Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Juli 2017 | 03.57 WIB

Swela Giri, Komunitas Pencinta Alam Tertua di Jawa Timur

PENCINTA ALAM: Suatman (kiri atas) bersama pengurus Swela Giri. - Image

PENCINTA ALAM: Suatman (kiri atas) bersama pengurus Swela Giri.


Berpuluh-puluh tahun komunitas pencinta alam ini mampu bertahan. Lantaran begitu aktif selama sekitar 50 tahun, sebagian anggota komunitas yang regenerasinya kuat itu sampai lupa menikah. Namanya adalah komunitas Swela Giri.





UMAR WIRAHADI, Gresik





TIGA remaja bergerak lincah di papan wall climbing. Dalam hitungan detik, ketiganya sudah berada di ujung papan panjat tebing setinggi 20 meter. Pemandangan itu terlihat di kompleks Bumi Perkemahan Semen Gresik pada Sabtu (8/7) sore. ”Anak-anak sedang berlatih rutin,” kata Denny Satriawan, pelatih Swela Giri, kepada Jawa Pos.



Lelaki 40 tahun tersebut tengah melatih para junior Swela Giri. Mereka bergabung seiring dengan proses regenerasi organisasi. Anggota senior, lanjut dia, harus aktif menggembleng para junior untuk terus berprestasi. ”Bahkan, bukan hanya prestasi. Regenerasi ini adalah cara agar organisasi tetap eksis,” ujar pria bertubuh atletis tersebut.



Swela Giri berdiri sejak 15 Mei 1967. Sudah lebih dari 50 tahun. Itulah organisasi tertua yang tetap eksis di Kota Santri. Bahkan, komunitas yang menghimpun para pencinta alam bebas tersebut berani mengklaim sebagai komunitas tertua di Jawa Timur. Hanya terpaut tiga tahun dari organisasi kenamaan asal Bandung, Wanadri. Perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung itu berdiri sejak 16 Mei 1964 di Bandung. ”Kami bangga sampai sekarang masih eksis,” tutur Fahrudin Azis, anggota lain.



Swela Giri kali pertama dibentuk sebagai wadah karyawan Semen Gresik (SG). Sekarang Semen Indonesia. Mereka suka tantangan alam bebas. Lambat laun anggotanya makin banyak. Pada 2000, atas usulan para sesepuh, komunitas itu tidak lagi eksklusif hanya untuk internal karyawan SG. Organisasi tersebut dibuka untuk umum. Semua kalangan.



Suatman merupakan salah seorang anggota senior di Swela Giri. Spesialisasi petualangannya adalah pendakian gunung (mountaineering). Lelaki 55 tahun itu telah mendaki gunung-gunung di Jawa dan luar Jawa. Dia ikut sejumlah eksplorasi gunung berapi di Indonesia.



Begitu asyiknya bergelut dengan alam bebas, pria yang kini tinggal di Desa Jono, Kecamatan Cerme, tersebut sampai lupa menikah. ”Sampai sekarang, saya belum kepikiran menikah. Cinta saya sudah terlalu menyatu dengan alam bebas,” ungkapnya, lantas tertawa lepas.



Dengan mencintai alam bebas, lanjut dia, setiap orang bisa melihat kebesaran Tuhan. Saat berada di puncak gunung, dasar laut, tebing yang curam, hingga arus jeram yang ganas. ”Semua adalah bukti kebesaran Tuhan yang harus disyukuri,” tambahnya, bijak.



Sadar usia tidak lagi muda, para pentolan Swela Giri menyiapkan generasi baru. Fuad Zain, seorang pengurus, menyampaikan bahwa saat ini ada 53 anggota baru. Mereka berusia 12–19 tahun. Rata-rata masih kelas VI SD, SMP, SMA, dan sebagian adalah mahasiswa.



Salah satunya adalah Septi Arfiandani, 17. Remaja yang baru naik kelas XII SMA itu menyabet gelar juara di kejuaraan nasional (kejurnas) panjat tebing junior di Bangka Belitung. Pada 28 Juli, dia siap mengikuti ajang kejurda di Surabaya untuk mewakili Kabupaten Gresik. Selain itu, ada Nur Ismatus Sa’diyah. Di usianya yang baru 13 tahun, dia telah memenangi sejumlah kejurnas junior panjat tebing. ”Mereka sudah banyak berprestasi. Terutama memang bidang panjat tebing,” tutur Fuad. (*/c16/roz)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore