Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Juli 2017 | 08.04 WIB

Komunitas Indigo–Telepati Surabaya; Kenang Sejarah dan Interaksi Jagat Lain

BERSEJARAH: Anggota KITS setelah JJM di petilasan Judo Kardono. - Image

BERSEJARAH: Anggota KITS setelah JJM di petilasan Judo Kardono.


Sesuai dengan namanya, Komunitas Indigo dan Telepati Surabaya (KITS) adalah wadah bagi para indigo di Surabaya. Penyandang indigo dipercaya punya indra yang jauh lebih peka ketimbang orang lain. Sehingga bisa ’’melihat apa yang tidak dapat dilihat orang lain’’.





GALIH ADI PRASETYO, Surabaya





KEHENINGAN malam membekap petilasan panglima perang Kerajaan Majapahit, Judo Kardono. Tapi, itu tak menyurutkan suasana cengkerama sepuluh orang yang duduk melingkar di tempat tersebut.



Ya, mereka adalah anggota Komunitas Indigo dan Telepati Surabaya (KITS). Komunitas itu mewadahi orang-orang dengan kelebihan. Mereka punya energi positif yang tak dipunyai orang-orang kebanyakan.



Bagus Heri Setiaji adalah ketua KITS. Malam itu, (21/6), bersama kawan-kawannya, dia sedang membahas sejarah Judo Kardono. Panglima yang menjabat saat Majapahit diperintah Jayanegara, raja kedua setelah Raden Wijaya, pada 1309–1328.



Judo Kardono dipercaya muksa (hilang bersama raganya) di tempat yang sekarang berada di Jalan Cempaka, di pusat kota Surabaya. Dulu, kata mereka, petilasan itu kerap diziarahi mantan Presiden Soeharto dan istrinya.



Agenda yang sedang dilakukan komunitas tersebut bernama Jalan-Jalan Misteri (JJM). Jadwalnya tidak pasti. Namanya juga misteri. Yang terang, tiap pekan selalu ada setidaknya sekali trip.



Tak sekadar cangkruk, mereka juga berkeliling petilasan. Di situ ada batu yoni, setinggi paha orang dewasa. ’’Yoni ini sebenarnya ada batunya di tengah. Jadi, namanya lingga dan yoni kalau lengkap. Melambangkan kesuburan,’’ terang Dhanny Budiharto, salah seorang anggota KITS.



Beberapa anggota mengamati ukiran-ukiran di batu. Beberapa di antara mereka juga sibuk berkeliling area petilasan. Ada pula yang mengambil air dari tengah yoni untuk cuci muka.



Di kompleks petilasan itu, ada dua bangunan yang mirip candi-candi pada era kerajaan silam. Di depan ada orang berbaju hitam yang berjaga di samping tangga. ’’Kalau ini tempat untuk semedi,’’ ujar Bagus sambil menunjuk bangunan berukuran 3 x 3 meter tersebut.



Petilasan Judo Kardono bukan satu-satunya tempat untuk JJM. Mereka pernah mengunjungi bangunan yang disebut sebagai rumah hantu darmo di Surabaya Barat. Pernah juga mendatangi Balai Pemuda, yang pada zaman Belanda menjadi tempat dansa-dansi. ’’Ya, memang benar di sana banyak hal-hal mistis. Termasuk soal pesugihan,’’ ujar Bagus.



Di Balai Pemuda, kata Bagus, pernah terdapat sebuah piano yang kerap berbunyi sendiri saat malam. Sebab, ada seorang sinyo Belanda yang jatuh hati dengan perempuan pribumi. Tapi, cinta mereka kandas. Dan lelaki itu kerap memainkan piano untuk perempuan pujaannya tersebut. ’’Istilahnya mati ngenes karena cintanya nggak kesampaian,’’ tutur Bagus.



KITS sudah tiga tahun berdiri. ’’Sebenarnya kami ini orang stres semua, Mas,’’ celetuk salah seorang anggota KITS, Dhanny Budiharto. Pertemuan mereka diawali lewat forum di Facebook yang lantas dikonkretkan di Museum Kesehatan, Jalan Indrapura.



Tidak mau sebatas indigo, komunitas itu memasukkan unsur telepati. Menurut mereka, telepati bisa dipelajari. Kini anggota KITS mencapai 25 orang. Padahal, awalnya hanya 7–10 orang.



Menurut Dhanny, umumnya orang indigo cenderung introver. Mereka merasa bahwa kelebihan yang dipunyai adalah keanehan bagi orang lain.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore