
Ir Iriyanto MSc (53) sedang mengambil telur puyuh di peternakan Binalakami miliknya di Jalan Garuda Sakti - Jalan Sepakat, Panam, Pekanbaru.
Namanya Irianto, seorang yang kini tengah menggeluti usaha Peternakan burung puyuh. Di tempat peternakan itu dia membina para pemuda yang memiliki semangat untuk berwirausaha dan maju. Semua itu ditularkan secara gratis.
Laporan HENDRAWAN, Pekanbaru
Irianto memang memiliki kondisi fisik yang terbatas. Akan tetapi di balik kekurangannya itu dia memiliki kelebihan yang luar biasa. Selain bergelar akademis insinyur dan master dia juga memberikan pelatihan bagi mereka yang sunggu-sungguh ingin belajar berwirausaha.
Sehingga tak heran nama lengkapnya Ir Irianto MSc.
"Gratis. Silakan datang kemarin untuk menerima pelatihan dan belajar selama 20 hari. Tinggal di sini, makan saya tanggung tapi sambil pelatihan bantu saya mengurus ternak itu saja. 20 hari sama jamin sampai mampu beternak puyuh," kata Irianto seperti yang dikutip dari Riau Pos (Jawa Pos Group).
Lokasi peternakan puyuh milik Irianto mudah sekali ditemukan. Walaupun tidak memiliki papan nama. Alamatnya di Jalan Garuda Sakti Km 1 Gang Sepakat. Tidak jauh dari SD, lapangan bola dan Buluh Cina. Hanya berjarak lima rumah masuk ke dalam di Gang yang berada tepat di samping sebuah swalayan modern di kawasan itu.
Bau peses unggas bercampur bau makanan ternak menyeruak di bangunan semi permanen yang tepat berada di belakang sebuah rumah di gang itu. Dari luar tidak terlihat sama sekali tanda-tanda ada peternakan puyuh yang menghidupi 6.000 ekor ternak.
Saat ditemui, Irianto sedang sibuk mengawasi ternak bersama sang istri, Ir Armayeni. Kekurangan yang dimilikinya memaksa Irianto hanya mengandalkan kursi sambil memandangi satu persatu kandang yang berisi ribuan ekor burung puyuh tersebut. Sementara sang istri tidak berhenti memunguti telur puyuh dari kandang ke kandang.
Pria yang akrab disapa Anto ini bukan peternak puyuh biasa. Dirinya bisa dikategorikan sebagai difabel. Salah satu kakinya dimakan oleh semangatnya sendiri dalam membangun peternakan.
Penyakit gula yang dideritanya membuat kaki itu harus diamputasi beberapa tahun lalu. Itupun karena semangatnya untuk membangun area peternakan. Saat sedang bertukang kakinya terluka hingga tidak sembuh.
Patah semangat? Tidak, Irianto tidak kendur. Apalagi memang dirinya suatu saat dulu pernah diandalkan pemerintah dalam pengembangan ekonomi pedesaan bidang pertanian.
Dirinya tergabung dalam Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan (SP3). Bahkan dirinya mewakili Riau di tingkat nasional dan mendapat penghargaan dari Presiden Soeharto pada 1994 itu di Jakarta.
Namun disesalkan Anto, begitu kontrak program tersebut berakhir, dirinya dilupakan. Janji-janji bantuan usaha tidak pernah terealisasi sampai saat ini. Namun hal itu tidak juga membuatnya patah arang.
Setelah tim SP3 yang terdiri dari lima orang itu bubar dan bagi aset, Anto melanjutkan usaha tersebut. Bahkan dirinya membuka pelatihan gratis bagi siapa saja yang berminat dan serius.
"Saya awalnya belajar curi-curi dengan melihat dan mengamati. Tapi saya memang tipikal pekerja keras, saya Insinyur Pertanian. Orang pertanian memang harusnya tidak ada yang malas-malas, petani itu pekerja keras," terangnya.
Bukan tanpa tantangan. Irianto menjalani usahanya jatuh bangun. Bahkan saat krisis dan harga pangan ternak melambung, dirinya terpaksa memangkas produksi dan banyak memotong ternaknya untuk dijual.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
