
TAK MENYANGKA: Hepi dan Fadhil menunjukkan piagam Juara III Master Oleh-Oleh 2016 dan bolu pisang buatannya.
Banyaknya pelanggan yang suka bolu pisang membuat Hepi Catur Kahayani pede untuk ikut kompetisi Master Oleh-Oleh 2016. Dia mengangkat bolu pisang yang dikemas dengan menarik. Hasilnya, dia termasuk sepuluh peserta yang mendapat vote terbanyak sekaligus meraih juara III tingkat provinsi dalam kompetisi tersebut.
NURUL KOMARIYAH
SEMERBAK wangi pisang seketika tercium dari bolu bertabur chocochips yang dibawa Hepi Catur Kahayani. Bolu itu baru dikeluarkan dari oven. Aroma legit pisang makin kuat tertangkap indra pencium. Tidak hanya menggoda selera, bolu pisang buatan Hepi tersebut juga turut membawa nama Gresik. Dia mengikuti kompetisi Master Oleh-Oleh yang diselenggarakan salah satu brand mentega ternama di Indonesia.
Pada kompetisi kreasi oleh-oleh makanan dengan lingkup nasional itu, bolu dengan campuran pisang tersebut berhasil meraih juara III tingkat Provinsi Jawa Timur. Hal itu membuat ibu empat anak tersebut bangga sekaligus bahagia. ”Kompetisinya berlangsung pada Oktober tahun lalu. Produk saya dapat 1.092 vote. Total peserta se-Indonesia adalah 3.667 orang,” tuturnya.
Alumnus Teknologi Hasil Pertanian Universitas Brawijaya Malang itu menjelaskan, perolehan tersebut didapat dari hasil validasi dewan juri. Sebelumnya, juri memvalidasi sepuluh peserta yang mendapat vote terbanyak. Berbekal hasil itulah, dewan juri menentukan enam produk yang berhak maju ke tingkat provinsi. Di sana, Hepi meraih juara ketiga. ”Pemenang pertama dan kedua berasal dari Surabaya,” katanya. ”Penilaian utamanya adalah rasa, rupa, dan keunikan. Juga, kemasan dan daya tahan,” lanjutnya.
Hepi menceritakan, dirinya mulai membuat bolu pisang pada 2014. Tidak diniatkan untuk dijual atau dijadikan bisnis, tetapi sebagai jajanan yang bisa dibawa maupun disuguhkan dalam acara halalbihalal di kompleks perumahan tempat tinggalnya. ”Bingung mau bawa apa waktu itu. Akhirnya, kepikiran bikin bolu pisang saja,” imbuhnya.
Tak disangka, beberapa hari berselang, banyak tetangga yang justru pesan bolu pisang kepada Hepi. Alasannya, anak-anak mereka menyukai bolu itu. Dengan demikian, Hepi mulai menjual bolu pisang dalam kemasan mika. Dari hari ke hari, order berlipat ganda. Alhasil, dia memperoleh pesanan ratusan boks. Pesanan bolu mengalir bak air. Produk yang sebelas kali diuji coba dan gagal (trial and error) itu tidak hanya difavoritkan anak-anak, tetapi juga orang tua. ”Pisang dipilih karena cita rasanya sudah akrab di lidah segala umur. Selain itu, pisang melimpah dan mudah dicari,” terangnya.
Hepi dan sang suami, Fadhil, mengonsep bolu pisang sebagai buah tangan atau oleh-oleh yang bisa dibawa dari Gresik. Saat ini bolu yang dikemas dalam kardus yang lebih eksklusif tersebut menjadi kreasi kuliner dari Kota Giri yang melancong ke berbagai daerah hingga mancanegara. ”Gresik kan kota industri. Jadi, pasti banyak pendatang dari luar kota yang butuh altenatif lain buat dibawa saat pulang kampung,” terang Fadhil. Mantan konsultan baking itu menuturkan bahwa pekerja dari Batam, Malaysia, hingga Tiongkok pernah membawa oleh-oleh bolu pisang ketika mudik atau saat ditugaskan selama beberapa waktu di daerah Gresik.
Ketika mengetahui ada lomba tersebut, Hepi-Fadhil berminat ikut. Mereka tidak punya target menang. Karena itu, ketika bisa mencapai juara III tingkat provinsi, pasutri tersebut happy sekali. ”Tidak menyangka sekali,” ucap Fadhil.
Menjadi juara III tingkat provinsi Master Oleh-Oleh bukan hanya gelar. Namun, ada tanggung jawab yang diemban di dalamnya. Salah satunya terus kreatif menciptakan produk yang inovatif. Karena itu, setelah memperoleh gelar tersebut, dia dan Hepi menambahkan peanut butter queens sebagai salah satu varian baru bolu pisang. ”Itu untuk melengkapi empat varian sebelumnya,” paparnya.
Selain itu, keduanya baru saja me-launching produk baru. Yakni, bika legen. ”Kami ingin mengangkat Gresik. Jadi, pakai bahan asli Gresik yang bisa diolah. Salah satunya adalah legen,” imbuh Fadhil. Ke depan, dia dan Hepi masih punya banyak mimpi. Misalnya, membuat produk oleh-oleh khas Bawean dan mendirikan Republik Pisang-Republik Bolu. Tahun ini mereka berencana kembali mengikuti ajang Master Oleh-Oleh dan berharap bisa menjadi (minimal) juara I tingkat provinsi. (*/c16/ai/sep/JPG)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
