecil sangat penasaran. Dia ingin tahu bagaimana cara jam bekerja hingga bisa menghasilkan suara.
Rasa penasarannya seolah sudah berada di ubun-ubun. Lalu, Rupin berusaha mengutak-utik jam bandul kesayangan sang ayah tersebut. Sayang, penasarannya itu justru menghasilkan masalah baru. ”Akhirnya, jam kesayangan bapak rusak,” kenangnya, lantas tertawa. ”Bapak marah besar,” lanjutnya.
Meski begitu, Rupin tidak kapok. Hal tersebut justru membuatnya makin bertekad untuk mencari tahu seluk-beluk jam. Setelah masuk SMP, Rupin sering ”keluyuran” ke Surabaya. Dia suka jalan-jalan ke Pasar Turi dan pasar loak di Surabaya.
”Suka lihat-lihat jam antik. Saat itu masih dianggap jam usang biasa. Tidak bernilai,” ujarnya. Harga jam antik di pasar loak saat itu relatif murah. Ada yang harganya cuma Rp 250 perak. Ada juga yang Rp 2 ribu. Meski begitu, uang saku Rupin waktu itu tidak cukup untuk membelinya. Dia harus menabung untuk mendapatkan satu jam antik.
Ketika dapat satu jam rusak, Rupin mulai antusias. Dia membongkar sendiri jam tersebut di rumah. Dengan alat seadanya, Rupin mengutak-atik jam yang digerakkan dengan gaya pegas.
Setelah beberapa jam, Rupin menyelesaikan aktivitas bongkar pasangnya. Dia sangat bangga. ”Puas bisa memperbaiki jam hingga berfungsi kembali,” ungkapnya.
Keberhasilan memperbaiki jam itu membuat Rupin ketagihan. Setiap kali ada uang lebih, dia selalu berjalan-jalan ke Surabaya. Tujuan utamanya adalah pasar loak dan Pasar Turi. ”Sampai sekarang masih suka ke sana. Hampir setiap pekan,” terangnya.
Rupin mengaku sudah jatuh cinta dengan jam antik. Bahkan, dia tidak terpikir untuk menjualnya kepada kolektor. ”Kalau ada yang berminat, sebaiknya barter. Kalau dijual sayang,” imbuhnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
