Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 Desember 2017 | 02.37 WIB

Gaya Hidup Berpindah ala Pemain Hiburan Keliling

TETAP FEMINIM: Titin Edi Susanto, 27,  di gendong suaminya Edi Susanto, 31, saat jalanann becek  di lapangan desa Mulyodadi Wonoayu, Sidoarjo, Sabtu Malam (9/12) - Image

TETAP FEMINIM: Titin Edi Susanto, 27, di gendong suaminya Edi Susanto, 31, saat jalanann becek di lapangan desa Mulyodadi Wonoayu, Sidoarjo, Sabtu Malam (9/12)

Hidup dari hiburan keliling membuat mereka nomaden. Dari satu kota ke kota lainnya. Dari alun-alun satu ke alun-alun lainnya. Mereka mirip kebanyakan orang kota, tak kenal tetangga di kampung.


Fajrin Marhaendra Bakti, Sidoarjo


LIMA pegawai hiburan keliling Asa Jaya Production (AJP) saling bercengkerama di ruang tamu rumah milik Rupini pada Kamis siang (14/12).


Di ruangan berukuran 5 x 3 meter itu, mereka saling melempar canda. Titin menyewa satu kamar untuk ditempati. Sebagai pegawai perempuan, dia dapat fasilitas satu kamar kos.


Untuk pegawai laki-laki, mereka harus tidur di lapangan, di dalam tong edan. Bersanding dengan dua motor yang biasa digunakan Titin dan Tutik. Alih-alih kasur, hanya karpet yang menjadi alas tidurnya. Tas berisi pakaian jadi bantal.


Hawa di dalam tong agak pengap sore itu. ’’Ini hangat, bukan pengap,’’ seloroh Khoirul Huda yang sedang tidur-tiduran di dalam tong, lantas tertawa.


Suasananya semakin ’’hangat’’ lantaran tiga orang tidur berimpitan. Selain Khoirul, Fajar Rohman dan ‎Pratama Hardiansyah berada dalam satu ’’kamar’’ tersebut. Tempat mereka menghabiskan malam.


Harga sewa kamar kos Titin relatif murah. Yakni, Rp 500 ribu per bulan. Memang hanya Titin yang menetap sementara di rumah di Dusun Gabus, Desa Mulyodadi, Wonoayu, itu. Namun, sepuluh temannya bebas beraktivitas di sana. Mulai mandi, memasak, hingga sekadar menambah daya baterai telepon genggam.


Sebagai perantau, berkumpul ketika loket belum dibuka jadi salah satu pembunuh waktu paling menyenangkan untuk mayoritas pegawai yang masih bujangan itu. Meski TV 21 inci di ruangan tersebut menyala, tidak ada yang benar-benar mengikuti reality show yang sedang tayang. Mereka sibuk mengolok-olok satu sama lain.


Titin memang mirip Bang Toyib, jarang pulang. Dia hanya bisa pulang saat jeda pindahan. Sepanjang tahun, kegiatannya di rumah bisa dihitung menggunakan jari. Dia pun mengaku sudah agak lupa dengan tetangganya. ’’Cuma kalau pengin (pulang, Red),” ujarnya enteng.


Padahal, Titin mengaku dulu sangat jarang keluar rumah. Ayahnya tidak mengizinkan anak perempuannya jauh-jauh dari rumah, bahkan untuk sekadar dolan.


Pulang sekolah, dia langsung pulang. Alun-Alun Bojonegoro saja baru dia ketahui setelah mengantarkan anaknya lomba melukis.


Sejak ikut AJP, Titin malah tidak kerasan di rumah. Dia berada di rumah paling lama tiga hari. Itu terjadi saat perayaan Hari Raya Idul Fitri lalu. Dia masih ingat betul. Ketika itu tetangganya bersiap menggerebek rumahnya di Desa Bakung, Kanor, Bojonegoro.


Saat itu dia pulang kampung bersama suaminya, M. Edi Pusanto. Tetangganya masih menganggap Titin seorang janda. Memang, baru 3 Januari 2017 dia menikah dengan pria yang akrab disapa Jali tersebut.


Karena suaminya jarang diajak ke kampung, tetangganya menganggap keduanya kumpul kebo. Beruntung, ketua RT mau mengklarifikasi. ’’Saya tunjukkan saja surat nikah,’’ jelasnya. Niat penggerebekan itu pun urung dilakukan.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore