Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 April 2017 | 03.53 WIB

Mengunjungi Kampung Telur Asin di Gunung Anyar Gang 1

OMZET MENINGKAT: Kemas (kiri) bersama ibu-ibu PKK RT 5, RW 2, menunjukkan produk telur asin mereka. - Image

OMZET MENINGKAT: Kemas (kiri) bersama ibu-ibu PKK RT 5, RW 2, menunjukkan produk telur asin mereka.


Yang dulunya cuma ngerumpi, sekarang malah bikin iri. Bisa menambah rezeki tanpa melupakan anak dan suami. Itulah yang dilakukan ibu-ibu PKK di Gunung Anyar Tengah Gang 1 RT 5, RW 2.





GALIH ADI PRASETYA





KAMPUNG itu cukup tenang saat siang. Berbeda jika bertandang saat pagi. Sebanyak 15 ibu ngerumpi di sebuah teras. Ceria dan tertawa lepas. Namun, jangan anggap mereka hanya rasan-rasan biasa. Dua tangan mereka cekatan memilah dan mencuci telur, menumbuk batu bata, hingga menyiapkan ember serta alat-alat lain. Ibu-ibu tersebut tidak sedang punya gawe. Tetapi, mereka sedang memproduksi telur asin.



Telur Asin Ceria, itulah brand sederhana yang mewakili ekspresi keseharian mereka. ”Kalau bikin telur asin, harus ceria. Kalau cemberut, nanti getir dan pahit,” canda Ketua UKM Telur Asin Ceria Tumah Rohmah sambil membalut telur bebek dengan adonan bata dan garam.



Kesibukan membuat telur asin menjadi rutinitas mereka selama tiga bulan terakhir. Bermodal uang kas PKK Rp 500 ribu dan pelatihan di kelurahan, omzet mereka kini mencapai Rp 10 juta per bulan. ”Rata-rata kami produksi 600 butir per minggu. Dulu hanya 200 butir telur,” ungkap Ketua PKK RT 5, RW 2, Indah Masruroh.



Sejak pukul 08.00, ibu-ibu itu sudah berkumpul. Mereka memiliki tugas yang berbeda. Mulai mengukus telur, mencuci, memilah, sampai melumuri telur dengan campuran batu bata dan garam. Pasokan telur didapat dari warga Gunung Anyar. ”Ada yang punya peternakan, tapi di RT sebelah,” tuturnya.



Keinginan untuk membuat produk bernilai ekonomi kini berbuah manis. Sebelumnya, memang ada pelatihan membuat kerajianan seperti bros, tas, dan barang dari sampah. Namun, telur asin dinilai memiliki peluang bisnis yang cukup besar. ”Ditawarkan kepada ibu-ibu PKK. Kami tiap minggu memiliki agenda pertemuan,” jelasnya.



Antusiasme warga memang besar waktu itu. Namun, tak sedikit ibu-ibu yang bekerja di luar. Sementara itu, aktivitas produksi telur asin tidak menentu. Akhirnya, dipilihlah anggota PKK yang tidak memiliki kegiatan lain. ”Banyak yang minat, tapi yang pure ibu rumah tangga cuma 15 orang,” lanjutnya.



Di teras berukuran 1,5 x 5 meter itu, tumpukan boks styrofoam putih terlihat. ”Ini berisi telur yang masih didiamkan. Ada pesanan 1.200 telur untuk tanggal 16 April nanti,” terangnya.



Pembuatan telur asin diawali dengan mencuci dan menggosok telur. Tujuannya, pori-pori sedikit terbuka. Adonan tumbukan bata dan garam dicampur dengan takaran yang pas. Telur dibungkus adonan dan dilapisi abu gosok. Tunggu hingga 12 hari untuk dipanen. ”Setelah dipanen, telur direbus sekitar 2 jam,” imbuhnya.



Soal rasa, jangan ditanya. Bayangkan makan telur asin yang masir, dengan kuning telur yang sedikit berminyak. Jangan berharap sebutir bisa puas. ”Kalau beli telur asin, orang pasti cari yang masir. Rahasianya, ada waktu pembuatan dan takaran bahan yang pas,” jelasnya.



Memang, waktu pembuatan tidak bisa dijadikan hal yang sepele bagi Telur Asin Ceria. Terlalu dini atau terlalu lama didiamkan akan membuat rasanya berbeda. Itulah salah satu kunci kualitas rasa telur asin mereka.



Pemasaran biasanya menjadi kendala bagi UMKM untuk berkembang. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Telur Asin Ceria. Banyak teman, banyak rejeki. Itulah prinsip mereka. ”Promosinya lewat WA. Teman kan banyak, saya tawari semua,” kata Ketua RT 5, RW 3, Kemas A. Chalim.



Pesanan mulai berdatangan. Namun, tak semua bisa langsung diiyakan. Demi mempertahankan kualitas, mereka tak mau menggunakan jalan pintas. Sebab, terkadang ada produsen telur asin yang curang. Caranya menambahkan banyak garam untuk mempersingkat waktu perendaman. ”Dibutuhkan 12 hari untuk didiamkan, setelah itu baru bisa dipanen. Jadi, order dulu, gak bisa langsung,” ucap Indah.



Meskipun baru seumur jagung, mengirim telur asin ke luar kota bukan lagi hal baru. Mulai yang paling dekat Surabaya, Pasuruan, Probolinggo, Jakarta, hingga Makassar. ”Ini lagi nego untuk dikirim ke Arab Saudi,” ujar Kemas.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore