Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 13 Juli 2017 | 15.43 WIB

Jonathan Chanutomo, ’’Pelukis’’ Langit-Langit Gereja Katolik Santo Yakobus

WUJUDKAN IMPIAN: Jonathan Chanutomo memperlihatkan karya lukisnya di Gereja Katolik Santo Yakobus. Lukisan itu bercerita tentang peristiwa Rosario. - Image

WUJUDKAN IMPIAN: Jonathan Chanutomo memperlihatkan karya lukisnya di Gereja Katolik Santo Yakobus. Lukisan itu bercerita tentang peristiwa Rosario.


JawaPos.com – Kondisi cuaca di Indonesia kini semakin tidak menentu. Petani komoditas hortikultura resah. Hasil produksi yang melimpah cepat membusuk. Hal itu mendorong mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan pengering untuk mengawetkan produk hortikultura berbasis smartphone.



Alat buatan lima mahasiswa jurusan teknik fisika tersebut diberi nama H-Flory (horticultura fluid flow dryer). Dengan alat kontrol suhu itu, pengeringan bisa lebih cepat. Dalam waktu 12 jam, alat tersebut mampu mengeringkan sekitar 8 kilogram produk hortikultura.



Jika tanpa alat, waktu pengeringan bisa mencapai 5–7 hari. Gas yang diperlukan untuk menyuplai api juga hanya 1,5 kilogram. ”Tidak boros karena kami memakai sensor panas,” jelas Achmad Syarif Hidayat, salah seorang mahasiswa.



Saat suhunya mulai panas, katup gas akan menutup secara otomatis. Api yang menjadi sumber panas otomatis akan mati. Selain itu, alat tersebut dilengkapi control box yang bisa menunjukkan suhu dan kelembapan di dalamnya.



Achmad menerangkan, alat pengering tersebut bisa mengalirkan panas secara merata meski berbentuk rak bersusun. Hal itu, menurut dia, akan memberikan kualitas yang sama pada semua tingkatan.



Windy Rizqia Arsy, anggota tim, menambahkan, penghasil panas adalah api dan teknik konveksi. ”Panasnya tidak hanya mengalir di pinggiran alat lewat konduksi, ada fase konveksi dari aliran air,” ujarnya. Memang, di bagian dalam alat, ada tiga pipa yang menjadi jalan bagi aliran air panas.



Pengaturan suhu dan kelembapan antarjenis tanaman tidak sama. Karena itu, alat diatur secara khusus untuk jenis tanaman tertentu. Cabai hanya boleh dipanaskan pada suhu 60 derajat Celsius. Data tersebut, menurut Windy, tersimpan dalam database aplikasi smartphone.



Dari aplikasi itu pula, pengeringan bisa diatur. Setelah data tersimpan, pengguna tinggal mengeklik jenis tanaman untuk mengatur penggunaan alat. ”Alat otomatis mengatur sesuai suhu dan kelembapan jenis tanamannya. Karena ini tersambung via bluetooth,” imbuh Sapto Wahyu Sudrajat, anggota lain. (kik/lif/c7/nda)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore