Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Februari 2017 | 15.24 WIB

Dyah Ayu Rani yang Tak Bisa Tidur Telentang karena Tumor Tulang Belakang

CEPAT SEMBUH: Dyah Ayu Rani diperiksa Dania, perawat di RS PHC. - Image

CEPAT SEMBUH: Dyah Ayu Rani diperiksa Dania, perawat di RS PHC.

Sejak akhir tahun lalu, Dyah Ayu Rani tak bisa menikmati mewahnya tidur. Saban malam dia hanya berdiri karena rasa sakit yang mendera punggungnya.



FERLYNDA PUTRI



DYAH Ayu Rani masih harus menginap di RS PHC Surabaya pascaoperasi tulang belakang, 26 Januari lalu. Jalannya masih harus pelan-pelan. Begitu pula ketika harus tidur. Di punggungnya masih ada perban yang menutupi luka bekas operasi.


’’Ini jauh lebih mending daripada sebelum operasi,’’ kata Dyah, Selasa (1/2). Ibu dua putra itu ingat betul penderitaan yang dialaminya sebelum operasi. Kenikmatan tidurnya direnggut rasa sakit yang luar biasa. Sakit yang menjalari punggung hingga kakinya.


Dyah pun tak bisa menggambarkan rasa sakit itu. Luar biasa, katanya. Linu. Nyeri. Yang bisa dilakukannya hanya berdiri sembari meremas orang di sebelahnya.


Saat Dyah akan duduk, sakit itu juga langsung datang. ’’Saya bisa membutuhkan waktu seperempat jam untuk bisa benar-benar duduk,’’ ucapnya.


Dari posisi berdiri, Dyah harus pelan-pelan duduk. Bagian panggulnya akan nyeri. Kemudian, rasa nyeri itu menjalar hingga kaki. Akhirnya, dia harus berdiri dan berusaha duduk lagi.


’’Sakitnya itu mulai datang kalau malam. Sehabis magrib,’’ tuturnya. Itu membuatnya tak bisa tidur. Untuk memejamkan mata saja, dia tidak bisa. Untuk duduk sakit. Apalagi untuk tidur telentang.


Painkiller atau obat pereda nyeri yang seharusnya diminum dua kali dalam sehari terpaksa ditenggak empat kali dalam sehari. Itu pun tidak mempan. Saban malam, punggungnya harus digosok balsam panas. Setiap malam dia menghabiskan satu balsam. Kakinya harus di-hairdryer. Bukan untuk mengeringkan rambut di kaki, tentu. Tapi untuk memberikan efek hangat.


Mungkin orang biasa akan girap-girap kepanasan kalau diperlakukan seperti itu. Namun, Dyah justru tidak merasakan apa-apa. ’’Sepertinya itu panasnya tidak sampai tulang. Biasa aja,’’ ceritanya.


Penderitaan tersebut dirasakannya sejak Desember hingga 25 Januari lalu. Dan tentu, Dyah tidak sendirian. ’’Saya sering ngajak orang rumah begadang. Mama sama Papa yang paling sering menemani,’’ ujar perempuan asli Mojokerto itu.


Nah, saat pagi, Dyah baru bersiap-siap ’’tidur’’. Bukan di kasur. Dyah sekadar duduk di sofa dengan sandaran bantal. Kakinya juga harus diganjal kursi pendek sehingga ujung kaki dan pantatnya sejajar. Kalau duduk dengan posisi orang pada umumnya, rasa sakit itu pasti langsung datang.


Itu pun tidak di kamar, melainkan di ruang tamu. Dyah memerlukan sinar matahari yang masuk dan membasuh tubuhnya. Sebab, kehangatan surya membuat rasa sakit tersebut cukup berkurang. Itulah satu-satunya caranya beristirahat. Kalau malam, bergadang lagi...


Gejala sakit itu sebenarnya dirasakan sejak Agustus 2016 setelah Dyah jatuh dan tertimpa motor. Awalnya dia merasakan nyeri yang menjalar di bagian pantat. ’’Rasanya itu seperti gringgingen (kesemutan, Red). Saya kira itu efek jatuh,’’ ungkapnya. Dyah sempat datang ke tukang pijat. Lumayan. Sakitnya reda.


Tapi, pada Oktober, Dyah sudah tidak bisa duduk di lantai. Untuk berjalan pun, kaki kanannya agak sakit. Perempuan 31 tahun tersebut masih ’’menuduh’’ rasa sakit itu sebagai akibat kecelakaan. Dia pun rutin pijat. ’’Setiap dua minggu saya pijat. Memang sakitnya reda setelah pijat. Namun, kalau capek, pasti kambuh,’’ tutur perempuan kelahiran 3 Oktober tersebut.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore