Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 Maret 2017 | 00.20 WIB

Cerita Fitri Khoerunnisa, Dosen UPI yang Pernah Terlibat Penelitian Besar di Jepang

PEREMPUAN PENELITI: Fitri Khoerunnisa di kampusnya, UPI Bandung. Dia kini bersiap melakukan penelitian besar bersama peneliti Eropa. - Image

PEREMPUAN PENELITI: Fitri Khoerunnisa di kampusnya, UPI Bandung. Dia kini bersiap melakukan penelitian besar bersama peneliti Eropa.


Riset nano teknologi terus berkembang di tanah air. Misalnya, yang dilakukan dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Fitri Khoerunnisa. Dia pernah meneliti baju tahan radiasi nuklir berbasis teknologi nano karbon.





M. HILMI SETIAWAN, Bandung





FITRI Khoerunnisa sedang berada di laboratorium Shinshu University, Nagano, ketika gempa berkekuatan 7,2 skala Richter mengguncang Jepang pada 11 Maret 2011. Semula dia tidak menyadari adanya gempa itu. Namun, ketika melihat indikator timbangan nano karbon yang diamatinya sering berubah-ubah atau tidak konsisten, dia baru bertanya-tanya.



Ternyata, yang membuat jarum indikator tersebut tidak konsisten adalah gempa hebat yang berpusat di Sendai. Fitri memang sempat tidak merasakan guncangan akibat gempa itu. Sebab, gedung laboratorium Shinshu University didesain tahan gempa. Bangunannya bisa bergoyang mengikuti guncangan gempa.



’’Tapi, saking besarnya guncangan itu, lama-lama terasa juga kalau ada gempa,’’ kenang Fitri saat ditemui di kampus UPI Bandung, Kamis (9/3).



Fitri beserta teman-temannya langsung lari menyelamatkan diri menuju titik kumpul di luar gedung. Ternyata, di luar gedung kondisinya sudah parah. Banyak tiang listrik di jalanan yang ambruk. Jalan-jalan retak. Rumah-rumah penduduk dan gedung-gedung perkantoran yang rusak.



Pengalaman diguncang gempa hebat tersebut dirasakan Fitri sebagai pengalaman hidup yang luar biasa. Pasalnya, baru kali itu dia melihat orang-orang panik dan berusaha menyelamatkan diri. Bahkan, dia ikut mengalaminya.



Apalagi, saat itu Fitri baru sepekan tinggal di Prefektur (Provinsi) Nagano. Sebelumnya, istri Laode Basir itu tinggal di Prefektur Chiba, sekitar 3,5 jam perjalanan darat dari Nagano, untuk menempuh studi S-3 di Chiba University.



Saat gempa, Chiba juga diterjang tsunami, sedangkan Nagano hanya mengalami guncangan hebat.



Setelah gempa selesai, Fitri bermaksud pulang ke Chiba. Namun, keinginan itu harus ditunda karena seluruh akses transportasi di Nagano lumpuh. Baru beberapa hari kemudian dia bisa pulang ke Chiba. Dia sangat terkejut melihat kerusakan yang lebih parah terjadi di Chiba.



’’Saat tiba di Chiba, saya tidak boleh meminum air sembarangan,’’ ungkapnya.



Air keran yang biasanya bisa langsung diminum saat itu tidak boleh langsung diminum. Sebab, radiasi nuklir dari pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima mengalami kerusakan sehingga air rentan tercemar. Sebagai gantinya, mau tidak mau Fitri harus mengonsumsi air mineral kemasan.



Selang beberapa saat setelah gempa besar yang berujung tsunami dan rusaknya fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir di kawasan Fukushima itu, Fitri mendapat pengalaman besar. Dia diajak ahli nano material Prof Katsumi Kaneko untuk bergabung di timnya. Saat itu Katsumi ditunjuk pemerintah Jepang untuk ikut membantu menangani rusaknya fasilitas nuklir di Fukushima.



’’Kebetulan, sejak awal kuliah di Chiba, saya sudah dibimbing Prof Katsumi Kaneko,’’ tuturnya.



Fitri menjelaskan, tim riset Katsumi berfokus bekerja di laboratorium. Tidak sampai ikut terjun ke titik kerusakan fasilitas nuklir di Fukushima. ’’Apalagi, tidak sembarang orang bisa ke sana (Fukushima),’’ imbuhnya.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore