Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Februari 2017 | 14.47 WIB

Kisah Eny Heri Maryatun, Pengasuh Terlama di UPT PPSAB

TULUS: Eny (kanan) menggendong Juni Alifa Salsabila, 7 bulan, dan Sri Mariyani bersama M. Affan, 4 bulan, Rabu (1/2) di ruang bayi UPT PPSAB Sidoarjo. - Image

TULUS: Eny (kanan) menggendong Juni Alifa Salsabila, 7 bulan, dan Sri Mariyani bersama M. Affan, 4 bulan, Rabu (1/2) di ruang bayi UPT PPSAB Sidoarjo.

Unit Pelayanan Teknis Perlindungan dan Pelayanan Sosial Anak Balita (UPT PPSAB) Sidoarjo berdiri pada 2009. Sejak saat itu pula, Eny Heri Maryatun mengabdi di sana. Hingga masa pensiun yang tiba bulan depan, dia tetap setia mengasuh bayi dan balita yang telantar.



MAYA APRILIANI



SUARA tangisan dari ruang bayi UPT PPSAB yang bernaung di bawah Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Timur terdengar saling bersahutan Rabu (1/2) . ’’Nyanyian’’ bayi berumur di bawah dua tahun itu bukan hal yang asing lagi bagi Eny Heri Maryatun. Tangis dengan nada tidak beraturan tersebut seolah menjadi hiburan tersendiri bagi perempuan 57 tahun itu. Eny sama sekali tidak terganggu.


Seolah paham apa yang diinginkan bayi-bayi yang merajuk tersebut, dengan cekatan, Eny melakukan beberapa kegiatan. Diawali dengan menggendong bayi-bayi yang selesai dimandikan ke boks masing-masing. Kemudian, memberikan susu kepada mereka satu per satu. Setelah itu, dia mendekati kelompok bayi yang agak besar. Bayi-bayi tersebut bisa berjalan dan bermain di boks sendirian. Perempuan kelahiran Klaten, Jawa Tengah, itu lantas memberikan biskuit.


Satu per satu anak-anak tersebut menerima biskuit dari Eny. Ada yang langsung memasukkannya ke mulut. Ada juga yang hanya tersenyum lantas mengamati biskuit dalam genggamannya itu. ’’Ayo,Sholeh.. Ayo.. Katok e kok dicopot (celananya kok dilepas, Red),’’ kata Eny kepada salah seorang anak yang melepas celana.


Namun, perkataan Eny tidak langsung dituruti. Perempuan yang melakukan kegiatan sosial selama lebih dari dua dekade tersebut tidak bisa langsung mendekati Sholeh, anak kreatif itu. Sebab, tangannya sibuk memegangi dot bayi lain. ’’Mereka tidak bisa memegang botol sendiri. Jadi, harus dipegangi,’’ ucap Eny.


Ibu dua anak tersebut sangat hafal dengan kebiasaan puluhan anak yang diasuhnya. Mulai yang masih bayi sampai anak yang agak besar. Selama delapan tahun menjadi pengasuh di UPT PPSAB, banyak hal yang dipelajarinya.


Eny adalah pengasuh angkatan pertama di UPT itu. Hingga kini, Eny tidak lupa dengan bayi pertama yang diasuhnya. Bahkan, sampai sekarang, dia sering berjumpa dengannya. ’’Awal berdiri dulu hanya ada lima bayi yang diasuh,’’ ucap alumnus Sekolah Menengah Pekerja Sosial tersebut. Sekarang yang diasuh berjumlah 50 bayi dan balita. Terdiri atas 39 bayi berumur kurang dari dua tahun dan 11 balita berusia di atas dua tahun. Mereka semua dirawat Eny dan tim perawat serta pengasuh lainnya.


Ada sistem jaga secara bergantian (sif) antara dua kelompok. Kelompok satu berjaga mulai pukul 07.00 hingga 19.00. Kelompok dua bertugas mulai pukul 19.00 hingga pukul 07.00. Masing-masing kelompok terdiri atas enam perawat dan pengasuh.


Para perawat dan pengasuh di sana biasa dipanggil mama. Untuk yang laki-laki biasa disapa ayah. Ada juga yang disapa bunda. Mereka memiliki ikatan batin yang kuat, akrab dan erat seperti keluarga sesungguhnya. Pada 2 Maret mendatang, Eny pensiun. Dia mengaku berat meninggalkan anak asuhnya. Dia bertekad tetap berkunjung ke tempat tersebut.


Selama mengabdikan hidupnya di UPT PPSAB, salah seorang anak yang dirasa Eny memiliki hubungan spesial dengannya adalah Rani. Eny menganggap Rani yang diasuhnya sejak bayi itu sebagai anak sendiri. Sebaliknya, Rani menjadikan Eny seperti ibunya.


Sampai sekarang, Rani sering berkunjung ke kediaman Eny. Terutama ketika musim liburan. Suami dan anak-anak Eny juga dekat dengan Rani. Kedekatan tersebut terjalin lantaran Eny menemani Rani menjalani operasi di Australia pada 2010 dan 2013 silam. Dalam waktu sembilan bulan, keduanya berada di luar negeri untuk menjalani pengobatan. Rani merupakan salah seorang anak asuh yang mengalami kekurangan fisik.


Eny menjadi saksi saat Rani berjuang antara hidup dan mati. ’’Sehabis operasi, dia (Rani, Red) terkena infeksi yang sangat lama,’’ ujar Eny. Dia begitu khawatir dengan kondisi Rani. Kekhawatiran itu pula yang terus menumbuhkan rasa kasih sayang pada dirinya. Dia tidak tega melihat anak yang tidak berdosa dan dibuang orang tuanya tersebut menderita.


Meski demikian, Eny sering kali harus merelakan anak asuhnya diambil calon orang tua angkat (COTA). Awalnya, dia sedih dan menangis setiap kali ada pelepasan anak. Namun, sekarang Eny justru bahagia ketika ada orang tua yang mengangkat anak-anak mereka.


Bahkan, sekarang dia berharap anak-anak yang diasuh segera memperoleh COTA. Sering kali Eny terenyuh ketika mendengar pertanyaan anak-anak soal ayah dan ibunya. Dengan lugunya, mereka selalu bertanya kepada Eny kapan ayahnya datang. ’’Jika ada COTA yang datang, yang lain pasti bertanya,’’ imbuhnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore