Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 November 2016 | 00.28 WIB

Wayang Airlangga, Pendatang Baru Lakon Pewayangan di Indonesia

SENTUHAN BALI: Tri Kundono di antara gunungan Wayang Airlangga ciptaannya. - Image

SENTUHAN BALI: Tri Kundono di antara gunungan Wayang Airlangga ciptaannya.

Cerita Berlatar Sejarah untuk Menginspirasi Generasi Muda

Paduan Jawa-Bali sebagai Cikal Bakal sang Raja





Khazanah pewayangan tanah air kian marak. Selasa (1/11) di atrium Grand City Mall, Universitas Airlangga (Unair) meluncurkan lakon anyar. Yakni, Wayang Airlangga. Kisahnya tentang Airlangga, raja besar yang mendirikan Kerajaan Kahuripan pada abad XI.





EDI SUSILO





DELAPAN belas tokoh wayang bertengger gagah di atas perahu cokelat sepanjang 5 meter yang terbuat dari gabus (styrofoam). Rupa wayang-wayang itu tampak ngejreng. Tubuhnya kuning keemasan.



Ada corak batik berbagai warna pada busananya. Mulai merah, kuning, hijau, hingga ungu. Karakter tokoh itu memang berbeda dengan wayang kulit khas Jawa Tengah yang sudah beken selama ini.



Wajah, model busana, hingga perhiasannya lain. Tutup kepalanya, misalnya, ada yang menggunakan model kupluk. ’’Ya, ini tokoh Airlangga saat masih muda,’’ ungkap Tri Kundono, kreator Wayang Airlangga, sembari menunjukkan salah satu tokoh.



Aksesori kepalanya ungu dan lonjong. Mirip tokoh lakon cerita panji. Tokoh khas cerita rakyat Jawa Timur. Dia menjelaskan, delapan belas tokoh yang ditatah pada kulit kerbau tersebut merupakan suatu kesatuan mengenai perjalanan hidup Airlangga.



Mulai usia remaja hingga naik takhta menjadi raja Kahuripan di Jawa Timur. ’’Bisa dilihat di sini. Saat berkelana, Prabu Airlangga menggunakan pakaian sederhana. Hanya berjarit kulit kayu dan berselempang kulit harimau,’’ jelasnya.



Selain sang raja, tampak beberapa figur berpengaruh saat Airlangga hidup. Mulai keluarga besar, ayah, ibu, resi (guru), hingga para musuh raja yang berkuasa pada abad XI tersebut.



Lelaki kelahiran Bantul, 3 Desember 1979, itu tak memerlukan waktu lama untuk membikin wayang. Dibantu 11 karyawan, Tri hanya membutuhkan waktu sebulan untuk merampungkan delapan belas tokoh tersebut. September mulai menatah, awal Oktober sudah selesai.



Kesulitan pembuatan Wayang Airlangga justru terletak pada konsep. Khususnya dalam menentukan karakter yang kuat dan pas bagi tokoh utama. Sebab, tokoh yang dia buat merupakan kisah nyata. Tokoh tersebut pernah hidup sebagai salah satu raja termashyur di Pulau Jawa.



’’Inilah yang membedakan Wayang Airlangga dengan wayang lainnya. Kalau wayang lain, diambil dari epos Ramayana dan Mahabharata. Wayang Airlangga diambil dari sumber dan buku sejarah. Jadi, ndak boleh sembarangan,’’ ungkap lelaki yang menekuni dunia penatah wayang sejak 1993 itu.



Untuk mengatasi kesalahan fatal, Tri menerangkan, dirinya harus bolak-balik berkonsultasi kepada tim wayang Unair selaku pemesan dan 40 dalang sepuh dari Keraton Jogjakarta. Tujuannya satu. Yakni, setelah jadi, wayang yang dia buat tak menimbulkan pro-kontra.



Dalam proses penyesuaian tersebut, lelaki jebolan Sekolah Menengah Kawaritan (SMK) Kasian, Bantul, itu berkisah, dirinya harus tiga kali ganti tokoh untuk menemukan karakter yang cocok dengan dua referensinya. Yakni, referensi sejarah dan pendapat dari para sesepuh dalang.



’’Karya pertama dikritik karena terlalu mirip wayang purwa. Nah, hasil kedua, malah karakter sang tokoh terlalu jauh dari pribadinya. Pada percobaan ketiga, dengan usul kombinasi budaya di antara daerah, akhirnya baru semua sepakat,’’ jelas lelaki yang juga terampil mendalang tersebut.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore