Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 1 Juli 2017 | 19.12 WIB

Terjang Ombak 2 Meter di Bawah Suramadu

HARI PERDANA: Armand van Kempen melintasi Jembatan Suramadu. Di belakangnya ada Piet van Kempen yang juga menjadi navigator. - Image

HARI PERDANA: Armand van Kempen melintasi Jembatan Suramadu. Di belakangnya ada Piet van Kempen yang juga menjadi navigator.


Suasana hati saya mulai kacau. Saat Alfonso Reno, salah seorang kru Armand van Kempen, mengaku baru kali pertama nyetir jet ski. Pikiran buruk terus membuncah. Mulai tercebur ke laut hingga jadi santapan ikan hiu.





DRIAN BINTANG SURYANTO





BEGITU Alfonso Reno merampungkan kalimatnya bahwa dirinya baru pertama nyetir jet ski, pegangan mulai saya eratkan. Badan juga mulai saya rapatkan. Demi keselamatan. Ingin rasanya tidak meninggalkan sedikit pun ruang yang memisahkan antara saya dan Reno.



Apa daya, ada jeriken bahan bakar yang menghalangi. Tutup jeriken dan dengkul saya juga mulai beradu. Aduh! Perih saya rasakan akibat gesekan yang ditimbulkan antara kulit dan plastik.



Saya kemudian mencari cara untuk menyelamatkan diri. Cengkeraman tangan di pelampung Reno pun saya eratkan. Sayangnya, pelampung yang dikenakan pria asli Malang tersebut tidak dilengkapi dengan pegangan. Karena itu, saya hanya bisa memegang dengan erat tali yang mengeratkan pelampung tersebut.



Naik, turun, naik, turun. Ombak rasanya mulai mencium ketakutan saya. Tidak ada ampun, jet ski yang kami naiki pun diempaskan beberapa kali ke udara. Serasa ingin mempermainkan saya dan Reno yang saat itu sedang ketakutan.



Wajah kami mendadak kaku tak berekspresi. Reno yang biasanya lebih banyak bicara mendadak diam seribu bahasa. Sedangkan saya? Sibuk mengencangkan pegangan dan komat-kamit membaca doa.



Armand terkadang mengurangi kecepatan dan bersanding di sebelah kanan kami. Dia mengacungkan tangan kirinya ke depan. Pria yang tinggal di kawasan Gayungsari tersebut memberi tanda untuk menambah kecepatan. ”Ayo, kalau enggak cepat, bahan bakarnya akan cepat habis,” perintah Armand terdengar sayup-sayup di balik suara deburan ombak.



Reno yang ikut tegang tidak memalingkan wajahnya sedikit pun untuk menoleh pada Armand. Pria lulusan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang itu lebih berfokus ke depan. Dia lebih berfokus untuk tidak menenggelamkan kami berdua.



Debur ombak semakin ganas. Semakin kami menjauhi daratan, ombak kian gede. Moncong jet ski yang lancip sesekali memecah ombak. Air laut itu pun diarahkan ke berbagai arah. Termasuk mulut saya. Tak terhitung berapa kali saya menelan air laut. Indra pengecap pun diliputi rasa asin dari air laut. Namun, hal tersebut tidak saya hiraukan. Keselamatan saya jadikan prioritas utama.



Sampai di bawah Jembatan Suramadu, ombak setinggi 2 meter menghadang jet ski kami. Tanpa persiapan, ombak tersebut menghantam kami dengan seketika. Wuussss!!! Ombak itu membuat Reno dan saya terempas ke udara. Keseimbangan mulai goyah. Kaki yang saya pakai untuk berpijak terhalang jeriken bahan bakar. Alhasil, kami pun njungkel ke depan. ”Kalau jerikennya menghalangi, pindah ke belakang saja,” teriak pria yang kini tinggal di Jakarta itu.



Jeriken pun kami arahkan ke belakang. Permasalahan keseimbangan kami selesai ketika tali yang menghubungkan dua jeriken tersebut saya duduki. ”Nah kalau gini, kan aman,” celetuk Reno.



Setelah itu, naik-turun ombak sudah tidak menjadi masalah. Reno pun mulai mengikuti alurnya. Ombak laut yang tadinya ganas itu berhasil dia taklukkan.



Dengan mantap, Reno mengendalikan jet ski-nya mendahului Gregorius Agung, salah seorang anggota rombongan yang mengendarai jet ski. Juga Armand. Sesekali ajang kebut-kebutan mereka adakan di tengah laut. ”Tadi saya mau ketawa lihat wajah Pak Reno. Sudah berubah pucat enggak tahu mau apa,” seloroh Armand tiba-tiba.



Namun, problem mulai muncul. Jet ski yang dikendarai Agung tiba-tiba menghilang entah ke mana. Hal tersebut terjadi ketika masih seperempat perjalanan. Kami bahkan masih berada di perairan Surabaya. Tepatnya, 15 nautical mile (NM) dari awal kami meninggalkan daratan. Satu NM adalah 1.852 meter. Karena itu, jarak kami dari start awal sekitar 28 kilometer.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore