Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 April 2017 | 03.07 WIB

Kebun Binatang Surabaya Menjadi Rumah bagi Burung-Burung Liar

JARAK JAUH: Konsultan burung Iwan ”Londo” Febrianto (kanan) dan Cipto Dwi Handono mengamati perilaku burung liar Rabu (12/4) di KBS. - Image

JARAK JAUH: Konsultan burung Iwan ”Londo” Febrianto (kanan) dan Cipto Dwi Handono mengamati perilaku burung liar Rabu (12/4) di KBS.


Keanekaragaman hayati di Kebun Binatang Surabaya (KBS) mengundang burung-burung liar untuk datang. Konsultan burung Iwan ”Londo” Febrianto dan Cipto Dwi Handono berusaha mengidentifikasi perilaku burung-burung liar di KBS.





SALMAN MUHIDDIN





SALAH satu jenis burung yang menjadikan KBS sebagai tempat bersarang adalah burung kowak malam kelabu. Masalahnya, karena terlalu lama didiamkan, burung itu membawa masalah. Jalan beraspal, bangku taman, dedaunan, papan informasi hewan, hingga sangkar burung berubah warna jadi putih. Bukan karena salju, melainkan kotoran burung kowak. Mayoritas berada di sisi timur KBS.



Iwan ”Londo” Febrianto dan Cipto Dwi Handono geleng-geleng kepala saat melihat banyaknya kotoran burung tersebut. Sejumlah tanaman bahkan mati karena daun-daunnya tertutup kotoran. ”Takutnya kotoran itu membawa penyakit bagi burung-burung KBS,” sebut Iwan yang pernah meneliti dampak flu burung pada burung migran itu.



Burung kowak berkoloni dan membuat 10 sarang dalam satu pohon. Saking banyaknya sarang, pihak KBS membuat tali yang diikatkan ke salah satu dahan untuk menakut-nakuti burung. ”Kami cuma bisa mengusir mereka dengan tali,” ujar Humas KBS Laily Widya Arishandi yang menemani duo shorebirdman itu berkeliling.



Iwan menceritakan, dirinya pernah melakukan observasi di KBS sekitar 20 tahun silam. Saat itu, dia menggandeng Klub Indonesia Hijau untuk mendata burung-burung liar di KBS. Terdata lebih dari 20 jenis burung. Sejak dahulu hingga kini, memang belum ada solusi untuk menangani burung liar tersebut. ”Idealnya memang tidak bersarang di sini,” lanjut Iwan.



Dia menerangkan, salah satu cara yang pernah dilakukan Kebun Raya Bogor adalah menembak mati burung yang bersarang. Kotoran kowak mengancam kehidupan sejumlah tanaman langka di sana. Karena itu, langkah menembak mati terpaksa dilakukan.



Lalu, bagaimana di KBS? Menurut Iwan, menembak mati burung belum diperlukan. Mengambil sarang burung itu juga percuma. Sebab, burung-burung tersebut dengan mudah bisa membuat sarang lagi.



Melepas burung pemangsa atau raptor menjadi salah satu solusi yang memungkinkan. Burung-burung itu bisa berupa elang yang dilatih secara khusus. Sebagai pemuncak rantai makanan, elang di KBS bisa mengusir burung-burung tersebut. Setelah diusir, mereka bakal takut kembali lagi. Cara mengusir burung dengan raptor itu biasa dilakukan di bandara.



Burung-burung liar tersebut seharusnya bersarang di pantai timur Surabaya (Pamurbaya). Namun, hutan mangrove di sana semakin tergerus. Karena itu, burung-burung memilih hidup di KBS karena merasa aman. Kolam ikan di depan pintu gerbang juga menjadi salah satu magnet.



Perilaku burung di KBS saat ini sudah berbeda dengan burung liar di pamurbaya. Di alam liar, burung-burung lebih pemalu dan memilih menghindari kontak dengan manusia. Namun, di KBS, burung-burung tersebut tenang-tenang saja meski ada aktivitas manusia dari jarak 5 meter.



Iwan langsung menyiapkan teleskop dan tripod yang dia panggul sejak tadi. Dia meletakkan kamera ponselnya di view finder teleskop. Cara itu dinamakan phonescoping. Iwan membidik burung blekok sawah yang biasanya sangat sensitif. Burung dengan nama Latin Ardeola speciosa tersebut terlihat asyik bermain air. Sekali jepret, dia bisa memotret detail kepala burung. ”Biasane gak isok. Isinan manuke (Biasanya tidak bisa. Burungnya pemalu),” ujar pria plontos itu.



Selain memantau burung di area timur, Iwan dan Cipto berencana memantau KBS dari menara pandang di sebelah barat. Di sana terdapat kolam yang lebih besar. Area itu menjadi habitat kura-kura, owa jawa, dan bekantan. Terdapat pohon kering yang membentuk lanskap KBS.



Selama perjalanan menuju menara pandang, Cipto sibuk dengan binokularnya. Dia meminta rombongan untuk berhenti karena melihat burung kaladi ulam. Burung itu adalah si woody woodpecker, karakter burung pelatuk pada kartun bikinan Walter Lantz Animation Studio. Iwan menyiapkan teleskopnya lagi. Namun, sebelum terpotret, burung tersebut sudah melarikan diri.



Batang pohon kering memang menjadi habitat kesukaan burung pelatuk. Terlihat beberapa lubang di pohon itu. Namun, sampai di menara pandang, tidak tampak satu burung pun. Yang banyak seliweran hanya burung kowak yang mencari ranting untuk membuat sarang. Ada juga burung jalak kerbau yang berkicau bersahutan dengan burung cekakak.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore