
BERUBAH!!!!: Foto kanan, Aiptu Muhammad Rikza Firmansyah memperagakan aksi salah satu tokoh favoritnya.
Sebagaimana cinta, hobi tidak memandang apa pun. Ia bisa merasuki profesi apa pun dengan usia berapa pun. Itulah yang menjangkiti Aiptu Muhammad Rikza Firmansyah.
DRIAN BINTANG SURYANTO, Surabaya
DALAM bahasa Jepang, tokusatsu punya makna special effect atau efek khusus. Ia juga merupakan kategori film khas jagat Negeri Sakura tersebut. Film-film tokusatsu adalah film yang selalu memunculkan efek khusus berlebih.
Dengan begitu, banyak film yang masuk kategori tersebut. Mulai horor, fantasi, hingga fiksi ilmiah. Jenis efeknya juga beragam. Mulai suara di latar belakang hingga sebuah ledakan yang mendramatisasi sebuah adegan.
Tetapi, ada pemahaman umum di masyarakat bahwa tokusatsu adalah film-film tentang superhero. Memang, film-film itu memunculkan banyak efek khusus. Tokusatsu.
Sebut saja film Godzilla, Ultraman, Super Sentai (Power Ranger, Red), hingga Kamen Rider (biasa diterjemahkan sebagai Satria Baja Hitam). Nah, Aiptu Firmansyah adalah salah satu ’’korban’’ kecintaan pada genre tersebut.
Pria berambut cepak itu mengatakan, tokusatsu adalah cinta keduanya. Yang pertama tentu cinta pada Dian Lestari Handayani, istrinya. Cinta kedua pada tokusatsu, terutama tokoh Kamen Rider.
Satria bermotor itu selalu menjadi idamannya. Baju zirah yang kukuh selalu menyihir Firmansyah masuk ke dunia khayalan. Apalagi jika melihat tokoh-tokoh tersebut beraksi.
’’Saya dari dulu suka sekali dengan martial art. Makanya begitu melihat itu, rasanya pas sekali,” jelas pria yang bertugas di dikyasa satlantas tersebut.
Firmansyah mengakui bahwa superhero asal Jepang lebih memikat ketimbang pahlawan Amerika. Kostumnya lebih memikat.
’’Coba baju zirahnya. Bandingin sama kostum superhero sana. Pasti kalah,” jelasnya tak mau kalah.
Dengan tekun, Firmansyah mengumpulkan action figure Kamen Rider. Jumlahnya ratusan. ’’Dulu saya taruh di lemari-lemari kecil. Terus sumpek, akhirnya saya buang semua lemarinya. Terus saya beli yang besar,” kata pria kelahiran Jakarta tersebut.
Memang, sebagian besar action figure koleksinya bukan yang paling mahal. Tapi, harga satuannya tetap membikinnya menguras kocek. ’’Gini-gini harganya Rp 200 ribuan lho per satu mainan,” sahut Firmansyah.
Beberapa koleksi juga harus dilengkapi pernik-pernik mahal. Misalnya, sabuk perubahan Kamen Rider Gaim yang harganya Rp 1,65 juta. Itu belum termasuk pelengkap alat perubahan Kamen Rider yang mengadaptasi buah-buahan tersebut.
Firmansyah juga harus membeli efek-efek yang melengkapi perubahan sang Satria Baja Hitam. Bentuknya adalah gembok kecil yang diletakkan di tengah-tengah sabuk.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
